Selasa, 08 Desember 2009
Biaya pengiriman peti kemas diprediksi naik tipis
Hub port Bitung tunggu kawasan pendukung
'Kenaikan tarif behandle agar ditunda' Menhub minta penyesuaian biaya diterapkan pada 2010
Selasa, 08/12/2009
JAKARTA: Menteri Perhubungan Freddy Numberi meminta manajemen PT Pelabuhan Indonesia II menunda kenaikan tarif jasa pelayanan peti kemas yang melalui pemeriksaan fisik atau behandle dari Jakarta International Container Terminal (JICT) dan TPK Koja.
Menhub menegaskan tarif jasa di seluruh pelabuhan, termasuk di Pelabuhan Tanjung Priok, harus terjangkau oleh para pengguna jasa, sehingga arus lalu lintas barang dan peti kemas tidak terganggu.
"Kenaikan tarif nanti dulu, belum bisa dilakukan sekarang. Di pelabuhan harus menerapkan ekonomi yang terjangkau dan pemerintah juga sudah memberikan subsidi yang nilainya cukup besar kepada Pelindo," katanya seusai membuka rapat kerja dan rapat koordinasi Dephub, kemarin.
Namun, Freddy menuturkan kalau memang Pelindo II menilai tarif pelayanan peti kemas behandle harus dinaikkan, rencana itu kemungkinan bisa diterapkan pada tahun depan.
"Kalau memang mau naik, kita lihat nanti setelah tahun baru. Pembahasan juga harus melibatkan pemegang kepentingan," katanya.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Pelindo II Richard J. Lino mengatakan pihaknya saat ini belum memastikan kenaikan tarif peti kemas behandle di Pelabuhan Tanjung Priok karena masih melakukan evaluasi bersama dengan pemegang kepentingan lainnya.
Menurut dia, kenaikan tarif behandle memang membutuhkan momen yang tepat agar tidak mengganggu aktivitas di pelabuhan.
"Kami kan belum menentukan apakah tarif itu naik atau tidak. Namun, memang seharusnya naik karena sejak 2002 tarif tidak mengalami perubahan, sementara harga jual barang-barang sekarang sudah naik. Kami cari momen yang tepat," tegas Lino.
Dia memaparkan pihaknya juga akan mengakomodasi usulan Menhub terkait dengan penundaan tarif behandle hingga tahun depan.
Lino mengungkapkan besaran kenaikan tarif itu masih dalam pembahasan bersama dengan pemangku kepentingan, termasuk sejumlah pelaku usaha yang diwakili oleh asosiasi terkait di pelabuhan.
Dia menjanjikan apabila tarif behandle diputuskan naik, Pelindo II juga akan meningkatkan kinerja sumber daya manusia dan pelayanan sehingga kegiatan bongkar muat dapat lebih efisien dan produktif.
"Kalau Menhub bilang setelah tahun baru, ya itu bisa saja. Yang jelas tarif masih dievaluasi, tetapi kemungkinan memang naik karena sejak dahulu tidak pernah naik. Harus disesuaikan," katanya.
Butuh insentif
Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Johnson W. Sutjipto mengatakan seharusnya operator pelabuhan memberikan insentif kepada usaha pelayaran, bukan justru menaikkan tarif karena saat ini muatan angkutan barang masih langka sebagai dampak krisis perekonomian global.
Dia juga mengharapkan biaya yang berkaitan dengan kepelabuhanan tidak mengalami kenaikan selama dampak krisis ekonomi global masih dirasakan. "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menaikkan tarif," tegasnya.
Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) juga menolak rencana PT Pelindo II menaikkan tarif jasa pelayanan peti kemas yang melalui pemeriksaan fisik dari terminal JICT dan TPK Koja.
Ketua Umum Depalindo Toto Dirgantoro mengatakan penolakan telah disampaikan secara tertulis kepada Dirut Pelindo II melalui surat No.09/12/2009 tertanggal 1 Desember 2009.
"Tidak ada alasan menaikkan tarif karena kegiatan behandle merupakan fasilitas yag harus disiapkan oleh operator pelabuhan," tegasnya.
Sumber Bisnis yang juga pelaku usaha di Pelabuhan Tanjung Priok mengungkapkan tarif jasa kegiatan pemindahan peti kemas yang harus melalui pemeriksaan fisik di JICT telah diusulkan naik setelah memperoleh persetujuan dari asosiasi pemilik barang di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.
Dia menjelaskan pembahasan tarif pemindahan peti kemas behandle sudah beberapa kali dilakukan antara pengelola terminal peti kemas JICT dan perwakilan asosiasi pemilik barang di Pelabuhan Tanjung Priok sejak awal bulan ini. (k1/Junaidi Halik/Raydion Subiantoro/
Bisnis Indonesia)