Selasa, 08 Desember 2009

Biaya pengiriman peti kemas diprediksi naik tipis

JAKARTA: Tarif pengiriman peti kemas dari Pelabuhan Tanjung Priok diperkirakan tidak meningkat signifikan pada tahun depan kendati perekonomian global mulai membaik.Ketua Bidang Kontainer Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Hery Asmari mengatakan pengusaha pelayaran hanya berharap pada tahun depan tidak lagi mengalami kerugian seperti yang terjadi pada tahun ini."Pada tahun depan memang akan ada perbaikan dalam hal volume angkut. Seberapa besarnya, saat ini perusahaan pelayaran sedang menghitung. Yang jelas, kami tidak memasang target terlalu tinggi, balik modal saja sudah cukup baik," katanya, akhir pekan lalu.Dia mengungkapkan pada tahun ini seluruh perusahaan pelayaran mengalami kerugian akibat anjloknya volume kiriman, sekaligus memicu penurunan tarif pengiriman peti kemas secara drastis.Pada November 2009, tarif kiriman untuk peti kemas 20 kaki untuk tujuan Eropa berkisar US$1.000-US$1.300 per TEUs. Adapun, untuk tujuan Asean US$100-US$200 per TEUs, sedangkan ke Jepang dan Korea Selatan sekitar US$700 per TEUs.Untuk peti kemas 40 kaki tujuan Eropa, tarifnya US$1.500-US$1.950 per TEUs, sedangkan ke Asean US$150-US$300 per TEUs dan ke Jepang serta Korea Selatan US$1.050 per TEUs.Menurut Hery, tarif-tarif itu sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi pada pertengahan 2009, tetapi tidak lebih baik daripada kondisi 2008."Pada tahun ini rata-rata perusahaan pelayaran mengalami kerugian karena tidak ada barang yang diangkut. Berbeda dengan kondisi 2008, banyak pelayaran yang untung meskipun ada juga yang rugi. Kami berharap pada 2010 masih ada perusahaan pelayaran yang untung," paparnya.Sebelumnya, dia mengungkapkan pada tahun ini sejumlah perusahaan pelayaran lokal yang beroperasi di beberapa pelabuhan sudah mulai mengandangkan kapalnya untuk menghemat biaya operasional karena kelangkaan barang muatan.INSA, lanjutnya, berharap pada 2010 perusahaan pelayaran sudah bisa memanfaatkan secara maksimal armada kapalnya. "Kami perkirakan sudah ada yang beroperasi kembali seiring dengan membaiknya perekonomian dunia," katanya.Ketua Umum INSA Johnson W. Sutjipto memaparkan akibat minimnya barang muatan, secara global jumlah kapal yang tidak dioperasikan pada tahun ini hingga 28 September 2009 sebanyak 548 unit dengan kapasitas angkut 1,29 juta TEUs."Kapal yang tidak beroperasi itu sama dengan 10% dari total armada seluruh dunia. Kalau di Indonesia, kami belum mendata secara pasti jumlah kapal yang tidak dioperasikan," katanya.Oleh Raydion SubiantoroBisnis Indonesia

Hub port Bitung tunggu kawasan pendukung

MANADO: Pengembangan Bitung, Sulawesi Utara, menjadi pelabuhan pengumpul atau hub port internasional membutuhkan kawasan penyangga (hinterland).Meneg BUMN Mustafa Abubakar mengatakan Bitung berpotensi dikembangkan menjadi pelabuhan pengumpul karena berada di ambang pelayaran internasional."Namun, pelabuhan laut ini belum kuat, masih membutuhkan hinterland. Kalau hinterland-nya kuat, Bitung akan potensial menjadi hub port," katanya.Dia mengungkapkan hal itu dalam seminar nasional bertema Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Pertumbuhan Sektor Riil pada Kongres Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ke-18 yang digelar di Manado, kemarin.Pelabuhan Bitung saat ini dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV, salah satu BUMN kepelabuhanan.Mustafa mengatakan kawasan timur Indonesia (KTI) membutuhkan pelabuhan pengumpul internasional untuk mendorong perkembangan ekonomi. "Kawasan timur memang butuh hub port. Merauke, misalnya, perlu pelabuhan pengumpul untuk in and out [ekspor impor] komoditas tertentu yang potensial, seperti beras atau komoditas lain," ujarnya.Dia mengusulkan pelabuhan di Merauke mengembangkan kawasan khusus atau estate dan dibangun secara ekstensif."Pembangunannya jangan tanggung-tanggung supaya bisa berkembang dan ada komoditas yang dikapalkan," tegas Mustafa.Dia menambahkan Sulut perlu mengembangkan industri tertentu sebagai penopang Bitung. "Misalnya produk perikanan dijadikan unggulan, supaya ada komoditas yang benar-benar dapat dikapalkan dari Bitung," katanya.Industri unggulan itu, lanjutnya, harus didukung infrastruktur yang memadai, termasuk akses jalan dan pasokan listrik untuk industri terkait, seperti pengawetan ikan (cold storage) dan pengalengan.Bitung merupakan salah satu pelabuhan yang masuk dalam jalur pelayaran internasional di KTI.PT Pelindo IV akan memperpanjang dermaga peti kemas Bitung agar bisa melayani kegiatan sandar dua kapal berbobot 400 ton sekaligus.Oleh Hery LazuardiBisnis Indonesia

'Kenaikan tarif behandle agar ditunda' Menhub minta penyesuaian biaya diterapkan pada 2010

Selasa, 08/12/2009

JAKARTA: Menteri Perhubungan Freddy Numberi meminta manajemen PT Pelabuhan Indonesia II menunda kenaikan tarif jasa pelayanan peti kemas yang melalui pemeriksaan fisik atau behandle dari Jakarta International Container Terminal (JICT) dan TPK Koja.

Menhub menegaskan tarif jasa di seluruh pelabuhan, termasuk di Pelabuhan Tanjung Priok, harus terjangkau oleh para pengguna jasa, sehingga arus lalu lintas barang dan peti kemas tidak terganggu.

"Kenaikan tarif nanti dulu, belum bisa dilakukan sekarang. Di pelabuhan harus menerapkan ekonomi yang terjangkau dan pemerintah juga sudah memberikan subsidi yang nilainya cukup besar kepada Pelindo," katanya seusai membuka rapat kerja dan rapat koordinasi Dephub, kemarin.

Namun, Freddy menuturkan kalau memang Pelindo II menilai tarif pelayanan peti kemas behandle harus dinaikkan, rencana itu kemungkinan bisa diterapkan pada tahun depan.

"Kalau memang mau naik, kita lihat nanti setelah tahun baru. Pembahasan juga harus melibatkan pemegang kepentingan," katanya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Pelindo II Richard J. Lino mengatakan pihaknya saat ini belum memastikan kenaikan tarif peti kemas behandle di Pelabuhan Tanjung Priok karena masih melakukan evaluasi bersama dengan pemegang kepentingan lainnya.

Menurut dia, kenaikan tarif behandle memang membutuhkan momen yang tepat agar tidak mengganggu aktivitas di pelabuhan.

"Kami kan belum menentukan apakah tarif itu naik atau tidak. Namun, memang seharusnya naik karena sejak 2002 tarif tidak mengalami perubahan, sementara harga jual barang-barang sekarang sudah naik. Kami cari momen yang tepat," tegas Lino.

Dia memaparkan pihaknya juga akan mengakomodasi usulan Menhub terkait dengan penundaan tarif behandle hingga tahun depan.

Lino mengungkapkan besaran kenaikan tarif itu masih dalam pembahasan bersama dengan pemangku kepentingan, termasuk sejumlah pelaku usaha yang diwakili oleh asosiasi terkait di pelabuhan.

Dia menjanjikan apabila tarif behandle diputuskan naik, Pelindo II juga akan meningkatkan kinerja sumber daya manusia dan pelayanan sehingga kegiatan bongkar muat dapat lebih efisien dan produktif.

"Kalau Menhub bilang setelah tahun baru, ya itu bisa saja. Yang jelas tarif masih dievaluasi, tetapi kemungkinan memang naik karena sejak dahulu tidak pernah naik. Harus disesuaikan," katanya.

Butuh insentif

Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Johnson W. Sutjipto mengatakan seharusnya operator pelabuhan memberikan insentif kepada usaha pelayaran, bukan justru menaikkan tarif karena saat ini muatan angkutan barang masih langka sebagai dampak krisis perekonomian global.

Dia juga mengharapkan biaya yang berkaitan dengan kepelabuhanan tidak mengalami kenaikan selama dampak krisis ekonomi global masih dirasakan. "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menaikkan tarif," tegasnya.

Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) juga menolak rencana PT Pelindo II menaikkan tarif jasa pelayanan peti kemas yang melalui pemeriksaan fisik dari terminal JICT dan TPK Koja.

Ketua Umum Depalindo Toto Dirgantoro mengatakan penolakan telah disampaikan secara tertulis kepada Dirut Pelindo II melalui surat No.09/12/2009 tertanggal 1 Desember 2009.

"Tidak ada alasan menaikkan tarif karena kegiatan behandle merupakan fasilitas yag harus disiapkan oleh operator pelabuhan," tegasnya.

Sumber Bisnis yang juga pelaku usaha di Pelabuhan Tanjung Priok mengungkapkan tarif jasa kegiatan pemindahan peti kemas yang harus melalui pemeriksaan fisik di JICT telah diusulkan naik setelah memperoleh persetujuan dari asosiasi pemilik barang di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Dia menjelaskan pembahasan tarif pemindahan peti kemas behandle sudah beberapa kali dilakukan antara pengelola terminal peti kemas JICT dan perwakilan asosiasi pemilik barang di Pelabuhan Tanjung Priok sejak awal bulan ini. (k1/Junaidi Halik/Raydion Subiantoro/
Bisnis Indonesia)