Kamis, 22 April 2010

Mendesak implementasi ISPS di Tanjung Priok

Rabu, 21/04/2010
JAKARTA (Bisnis.com): Implementasi The International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code di pelabuhan Tanjung Priok akan mempercepat dikeluarkannya pelabuhan itu dari daftar zona risiko perang (war risk zone).

Hingga saat ini pelabuhan Tanjung Priok masuk ke dalam zona war risk sehingga setiap kapal luar negeri yang akan masuk dikenakan biaya asuransi tambahan di luar premi tetap sebesar 0,00125% per perjalanan dari nilai kapal.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Johson W. Sutjipto mengatakan upaya PT Pelindo II untuk menerapkan ISPS Code di pelabuhan Tanjung Priok dapat membantu pemerintah mengeluarkan pelabuhan itu dari war risk zone.

Dia menjelaskan organisasinya sudah membahas masalah pencabutan war risk Tanjung Priok dan Belawan dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). "Penerapan ISPS Code makin memudahkan Priok keluar dari daftar war risk," katanya kepada Bisnis.com, sore ini.

Johnson menambahkan selain Tanjung Priok, kawasan yang masuk dalam daftar war risk adalah Kalimantan, khususnya Balikpapan serta sebelah utara pantai timur Kudat dan Tarakan.

ISPS Code merupakan perangkat aturan untuk mengamankan kapal dan fasilitas pelabuhan di seluruh dunia. Ketentuan ini muncul setelah terjadinya serangan 9 September 2001 di Amerika Serikat.

Aturan internasional ini disetujui melalui penandatanganan konvensi Safety Of Life At Sea (SOLAS) di London pada Desember 2002. ISPS Code diberlakukan di seluruh dunia sejak 1 Juli 2004. termasuk pelabuhan internasional di Indonesia.

Sebagai pelabuhan Internasional, Tanjung Priok, termasuk terminal peti kemas (TPK) Koja harus mendapatkan sertifikat ISPS Code yang dikeluarkan oleh IMO (International Maritime Organization). (msw)

PT KAI Impor Kereta Bekas dari Jepang

Rabu, 21/04/2010
JAKARTA: PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) sore ini menerima sebanyak 10 unit kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang, yang berpendingin udara dan berbahan dasar alumunium.

Direktur Utama KCJ Bambang Wibiyanto menuturkan pengiriman hari ini merupakan pengapalan tahap pertama, yang didatangkan langsung dari Jepang, menggunakan kapal berbendera Panama.

"Tahap pertama 10 unit KRL. Tahap ke II pada Mei dan tahap III pada Juni, masing-masing 10 KRL juga. Begitu seterusnya. Total, pada tahun ini kami mendatangkan 90 unit KRL dari Jepang," katanya saat menyambut datangnya KRL bekas itu di Pelabuhan Tanjung Priok, sore ini.

Dia menuturkan KCJ akan mengoperasikan KRL bekas senilai Rp1 miliar per unit itu di sejumlah lintasan padat yakni Bogor-Jakarta Kota, serta lalu lintas arah Serpong.

Bambang memaparkan KRL itu produksi 1980, dan diperkirakan masa hidupnya (life cycle) masih 20 tahun ke depan. Saat ini, tutur dia, KRL tertua yang dioperasikan KCJ diproduksi pada 1976.

"Dengan adanya tambahan hingga 90 unit KRL, semoga bisa menjawab tantangan pelanggan yang menuntut pelayanan lebih baik," papar dia.

Selain membeli KRL bekas dari Jepang, rencananya Kementerian Perhubungan juga akan memberikan bantuan sebanyak 8 unit KRL produksi PT Industri Kereta Api (Inka).(msw)

Pelindo II incar pendapatan Rp3,4 triliun

Kamis, 22/04/2010
JAKARTA: PT Pelabuhan Indonesia II memacu produktivitas pelabuhan yang dikelolanya untuk memenuhi target pendapatan sebesar Rp3,4 triliun pada tahun ini.

Direktur Utama PT Pelindo II R.J. Lino mengatakan target pendapatan tahun ini diyakini tercapai, bahkan berpotensi terlampaui karena tingkat produktivitas pelabuhan yang dikelola oleh BUMN itu sudah meningkat.

"Hampir semua pelabuhan di bawah Pelindo II hingga triwulan I tahun ini mampu menaikkan target pendapatan. Pelabuhan Bengkulu, misalnya, dari target pendapatan pada 3 bulan pertama 2010 sebesar Rp2,7 miliar, realisasinya mencapai Rp10 miliar," katanya kepada Bisnis kemarin.

Lino mengungkapkan Pelindo II menyiapkan investasi Rp3,7 triliun di antaranya untuk pengadaan alat pemindah peti kemas di pelabuhan dengan kapasitas dua kontainer sekaligus dan pengadaan kapal.

Menurut dia, dari dana itu, sebesar Rp2,7 triliun dikucurkan pada tahun ini, sedangkan sisanya dibayarkan pada awal 2011. "Investasi sebesar itu untuk memacu produktivitas pelabuhan di lingkungan Pelindo II," tegasnya.

Dia menambahkan dengan berinvestasi Rp3,7 triliun diharapkan produktivitas pelabuhan naik hingga dua kali lipat dibandingkan dengan kondisi sekarang, apalagi didukung oleh kebijakan pemerintah yang menetapkan pengoperasian pelabuhan selama 24 jam setiap hari.

"Sebelumnya, pelabuhan di Indonesia hanya beroperasi sampai pukul 17.00 sehingga produktivitasnya rendah. Sekarang semua pelabuhan di bawah Pelindo II kami siapkan untuk beroperasi 24 jam setiap hari," ujarnya.

Selama 2009, Pelindo II meraup pendapatan sebesar Rp3,3 triliun dengan laba bersih Rp1,09 triliun, sedangkan laba bersih pada 2008 tercatat Rp1,05 triliun dengan total pendapatan Rp2,3 triliun.

Saat ini, Pelindo II mengoperasikan 11 pelabuhan, yakni Tanjung Priok, Pangkalbalam, Sunda Kelapa, Tanjungpandan, Panjang, Jambi, Palembang, Teluk Bayur, Pontianak, Banten, dan Cilegon.

Menurut Lino, dari 11 pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo II, yang belum menghasilkan laba hingga tahun lalu hanya dua pelabuhan, yakni Sunda Kelapa dan Jambi.

"Kami harapkan pada tahun ini semua pelabuhan [di bawah Pelindo II] bisa menghasilkan laba," katanya.

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mendesak pemerintah lebih serius membenahi infrastruktur kepelabuhanan, terutama di kawasan timur Indonesia (KTI) karena produktivitasnya sangat rendah.

Wakil Ketua Komite Tetap Perhubungan Laut dan Pelabuhan Kadin Anwar Sata mengungkapkan sebagian besar pelabuhan di KTI memiliki produktivitas yang rendah sehingga biaya angkut ke kawasan itu membengkak signifikan.

Selain itu, paparnya, waktu operasi sebagian besar pelabuhan di KTI juga terbatas, yakni hanya 7 jam per hari, padahal semakin lama waktu bongkar muat, biaya yang dikeluarkan pelayaran juga semakin besar. (k1)