JAKARTA: Perusahaan angkutan penyeberangan mewaspadai pergerakan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh US$70 per barel sebelum turun ke level US$68 per barel pada pekan lalu.Ketua Bidang Angkutan Penyeberangan Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Soni Matufani mengatakan pergerakan harga minyak mentah dunia patut diwaspadai karena berpengaruh terhadap pasar."Namun, dampak kenaikan [harga] itu bisa direm jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM di dalam negeri. Kami mewaspadai kenaikan itu, tetapi berharap BBM domestik tidak naik," katanya baru-baru ini. (Bisnis/aji)
Kamis, 02 Juli 2009
Kerugian Pelni ditekan Rp40,38 miliar
JAKARTA: PT Pelayaran Nasional Indonesia menargetkan dapat menurunkan angka kerugian perseroan sebesar Rp40,38 miliar menjadi Rp14,99 miliar pada tahun ini dibandingkan dengan kerugian 2008 Rp55,37 miliar.Kepala Humas PT Pelni Edi Haryadi mengatakan salah satu upaya untuk menekan angka kerugian itu dengan menggarap layanan angkutan kontainer melalui modifikasi dua armada kapal sehingga bisa berfungsi ganda mengangkut penumpang dan peti kemas.Menurut dia, kebijakan itu ditempuh sejalan dengan komitmen manajemen untuk menekan kerugian perseroan, apalagi pemerintah menuntut BUMN pelayaran itu bisa mencetak laba."Dalam 3 tahun terakhir, manajemen PT Pelni telah berhasil menekan angka kerugian secara signifikan baik melalui efisiensi maupun restrukturisasi rute kapal Pelni," katanya kepada Bisnis, kemarin.Pada 2006, PT Pelni rugi Rp159,88 miliar, tetapi setahun kemudian kerugiannya ditekan menjadi Rp90,25 miliar dan pada 2008 hanya Rp55,37 miliar.Edi menjelaskan konsep pengembangan armada menjadi angkutan kontainer dalam rangka mendukung visi PT Pelni yang mengarahkan setiap kapal yang dioperasikan bisa menutupi kebutuhan biaya operasional, bahkan mencetak keuntungan.Sejauh ini, PT Pelni baru memiliki satu unit armada yang melayani angkutan penumpang dan barang sekaligus atau dikenal dengan two-in-one, yakni KM Gunung Dempo.Manajemen BUMN itu menargetkan modifikasi dua armada kapal berfungsi ganda itu selesai pada semester II/ 2009 sehingga layanan angkutan kontainer dapat dimulai pada tahun ini.Edi mengungkapkan dua armada yang dimodifikasi adalah KM Ciremai dan KM Dabonsolo. "Rekondisi ini dilakukan menyusul rendahnya tingkat isian [load factor] kapal pada rute yang selama ini dilayani. Targetnya selesai pada tahun ini." Katanya.KM Ciremai selama ini melayani rute Kijang-Jakarta-Surabaya-Makassar-Bau-Bau-Ambon-Banda-Tual-Kaimana-Fak-Fak-Tual-Banda-Ambon-Bau-Bau-Makassar.Adapun, KM Dobonsolo melayani rute Kijang-Jakarta-Surabaya-Pare-Pare-Balikpapan-Pantololan-Toli-Toli-Tarakan-Nunukan-Toli-Toli-Pantololan-Balikpapan-Pare-Pare-Makassar-Surabaya-Jakarta-Kijang.
Oleh TularjiBisnis Indonesia
'Permudah kredit angkutan'
JAKARTA: Pengusaha angkutan darat mendesak lembaga pembiayaan dan perbankan memperpanjang tenor pembiayaan dari rata-rata 4 tahun menjadi 5-7 tahun.Ketua Bidang Angkutan dan Prasarana DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda) Rudy Thehamiharja mengatakan tenor pembiayaan selama 4 tahun itu menyulitkan pengusaha untuk memenuhi tenggat kewajiban pembayaran."Soalnya, iklim berusaha di sektor transportasi umum darat sedang redup seiring dengan berkembangnya moda transportasi lain, dan semakin ketatnya persaingan antaroperator," katanya kemarin. (Bisnis/aji)
ADB & GTZ bantu perbaikan jalan lintas Kalimantan
JAKARTA: Asian Development Bank (ADB) dan German Agency for Technical Cooperation (GTZ) membantu perbaikan jalan antarnegara di lintas utara Kalimantan dari Pontianak hingga Entikong sepanjang 309 km.Perbaikan jalan itu direncanakan dimulai tahun ini dan diharapkan dapat memacu pertumbuhan investasi, distribusi barang, dan sektor pariwisata di kawasan tersebut.Direktur Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan Suroyo Alimoeso mengatakan komitmen ADB dan GTZ itu terungkap dalam pertemuan empat menteri bidang transportasi negara anggota Asean di Manado, Sulawesi Selatan, pada 23-25 Juni 2009.Empat menteri yang tergabung dalam kerja sama BIMP-EAGA (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Filipina-East Asian Growth Area) itu sepakat meningkatkan kerja sama ekonomi antara keempat negara.Salah satu upaya meningkatkan kerja sama tersebut, kata Suroyo, adalah memacu kegiatan transportasi, termasuk transportasi darat.Menurut dia, peningkatan jalan Pontianak-Entikong akan mendukung transportasi angkutan umum penumpang dan barang melalui darat dari Indonesia ke Malaysia dan Brunei Darussalam."Dari pertemuan BIMP-EAGA terungkap untuk memacu perkembangan investasi, distribusi barang dan pariwisata, jalan Pontianak-Entikong akan di-upgrade oleh ADB dan GTZ," katanya kepada Bisnis, kemarin.Suroyo menjelaskan jalan penghubung antarnegara merupakan ruas yang paling strategis untuk transportasi barang dan penumpang karena sejumlah kota, seperti Kuching (Sarawak), Kinabalu (Sabah), dan Bandar Sri Begawan melalui jalur tersebut.Menurut dia, perbaikan jalan itu bisa memacu kegiatan ekspor Indonesia ke Brunei dan Sabah sehingga terjadi interaksi perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan Barat, termasuk mempermudah transportasi tenaga kerja Indonesia (TKI).April tahun lalu, Dephub telah melayangkan surat kepada Departemen Pekerjaan Umum yang isinya meminta kerusakan jalan di lintas batas Indonesia-Malaysia (Pontianak-Entikong) segera diperbaiki.
Oleh TularjiBisnis Indonesia
Garuda incar pendapatan Rp22,3 triliun
JAKARTA: PT Garuda Indonesia menargetkan pendapatan tahun ini Rp22,31 triliun atau naik 15% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu, didorong kerja sama dengan sejumlah perusahaan di Indonesia.Direktur Pemasaran Garuda Agus Priyanto mengatakan target itu dipastikan terpenuhi setelah tercapai kesepakatan kerja sama dengan 390 perusahaan dari target 500 perusahaan domestik."Yang jelas, target tahun ini pendapatan dan laba operasi bisa lebih tinggi 15% dibandingkan dengan pencapaian pada 2008," katanya kemarin.Menurut dia, pendapatan dari kerja sama dengan perusahaan lain dapat memberikan sumbangan hingga Rp600 miliar selama tahun ini atau naik 20% dibandingkan dengan kontribusi pada periode yang sama 2008.Saat ini, Garuda menjalin kerja sama dengan 391 perusahaan mitra, yang terdiri dari 330 corporate account dan 60 corporate direct.Kerja sama corporate account antara lain dengan Pertamina, Bank Mandiri, Telkomsel, Medco, Total EP, Freeport, Astra Internasional, Indosat, Trakindo, Siemens, dan Pupuk Kaltim. Adapun kerja sama corporate direct meliputi asosiasi profesi, yayasan, dan sebagainya.Untuk