Senin, 16 November 2009

Sektor logam butuh Rp10,5 triliun 'Belanja mesin pemerintah harus serap produk lokal'

TEGAL: Industri mesin dan logam membutuhkan investasi hingga Rp10,5 triliun untuk 5 tahun ke depan guna merevitalisasi sektor tersebut.

Proses revitalisasi ini untuk meningkatkan kapasitas produksi, pengadaan impor barang modal yang belum bisa diproduksi di dalam negeri, proses standardisasi, perluasan dan penguatan akses pasar, pengembangan riset dan teknologi, hingga pembentukan klaster industri mesin dan logam skala nasional.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Departemen Perindustrian Fauzi Aziz mengatakan industri logam dan mesin di Indonesia didominasi sektor IKM.

Dari sekitar 7.541 unit usaha, sebanyak 37,72% atau 2.844 unit usaha mesin dan logam terpusat di Tegal, Jateng.

Dengan nilai revitalisasi itu, setiap perusahaan membutuhkan tambahan modal Rp1,39 miliar. Fauzi menerangkan proses revitalisasi ini dimulai dengan pembentukan pusat industri mesin dan produk logam di Tegal yang digagas Depperin, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Pemkab Tegal.

Selama ini, jelasnya, daya saing di sektor ini masih rendah karena tidak adanya dukungan teknologi dan inovasi, rendahnya penambahan investasi baru akibat minimnya dukungan perbankan, ketidakpastian pasokan listrik hingga masalah standar mutu yang terbatas.

Rendahnya daya saing menyebabkan produk-produk logam dan mesin dari industri lokal tergerus impor produk jadi asal China.

Saat ini, kinerja industri logam dan mesin selama beberapa tahun terakhir menurun tajam.

Direktur PT Nefa Global Industri Aran D. Pusponegoro-produsen pengecoran dan mesin pertanian/alsintan di dalam negeri-mengungkapkan pihaknya sudah tak mampu menjual traktor di Pulau Jawa karena kalah bersaing dengan para pemegang merek global seperti Kubota.

"Pada akhirnya kami hanya menggarap pasar di luar Jawa seperti Nusa Tenggara. Selama ini kami hanya menggantungkan order sehingga tak berani berproduksi massal. Padahal tingkat kandungan lokal kami sudah mencapai 78%," ujarnya.

Keberpihakan

Menurut Fauzi, revitalisasi industri logam dan mesin membutuhkan keberpihakan semua para pemangku kepentingan. Depperin, katanya, terus berupaya agar belanja pemerintah untuk pengadaan barang dan jasa salah satunya harus menyerap mesin dari industri lokal.

"Untuk mendorong pertumbuhan industri logam dan mesin, salah satu yang terpenting adalah terbukanya akses pasar. Jika pasar lokal diisi produk impor, belanja modal BUMN untuk pengadaan genset dan produk-produk pertanian jangan lagi mengandalkan impor," katanya.

Karena itu, jelasnya, Depperin berharap implementasi Keppres No. 80/ 2003 tentang belanja pemerintah dan Inpres No. 2/2009 tentang P3DN (Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri) harus konsisten.

Kepala BPPT Marzan Azis Iskandar berjanji akan mengatasi seluruh hambatan (bottlenecking) birokrasi dan memperbaiki sistem pendidikan, pelatihan, dan riset untuk mendorong program Riset Unggulan Nasional (Rusnas).

"Tujuan utama mewujudkan Tegal sebagai basis industri mesin nasional agar Indonesia mampu melakukan substitusi industri sehingga bisa mengurangi ketergantungan impor mesin dan barang logam yang sangat besar," ujarnya.

Berdasarkan catatan Depperin, total tenaga kerja yang terserap di sektor logam dan mesin hingga akhir 2008 mencapai 36.236 orang. Industri logam dan mesin terdiri dari subsektor pengecoran ferro (besi), dan nonferro, permesinan, pengerjaan pelat, konstruksi dan pengelasan, serta pelapisan logam.

Industri logam di Indonesia berkonsentrasi pada pembuatan produk akhir (peralatan rmah tangga dan peralatan pertanian) dan produk setengah jadi (komponen) seperti traktor tangan, penghancur sampah, mesin pertanian, lemari es, kereta api, otomotif, alat berat, pompa air, hydrant, perkapalan, perlengkapan perumahan, alat-alat rumah tangga dan alat kesehatan. ( Yusuf Waluyo Jati/Bisnis Indonesia).













Tidak ada komentar: