Senin, 12 Oktober 2009

Arus penumpang laut turun 18,99%

JAKARTA: Volume penumpang angkutan laut dalam negeri selama Agustus 2009 tercatat 439.400 orang atau turun 18,99% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Penurunan jumlah penumpang angkutan laut terjadi di Pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Makassar masing-masing turun 67,39%, 35,02%, 29,30%, dan 15,72%.

“Sebaliknya, jumlah penumpang di Pelabuhan Balikpapan naik 15,74%,” kata Rusman Heriawan, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), belum lama ini.

Khusus selama Januari-Agustus 2009, volume penumpang kapal laut mencapai 3,7 juta orang atau turun 5,54% dibanding periode yang sama tahun lalu. (Bisnis/hwi./s)

Pelindo layani jasa pandu di Selat Malaka

BATAM: PT Pelabuhan Indonesia I mulai mengoperasikan jasa pandu di Selat Malaka dengan melayani pemanduan kapal dari perairan Karimun hingga Batam sejauh 48 mil.


Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I Sutanto mengatakan BUMN kepelabuhanan itu sudah memiliki kelengkapan yang memadai untuk melayani jasa pandu di perairan tersebut.

"Mulai hari ini [kemarin] jasa pandu Pelindo I di Selat Malaka sudah bisa dioperasikan," ujarnya seusai soft launching jasa pandu itu, kemarin.

Pada acara soft launching yang digelar di perairan Pulau Iyu Kecil itu, Pelindo I juga memberikan pemanduan perdana kepada Kapal Tanker Camar Mas. Selain itu, kegiatan pemanduan dilakukan terhadap kapal Quito Jaya dan sebuah tanker VLCC berbobot 160 GT bernama Sahba Nassau yang sedang membawa minyak mentah ke India.

Di Via Gaspare, Kapten MT Sahba Nassau, mengatakan kapal minyak dengan panjang lebih dari 300 meter itu selama ini menerima jasa pandu dari salah satu perusahaan swasta asal Singapura.

"Kapal ini [Sabha Nassau] masih baru, tetapi kami sudah mendapat jasa pandu dari mereka [Singapura] sebanyak tujuh kali," ujar Gaspare.

Dia terlihat antusias saat Kapten Agustiyan, pilot kapten pandu, menjelaskan sudah beroperasinya jasa pandu resmi di Selat Malaka oleh Pemerintah Indonesia melalui Pelindo I.

Kepastian hukum


Menurut Gaspare, jasa pandu ini akan lebih menguntungkan perusahaan dan pemilik kapal berbendera Bahama itu karena memiliki kepastian hukum terutama bila mengalami masalah-masalah di Selat Malaka.

Perusahaan asuransi yang melindungi kapal itu, katanya, juga akan lebih merasa keamanan kapal tersebut bertambah, khususnya saat melintasi Selat Malaka yang memiliki lebar jalur yang sangat sempit, yakni hanya sekitar 500 meter.

Harry menjelaskan sejak awal 2009 Pelindo I berencana menyediakan layanan jasa pandu bagi kapal yang melintas di Selat Malaka karena diyakini sangat potensial memberikan keuntungan bagi perusahaan karena lalu lintas kapal di perairan itu padat.

Menurut dia, Selat Malaka merupakan jalur pelayaran internasional tersibuk kedua di dunia dengan panjang alur 900 km yang dilintasi oleh sekitar 200 kapal setiap hari dan 10% di antaranya adalah kapal jenis very large cruide carrier (VLCC) yang mengangkut minyak 11 juta barel per hari.

"Selat itu juga merupakan 50% perlintasan minyak dunia yang 80% di antaranya untuk pasokan ke Korea, Jepang, dan China. Pada tahap awal, Pelindo I akan melayani jasa pandu dari Pulau Iyu [perairan Karimun] hingga Nongsa [perairan Batam] berjarak 48 mil."

Dia memaparkan untuk sementara waktu kapal yang dipandu oleh Pelindo belum dikenakan biaya apa pun.

"Saat ini, kami masih mengkaji tarifnya dan belum ada pengenaan biaya. Pemanduan sudah kami operasikan untuk menyosialisasikan jasa pandu kepada kapal-kapal yang melintas di sana [Selat Malaka]."

Namun, dia memastikan tarif jasa pandu yang akan dikenakan oleh BUMN itu tidak akan lebih mahal daripada yang diterapkan oleh Singapura dan Malaysia.

"Kendati demikian, kualitas pilot pandu dan kinerja pemanduan tetap dilakukan secara profesional dan mampu menyamai pelayanan pemanduan yang selama ini dilakukan oleh kedua negara tetangga itu." (k40/ Bisnis Indonesia/s).

Biaya peti kemas ke Asia terpuruk Tarif pengiriman ke Eropa mulai membaik

JAKARTA: Tarif pengiriman peti kemas dari Pelabuhan Tanjung Priok ke sejumlah negara di Asia diperkirakan masih terpuruk dalam 2 tahun mendatang, menyusul perekonomian di kawasan itu yang belum sepenuhnya pulih.