memperluas pasar korporasi, kata Agus, pihaknya menjalin kerja sama corporate sales dengan Ikatan Notaris Indonesia (INI). Kerja sama itu memungkinkan anggota INI dan keluarganya menggunakan penerbangan Garuda pada rute domestik dan internasional dengan potongan harga dan layanan khusus.Agus memaparkan pihaknya menggarap pasar korporasi sejak 6 tahun lalu karena segmen ini dinilai sangat potensial.Dia melanjutkan pihaknya berupaya mempermudah akses bagi korporasi melalui fasilitas Garuda Online Booking Corporate dan mengembangkan pasar korporasi di kantor cabang luar negeri.Ketua INI Adrian Djuaini menyatakan pihaknya menyambut baik kerja sama kedua institusi itu agar membantu anggota, keluarga, dan relasi asosiasi."Melalui perjanjian ini, seluruh anggota INI akan menjadi lebih terjamin dan mendapatkan kemu dahan dalam melakukan perjalanan udara, baik perjalanan bisnis maupun liburan," kata Adrian.Pesawat baruGaruda memulai penerbangan perdana pesawat baru Boeing 737-800NG dari Bandara Boeing Field di Seattle, Amerika Serikat, pada Selasa pagi waktu setempat, setelah acara serah terima kunci pesawat dari Boeing.Penerbangan dari Boeing Field menuju Honolulu, Hawaii, dimulai pada pukul 9.30 waktu setempat dengan lama penerbangan 4,5 jam. Dari Hawaii, pesawat itu melanjutkan penerbangan menuju Majuro di Marshal Islands sebelum menuju Jakarta melalui Biak, Papua.Penerbangan perdana dari pabrik Boeing itu sebelumnya ditandai dengan penyerahan kunci pesawat dari Vice President Boeing Commercial Airplane urusan China, Asia Timur dan Tenggara Robert Laird kepada Vice Presiden Asset Management Garuda Capt.Agus Wahyudo, disaksikan para teknisi dan awak kabin Garuda.Sebelumnya juga dilakukan pengguntingan pita merah sebagai salah satu tradisi penyerahan pesawat dari perusahaan pembuat pesawat terbang terbesar di dunia itu kepada pihak operator.
Oleh Hendra WibawaBisnis Indonesia
Kamis, 02/07/2009
Volume angkutan laut anjlok 35,4%Arus penumpang pesawat cenderung meningkat
Cetak
JAKARTA: Volume angkutan barang antarpulau melalui laut dalam 5 bulan pertama tahun ini anjlok 35,41% menjadi 45,5 juta ton dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 70,45 juta ton.Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan volume angkutan barang melalui laut selama Januari-Mei tahun ini terjadi di tiga pelabuhan utama, yakni Tanjung Priok Jakarta -1%, Tanjung Perak Surabaya 4,1%, dan Balikpapan -43,3%.Dua pelabuhan utama lainnya, yakni Pelabuhan Panjang Lampung dan Makassar mencatat peningkatan, masing-masing 30,3% dan 91,1%. Sementara itu, pelabuhan lainnya di Indonesia mencatat penurunan 42,8% selama 5 bulan pertama tahun ini.Meski demikian, secara bulanan (month-to-month), volume angkutan laut pada Mei hanya turun 1,99% menjadi 8,34 juta ton dibandingkan dengan bulan sebelumnya 8,51 juta ton.Pada Mei, menurut laporan itu, volume angkutan barang melalui Pelabuhan Tanjung Priok melonjak 36,5% dan Tanjung Perak naik 8,9%. Pelabuhan utama lainnya mencatat penurunan cukup signifikan, yakni Panjang -36,79%, Makassar -10,96%, dan Balikpapan 9,35%.BPS juga mengungkapkan jumlah penumpang angkutan laut pada Januari-Mei tahun ini turun 3,97% menjadi 2,25 juta orang, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 2,34 juta orang.Ketua Bidang Organisasi DPP Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Paulis Djohan terkejut dengan penurunan volume angkutan laut yang signifikan itu.Menurut dia, anjloknya volume kiriman lewat laut tidak terlepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang belum stabil akibat krisis keuangan global."Penurunan 35% itu besar sekali, tetapi saya rasa daya beli masyarakat Indonesia memang melemah, sehingga jumlah produksi barang pun berkurang, dan berakibat pada anjloknya volume kiriman lewat laut," katanya kemarin.Dia menolak anggapan penurunan volume angkutan laut disebabkan oleh moda