Senin, 19 April 2010

INSA minta bantuan Organisasi Pelayaran ASEAN keluar dari zona war risk

Senin, 19/04/2010
JAKARTA : Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) meminta dukungan organisasi Asean Shipowners’ Federation (ASF) dalam upaya keluar dari zona war risk seperti yang ditetapkan oleh Joint War Committee (JWC).

Sugiman Layanto, Ketua Bidang Angkutan Lepas Pantai Dewan Pengurus Pusat INSA, mengatakan INSA menyampaikan hal itu pada pertemuan anggota ASF di Hong Kong, pekan lalu.

Dukungan dari ASF sangat penting supaya perjuangan Indonesia untuk keluar dari zina war risk lebih mudah.

“INSA telah meminta ASF membantu mengeluarkan bagian dari Indonesia yang masih dianggap war risk,” katanya kepada Bisnis.com, siang ini.

Organisasi pelayaran ASF menggelar pertemuan di Hongkong pekan lalu yang membahas berbagai masalah pelayaran di dunia.

Dalam pertemuan itu, INSA yang diwakili Ketua Bidang Angkutan Lepas Pantai Sugiman Layanto meminta dukungan ASF agar Indonesia dikeluarkan dari zona war risk.

Seperti diketahui, dalam pertemuan JWC pada November tahun lalu mengeluarkan daftar sejumlah kawasan perairan pada negara-negara yang dinyatakan berpotensi meningkatnya ancaman perang, terorisme, dan bahaya kerusuhan lainnya.

Sejumlah kawasan di Indonesia yang masuk dalam daftar JWC, yakni Kalimantan, khususnya Balikpapan serta sebelah utara pantai timur Kudat dan Tarakan, Tanjung Priok, dan sebelah utara pantai timur Sumatra (Belawan).

Akibatnya, setiap kapal yang mau masuk ke kawasan itu dikenakan biaya tambahan asuransi kapal sebesar mencapai 0,00125% per perjalanan dari total nilai kapal. Negara lainnya seperti Somalia dikenai 1% dari nilai kapal.

Maman Permana, Sekretaris Masyarakat Pelayaran, Pelabuhan dan Lingkungan Maritim (Mappel) mengatakan penetapan Indonesia ke dalam zona war risk itu tidak adil karena saat serangan world trade center (WTC), Amerika Serikat (AS) tidak dikenakan war risk. (wiw/bisnis.com/rs)

Day Trans incar sejuta penumpang

Senin, 19/04/2010
Oleh: Raydion Subiantoro

JAKARTA : Perusahaan jasa transportasi Day Trans meraup pendapatan sebesar Rp7,2 miliar dengan volume penumpang rute Jakarta-Bandung pp mencapai 120.000 orang pada kuartal I/2010.

Direktur Day Trans Angreta Chandra mengatakan pihaknya menargetkan jumlah penumpang sebanyak 1 juta unit hingga akhir tahun ini, dengan target pendapatan mencapai Rp42 miliar. Adapun belanja modal yang disiapkan adalah Rp45 miliar untuk penambahan armada dan pembukaan pusat keberangkatan dan kedatangan.

“Kami menerapkan transformasi pendanaan ulang dan pengembangan infrastruktur, sejak Day Trans diakuisisi oleh PT Panorama Transportasi, Tbk,” katanya hari ini usai penandatanganan MoU antara Day Trans dengan PT Telkom Divisi Flexi.

GM Day Trans Adi Atmanto mengatakan dana belanja modal akan digunakan menambah armada sehingga pihaknya bisa mengoperasikan sekitar 150 unit di tahun ini.

Day Trans saat ini baru melayani perjalanan rute Jakarta-Bandung. Kepemilikan Day Trans sejak Oktober tahun lalu berpindah tangan dari PT Artha Prima Perkasa Lintas Era ke PT Panorama Transportasi Tbk.

Armada Day Trans saat ini terdiri dari Isuzu Elf dengan konfigurasi kursi 8 penumpang dan 14 penumpang.

“Tarif 8 penumpang lebih mahal dibandingkan dengan yang 14 penumpang. Armada yang 14 penumpang memang diposisikan untuk pasar mahasiswa yang sering bepergian Jakarta-Bandung,” kata Adi.(htr/bisnis.com/rs)