Ketua Bidang Kontainer Dewan Pengurus Pusat Indonesia National Shipowners' Association (INSA) Hery Asmari mengatakan saat ini operator pelayaran yang melayani pengiriman ke Asia cukup banyak, tetapi volume pengiriman menurun signifikan dibandingkan dengan kondisi tahun lalu.

Dia mengungkapkan saat ini tarif pengiriman dari Pelabuhan Priok ke pelabuhan di Singapura, Hong Kong, dan Thailand, untuk peti kemas ukuran 20 kaki sekitar US$100 dan peti kemas 40 kaki sebesar US$150.

Menurut dia, tarif itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi tahun lalu saat perekonomian masih bergairah, yakni sekitar US$300-US$400 untuk peti kemas 20 kaki.

"Sekarang tarif US$100 untuk peti kemas 20 kaki itu sudah all in [total biaya]. Itu pun operator pelayaran dipaksa menyubsidi karena untuk biaya di Pelabuhan Tanjung Priok saja sudah habis sekitar US$90," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Dengan kondisi itu, paparnya, operator pelayaran jarang mendapat keuntungan dari pengiriman peti kemas ke negara-negara di Asia. "Jangankan memikirkan untung, operator pelayaran justru harus menombok kalau ke Asia," tutur Hery.

Ketua Umum Dewan Pengguna Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro mengakui tarif pengiriman ke negara-negara di Asia memang masih rendah, dipicu oleh volume peti kemas yang menurun.

"Memang belum ada perbaikan untuk pengiriman ke Asia, mungkin karena perekonomian global yang juga belum membaik. Selain itu, banyaknya operator pelayaran menjadi pemicu anjloknya tarif," tutur Toto.

Kondisi pasar pengiriman dari Pelabuhan Priok ke negara-negara di Asia kini berbanding terbalik dengan pengiriman dari pelabuhan tersibuk di Indonesia itu ke sejumlah negara di kawasan Eropa.

Tarif ke Eropa


Menurut Hery, tarif pengiriman ke Eropa sudah mulai membaik karena saat ini jumlah armada yang melayani pengiriman sudah semakin sedikit seiring dengan langkah pemilik mengandangkan kapalnya.

"Kalau ke Eropa sudah mulai membaik karena kapal-kapal juga sudah ada yang tidak beroperasi. Selain itu, momen Natal dan tahun baru juga menyebabkan pengiriman meningkat," katanya.

Dia mengungkapkan tarif pengiriman ke sejumlah negara di Eropa untuk peti kemas 20 kaki kini berkisar US$900-US$1.200 atau naik dibandingkan dengan kondisi pada awal tahun 2009 yang hanya sekitar US$600, tetapi masih lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu sebelum krisis, yakni lebih dari US$1.500.

Toto mengakui tarif pengiriman ke Eropa naik signifikan, khusunya setelah Lebaran.

"Saya belum mengetahui alasan yang pasti tarif naik drastis karena volume ekspor sebetulnya juga masih rendah," paparnya.

Sementara itu, untuk pengiriman ke Amerika Serikat, tren tarif peti kemas juga belum menunjukkan perbaikan. Saat ini, ungkap Hery, tarif peti kemas 20 kaki berkisar antara US$1.000 dan US$1.200.

"Perekonomian di AS memang belum begitu membaik. Volume pengiriman ke sana juga masih sedikit, sehingga biaya pengiriman belum menunjukkan perbaikan," katanya.

Adapun, untuk pengiriman domestik antarpulau, tarif sudah mulai kembali turun setelah Lebaran berlalu karena volume pengiriman yang juga turun.

Hery mengungkapkan untuk pengiriman jalur Pelabuhan Tanjung Priok-Medan, tarif peti kemas 20 kaki sebesar Rp3,5 juta-Rp4 juta atau turun dibandingkan dengan saat masa angkutan Lebaran, yakni di atas Rp4,5 juta.

"Untuk Tanjung Priok-Makassar turun cukup banyak, bahkan kembali ke kondisi normal setelah Lebaran, yakni dari Rp4 juta menjadi Rp2,5 juta-Rp3 juta," tutur Hery (Raydion Subiantoro/Bisnis Indonesia/s).

Pelindo III Diminta Setop Izin Kontainer Batu Bara

BANJARMASIN: Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin meminta menajemen PT Pelabuhan Indonesia III Banjarmasin agar tidak mengeluarkan izin bagi kontainer yang mengangkut batu bara karungan.


"Saya telah meminta Pelindo untuk tidak mengelurkan izin bagi kontainer yang mengangkut batu bara karungan. Apabila petugas di lapangan masih menemukan adanya kontainer yang berisi batu bara karungan, Pemprov Kalsel akan melakukan tuntutan," tegasnya di Banjarmasin kemarin.

Pernyataan gubernur itu menanggapi maraknya batu bara karungan yang diangkut oleh beberapa kontainer yang berhasil ditangkap oleh petugas Dinas Perhubungan Kalsel. (Antara/s)