tersebut kalah bersaing dengan moda angkutan lain, terutama pesawat yang makin serius menggeluti bisnis pengiriman akhir-akhir ini.Berbanding terbalikDeputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ali Rosidhi menuturkan penurunan jumlah penumpang di angkutan laut berbanding terbalik dengan kondisi di penerbangan."Jumlah penumpang domestik dan internasional meningkat pada Januari-Mei tahun ini. Penumpang domestik naik tipis 0,55% menjadi 13,46 juta orang, sementara penumpang internasional meningkat 3,85% menjadi 2,86 juta orang," paparnya.Jumlah penumpang pesawat pada Mei bahkan melonjak 12% menjadi 2,9 juta orang dari bulan sebelumnya 2,5 juta orang. Peningkatan arus penumpang terjadi hampir di semua bandar udara utama di Indonesia, yakni Soekarno-Hatta Jakarta 13,66%, Ngurah Rai Bali 22,29%, Juanda Surabaya 8,37%, Polonia Medan 6,34%, dan Hasanuddin Makassar 11,35%. Adapun arus penumpang di bandara lainnya tumbuh 11,36% pada bulan lalu.Sekjen Indonesian National Air Carrier Association (INACA) Tengku Burhanuddin mengatakan peningkatan arus penumpang itu dipicu oleh bergairahnya penerbangan rute domestik."Wisatawan dalam negeri yang biasanya berlibur ke luar negeri, sekarang lebih memilih wisata di dalam negeri karena nilai tukar yang melemah terhadap dolar AS. Jadi krisis ini ada berkahnya juga untuk penerbangan domestik," ujarnya.Data BPS menunjukkan arus penumpang pesawat rute internasional pada Mei tetap tumbuh 6,66% menjadi 629.200 orang dibandingkan dengan April 589.900 orang. Secara kumulatif 5 bulan pertama tahun ini, arus penumpang internasional juga naik 3,85% menjadi 2,86 juta orang dibandingkan dengan periode yang sama 2008 sebanyak 2,75 juta orang.
Volume angkutan laut anjlok 35,4%Arus penumpang pesawat cenderung meningkat
Cetak
JAKARTA: Volume angkutan barang antarpulau melalui laut dalam 5 bulan pertama tahun ini anjlok 35,41% menjadi 45,5 juta ton dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 70,45 juta ton.Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan volume angkutan barang melalui laut selama Januari-Mei tahun ini terjadi di tiga pelabuhan utama, yakni Tanjung Priok Jakarta -1%, Tanjung Perak Surabaya 4,1%, dan Balikpapan -43,3%.Dua pelabuhan utama lainnya, yakni Pelabuhan Panjang Lampung dan Makassar mencatat peningkatan, masing-masing 30,3% dan 91,1%. Sementara itu, pelabuhan lainnya di Indonesia mencatat penurunan 42,8% selama 5 bulan pertama tahun ini.Meski demikian, secara bulanan (month-to-month), volume angkutan laut pada Mei hanya turun 1,99% menjadi 8,34 juta ton dibandingkan dengan bulan sebelumnya 8,51 juta ton.Pada Mei, menurut laporan itu, volume angkutan barang melalui Pelabuhan Tanjung Priok melonjak 36,5% dan Tanjung Perak naik 8,9%. Pelabuhan utama lainnya mencatat penurunan cukup signifikan, yakni Panjang -36,79%, Makassar -10,96%, dan Balikpapan 9,35%.BPS juga mengungkapkan jumlah penumpang angkutan laut pada Januari-Mei tahun ini turun 3,97% menjadi 2,25 juta orang, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 2,34 juta orang.Ketua Bidang Organisasi DPP Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Paulis Djohan terkejut dengan penurunan volume angkutan laut yang signifikan itu.Menurut dia, anjloknya volume kiriman lewat laut tidak terlepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang belum stabil akibat krisis keuangan global."Penurunan 35% itu besar sekali, tetapi saya rasa daya beli masyarakat Indonesia memang melemah, sehingga jumlah produksi barang pun berkurang, dan berakibat pada anjloknya volume kiriman lewat laut," katanya kemarin.Dia menolak anggapan penurunan volume angkutan laut disebabkan oleh moda tersebut kalah bersaing dengan moda angkutan lain, terutama pesawat yang makin serius menggeluti bisnis pengiriman akhir-akhir ini.Berbanding terbalikDeputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ali