Minggu, 04 April 2010

Konsep DTO butuh dukungan industri galangan

Senin, 05/04/2010 10:37:33 WIB
Oleh: Tularji

JAKARTA (Bisnis.com): Konsep domestic transporter obligation (DTO) yang mewajibkan end user atau pemilik barang mengalokasikan ruang angkutan ekspor untuk pelayaran dalam negeri memerlukan dukungan industri galangan.

Direktur Utama PT PANN Multifinance (Persero) Ibnu Wibowo mengatakan dukungan tersebut berupa adanya jaminan ketepatan waktu pengiriman kapal dari galangan pembangun di dalam negeri.

Sebab, katanya, delivery yang terlambat menyebabkan terjadinya tambahan biaya yang tidak sedikit. “Pengiriman kapal harus tepat waktu, kalaupun terlambat jangan ada tambahan biaya,” katanya kepada Bisnis.com, hari ini.

Sebelumnya, pemerintah dinilai perlu menetapkan kebijakan DTO sebesar 30% dari total muatan ekspor untuk memberdayakan industri galangan dan menggairahkan sektor pengangkutan laut nasional pasca implementasi asas cabotage.

Kebijakan DTO dinilai akan menguntungkan Indonesia karena devisa yang mengalir keluar dari nilai biaya angkut yang selama ini dinikmati oleh pelayaran asing bisa terselamatkan hingga 30%.

Selain itu kebijakan tersebut akan menggairahkan industri galangan nasional karena pembatasan tersebut akan memaksa pelayaran melakukan pengadaan kapal seperti jenis handymax dalam rangka memenuhi permintaan pengangkutan batu bara ekspor.

Ibnu mencontohkan kebijakan penerapan DTO untuk komoditas batu bara sebesar 30% dari total ekspor batu bara nasional sekitar 220 juta ton per tahun dapat menyelamatkan arus devisa yang mengalir keluar melalui ongkos angkut hingga mencapai US$1,98 miliar.

Saat ini, jumlah kapal curah nasional yang menggarap pangsa domestik mencapai 34 unit. Khusus kapal handymax tercatat 13 unit dengan kapasitas angkut rata-rata di atas 40.000 ton, sedangkan panamax sebanyak 15 unit rata-rata 80.000 ton dan sisanya kapal jenis handysize. (ts)

Pengusaha tunggu cetak biru logistik

Jumat, 02/04/201
0
leh: Dadan Muhanda

JAKARTA (Bisnis.com): Para pengusaha kargo, logistik, dan jasa pengiriman di kawasan Soewarna Business Park (SBP) menyambut baik rencana pemerintah yang akan menerbitkan cetak biru logistik nasional karena dapat meningkatan kompetensi untuk bersaing di pasar global.

Senior General Manager Soewarna Business Park Ishak Chandra mengatakan mayoritas penyewa di Soewarna berharap keberadaan cetak biru tersebut dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi agar perusahaan mampu meningkatkan daya saingnya di era perdagangan bebas ini.

Menurut dia, selama ini, sebelum adanya cetak biru ini, sejumlah peraturan terkait dengan kegiatan ekspor-impor barang berada di
sejumlah instansi pemerintah sehingga membutuhkan proses yang lama dan berbelit-belit.

“Kami sebagai pengelola kawasan sangat menantikan implementasi cetak biru ini. Para penyewa yang mayoritas perusahaan logistik dan ekspor-impor juga menanti realisasi ini,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Bisnis.com, hari ini.

Pemerintah dalam waktu dekat akan menerbitkan cetak biru sistem logistik nasional yang sudah dirancang dalam beberapa tahun terakhir oleh lima kementerian. Cetak biru tersebut akan menjadi semacam pengarah kegiatan pengiriman barang sehingga biaya jasa logistik semakin murah dibandingkan dengan yang ada saat ini.

Cetak biru juga dibutuhkan untuk menyatukan strategi dan program untuk membenahi sistem logistik menjadi lebih efisien. Keberadaan cetak biru itu diharapkan mengintegrasikan sistem secara nasional yang terkoneksi dengan sistem logistik global.

Soewarna Business Park merupakan kawasan industri yang ada di sekitar Bandara Soekarno-Hatta. Menurut Ishak, mayoritas penyewa di Soewarna adalah perusahaan-perusahaan logistik dan kargo baik lokal maupun multinasional.

“Pemerintah melalui cetak biru logistik ini ingin memudahkan pelaku bisnis logistik, terutama kami sebagai pengembang kawasan yang menjadi pilihan bagi perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan bisnis penerbangan dan ekspor impor untuk mendapatkan pelayanan yang terintegrasi dalam satu atap,” tuturnya.

Adanya cetak biru ini juga diharapkan mampu menekan biaya operasional dan akan memetakan asal arus barang, tujuan hingga di titik mana harus ada hub port.

Di kawasan Soewarna Business Park sendiri terdapat sederet perusahaan terkemuka yang beroperasi di sini seperti DHL, Lufthansa Cargo, Singapore Airlines, Qatar Airways, Schenker, K’Line, Nippon Express, Saudi Arabian Airlines dan lainnya.

Selain itu nama-nama lokal seperti Fin Logistic, Prima Cargo, Mitra Kemas Transindo, Ritra Cargo Indonesia, Panalpina, Uniair Indotama Cargo juga merupakan perusahaan kargo dan logistik Indonesia yang menjadi penyewa di Soewarna.

Ketua Umum IATA Cargo Agents Club (ICAC) Imam Wartomo menegaskan, pemerintah selaku pihak yang sangat berkompeten dalam mendorong iklim logistik nasional harus menyiapkan elemen-elemen terpadu dalam cetak biru ini, seperti perangkat lunak dan perangkat keras, sumber daya manusia, prosedur, alat-alat bantu serta fasilitas-fasilitas lain yang dibutuhkan. (nn)