Rosidhi menuturkan penurunan jumlah penumpang di angkutan laut berbanding terbalik dengan kondisi di penerbangan."Jumlah penumpang domestik dan internasional meningkat pada Januari-Mei tahun ini. Penumpang domestik naik tipis 0,55% menjadi 13,46 juta orang, sementara penumpang internasional meningkat 3,85% menjadi 2,86 juta orang," paparnya.Jumlah penumpang pesawat pada Mei bahkan melonjak 12% menjadi 2,9 juta orang dari bulan sebelumnya 2,5 juta orang. Peningkatan arus penumpang terjadi hampir di semua bandar udara utama di Indonesia, yakni Soekarno-Hatta Jakarta 13,66%, Ngurah Rai Bali 22,29%, Juanda Surabaya 8,37%, Polonia Medan 6,34%, dan Hasanuddin Makassar 11,35%. Adapun arus penumpang di bandara lainnya tumbuh 11,36% pada bulan lalu.Sekjen Indonesian National Air Carrier Association (INACA) Tengku Burhanuddin mengatakan peningkatan arus penumpang itu dipicu oleh bergairahnya penerbangan rute domestik."Wisatawan dalam negeri yang biasanya berlibur ke luar negeri, sekarang lebih memilih wisata di dalam negeri karena nilai tukar yang melemah terhadap dolar AS. Jadi krisis ini ada berkahnya juga untuk penerbangan domestik," ujarnya.Data BPS menunjukkan arus penumpang pesawat rute internasional pada Mei tetap tumbuh 6,66% menjadi 629.200 orang dibandingkan dengan April 589.900 orang. Secara kumulatif 5 bulan pertama tahun ini, arus penumpang internasional juga naik 3,85% menjadi 2,86 juta orang dibandingkan dengan periode yang sama 2008 sebanyak 2,75 juta orang.
(Hery Lazuardi) Bisnis Indonesia
Pasar kiriman logistik diprediksi Rp791 triliun
JAKARTA: Pasar kiriman logistik di Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp791 triliun atau 15% dari produk domestik bruto (PDB) yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp5.275,9 triliun.Kepala Unit Bisnis Strategis Logistik PT Pos Indonesia (Posindo) Setyo Riyanto mengungkapkan komponen biaya logistik atau pengiriman suatu produk ke pasar ritel berkisar 15%-20% dari harga jual barang itu ke konsumen."Jadi, dari harga jual barang di pasaran, sebesar 15%-20% adalah biaya logistik. Oleh karena itu, potensi bisnis logistik di Indonesia mencapai Rp791 triliun mengingat PDB Rp5.275,9 triliun," ujarnya seusai acara peluncuran kembali pusat pengumpul utama logistik Posindo di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, kemarin.Dia mengatakan dengan potensi pasar yang sangat besar itu, Posindo kembali menggarap bisnis logistik, setelah sempat vakum selama 6 bulan sejak Januari 2009. BUMN perposan itu, lanjutnya, akan mengaktifkan kembali 11 pusat pengumpul utama (main hub) yang tersebar di seluruh Indonesia.Setyo menjelaskan 11 main hub itu akan dilengkapi dengan sistem elektronik manajemen pergudangan dan pelacakan barang kiriman yang lebih modern, sehingga dapat melayani pelanggan dengan lebih efisien dan efektif.Dia memaparkan revitalisasi main hub akan selesai pada akhir tahun ini. Adapun, gudang pusat pengumpul barang kiriman milik Posindo itu tersebar di Medan, Batam, Palembang, Bekasi, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Balikpapan, Makassar, dan Jayapura.Selain 11 pusat penumpul utama, tutur Setyo, Posindo juga mempunyai hub di 22 provinsi dan 10 kota/kabupaten, serta titik layanan sebanyak 207 kantor pos yang didukung 3.345 kantor pos cabang. Namun, dia mengungkapkan Posindo tidak menargetkan meraih pasar besar di bisnis logistik pada tahun ini dengan hanya mematok pendapatan sebesar Rp300 miliar atau kurang dari 1% pangsa pasar. Wakil Direktur Utama Posindo I Ketut Mardjana mengungkapkan dana yang dikeluarkan dari kas perusahaan pelat merah itu untuk membenahi 11 gudang pengumpul utama logistik mencapai Rp20 miliar. “Nilai investasi dari dana kami sendiri cukup kecil karena kami juga bermitra dengan pihak ketiga yang menyediakan sistem modern itu. Bentuk kerja samanya menggunakan pola pembagian keuntungan,” katanya.
Oleh Raydion Subiantoro
Bisnis Indonesia
Bunker nonsubsidi lebih diminatiPenyaluran bunker bersubsidi diperketat
JAKARTA: Perusahaan pelayaran lebih memilih menggunakan bahan bakar kapal atau bunker dengan harga pasar sehingga penyaluran bunker bersubsidi belum optimal.Manuel Moniaga, Direktur PT Pagar Dewa Karya Utama perusahaan penyedia layanan bunker mengatakan operator kapal memilih menggunakan bunker nonsubsidi karena pelayanannya lebih cepat.Dia mengungkapkan kepercayaan operator kapal asing untuk melakukan bunker di pelabuhan-pelabuhan di Indonesia juga sudah mulai meningkat."Untuk di Pelabuhan Tanjung Priok saja rata-rata 5.000 ton per bulan untuk bunker kapal asing. Jumlah yang hampir sama juga terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya," katanya di sela-sela rapat umum anggota Asosiasi Pelayanan Bunker Indonesia (APBI) di Jakarta, kemarin.Rapat umum anggota (RUA) ke-1 itu diikuti oleh sejumlah perusahaan penyedia layanan bunker dari Jakarta dan Surabaya dengan mengambil tema Konsolidasi Menuju Pelayanan Bunker Setara Internasional.Sementara itu, pelaku usaha pelayaran nasional dan instansi terkait sektor angkutan laut diminta berperan aktif mengawasi penyaluran bahan bakar kapal bersubsidi untuk kapal penumpang, penyeberangan, dan angkutan kargo umum bermuatan bahan kebutuhan pokok.Manajer Industri & Marine PT Pertamina Gandhi Sriwidodo mengatakan bahan bakar kapal bersubsidi hingga saat ini masih tetap diberikan kepada operator kapal penumpang yang menerima dana public service obligation (PSO) dan kapal pengangkut barang-barang kebutuhan pokok masyarakat.Di sisi lain, paparnya, Pertamina akan tetap menjamin keberlangsungan penyaluran bahan bakar bersubsidi tersebut agar kegiatan angkutan laut bisa terus berjalan."Namun, yang terpenting pengawasan harus tetap ditingkatkan terhadap penyaluran bahan bakar bersubsidi itu. Jangan sampai jatuh ke pihak yang kurang tepat untuk menghindari penyalahgunaan atau kegiatan bunker ilegal," katanya.Dia menegaskan meskipun dikenakan harga subsidi, aktivitas pelayanan bunker terhadap kapal penumpang ataupun angkutan kargo umum tidak boleh terlambat."Diperlukan kecepatan pelayanan bunker untuk kedua kapal itu karena ketika angkutan itu terlambat, dampaknya akan meresahkan masyarakat," tutur Gandhi.KoordinasiOleh karena itu, paparnya, perusahaan pelayaran nasional dan anggota APBI diharapkan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum di laut, di antaranya Administrator Pelabuhan, Polri, dan TNI Angkatan Laut untuk mengawasi penyaluran bahan bakar kapal bersubsidi."Jika menemukan kegiatan penyaluran bahan bakar kapal di bawah harga yang sudah ditetapkan pertamina agar dilaporkan. Harmonisasi koordinasi antarinstansi dan pelaku bisnis terkait inilah yang mesti terus dilakukan," tegasnya.Ketua Umum APBI Jojok Moedijo mengatakan pengawasan atas bahan bakar kapal bersubsidi masih perlu ditingkatkan dengan melakukan sosialisasi kepada seluruh aparat terkait di pelabuhan.Dia mengungkapkan pengawasan terhadap penyaluran bahan bakar bersubsidi sudah diatur dalam UU No.22/2000 dan pihak kepolisian ataupun aparat di laut bisa melakukan tindakan jika menemukan pelanggaran.
Sumber : bisnis.com
Langganan:
Komentar (Atom)