Senin, 12 April 2010

Iperindo: Utilisasi galangan kapal naik jadi 60%

Senin, 12/04/2010
JAKARTA : Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) memperkirakan pada 2010 utilisasi galangan untuk pembangunan kapal baru naik menjadi 60% dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 40% dari total kapasitas terpasang.Sekretaris Jenderal DPP Iperindo Wing Wirjawan mengatakan peluang meningkatkan utilisasi galangan untuk pembangunan kapal baru di Indonesia terjadi setelah PT Pertamina berencana mengadakan kapal sebanyak 10 unit pada tahun ini.Menurut dia, pihaknya saat ini menunggu perseroan BUMN itu membuka tender. “Pembangunan kapal tangker Pertamina itu dapat mendongkrak utilisasi galangan untuk pembangunan kapal baru hingga 15%,” katanya kepada Bisnis.com hari ini.Wing menjelaskan total kapasitas terpasang untuk pembangunan kapal baru mencapai 600.000 DWT, tetapi sejak 2008 kapasitas terpasang tersebut tidak bisa terpenuhi karena dampak krisis ekonomi global. "Sekitar 60% kapasitas untuk pembangunan kapal baru menganggur," katanya. Seperti diketahui, Pertamina akan menggelar tender enam kapal tanker minyak pada bulan ini dari total 10 kapal yang direncanakan akan dibangun pada 2010. Total nilai pengadaan kapal ini mencapai US$200 juta. Dari enam kapal itu, katanya, Pertamina memesan tiga unit kapal tangker berkapasitas 3.500 DWT (dead weight tonnage), satu unit berkapasitas 6.500 DWT, dan dua unit berkapasitas 17.500 DWT.Tender kapal Pertamina itu untuk memenuhi roadmap atau peta jalan asas cabotage yang mewajibkan kegiatan pengangkutan komoditas domestik melalui laut menggunakan armada berbendera Indonesia. Aturan itu diamanatkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan (KM) No.71/2005 tentang Pengangkutan Barang/Muatan Antarpelabuhan di Dalam Negeri dan UU No.17/ 2008 tentang Pelayaran. (wiw/bisnis.com)

Arus peti kemas di Tanjung Perak naik 125%

Minggu, 11/04/2010
Oleh: Yuristiarso Hidayat

SURABAYA : Arus bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak, khususnya di fasilitas Terminal Petikemas selama triwulan I/2010 mencapai 301.146 twenty foot equivalent units (TEUs), naik 125% dibandingkan dengan periode sama pada 2009

Peningkatan itu ditenggarai dipicu meningkatnya arus perdagangan barang dari China terkait diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) sejak awal tahun ini.

Humas PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) Wara Dijatmika mengakui bila ada lonjakan volume petikemas yang dihandling pada triwulan I/2010 dibandingkan dengan volume pada 2009 maupun 2008.

Total volume petikemas triwulan itu mencapai 301.146 TEUs dengan rincian Januari 99.040 TEUs, Februari 96.640 TEUs dan Maret 105.466 TEUs. Pada 2009 hanya mencapai 239.407 TEUs dan 2008 sendiri bervolume 290.104 TEUs.

"Dengan gambaran itu, ada kenaikan 125% bila dibandingkan 2009 sedangkan dengan 2008 naik 103%,” ungkap Wara kepada Bisnis.com, hari ini.

Wara memprediksi bila tren volume petikemas yang dihandling di TPS stabil, volume pada akhir 2010 akan bisa menyamai volume 2008 atau bahkan malah melebihi.

“Pada 2008 total volume petikemas mencapai 1,16 juta TEUs, pada 2009 menurun menjadi 1,12 juta TEUs. Konstruksi volume pada 2008 masih lebih terfokus pada arus petikemas internasional sedangkan pada 2009 meski arus internasional menurun tapi arus domestik meningkat tajam. Pada 2010 ini arus internasional maupun domestik tren-nya sama-sama besar.”

Di sisi lain, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Forwarder, Ekspedisi dan Logistik Seluruh Indonesia (Gafeksi) Jatim Aziz Winanda mengakui bila arus perdagangan khususnya yang menggunakan petikemas melalui Tanjung Perak mengalami peningkatan.

“Peningkatan ini erat kaitannya dengan diberlakukannya ACFTA awal tahun ini. Peningkatan arus petikemas itu lebih dikarenakan perdagangan barang asal China mengalami kenaikan yang cukup signifikan," tambahnya.

Data Gafeksi arus impor Januari-Februari dari China naik sekitar 18%. Bila stabil, volume selama semester I berupa arus barang dari negara itu bisa naik 25%.

Sementara itu Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Cabang Surabaya Stevens H. Lesawengen membenarkan adanya lonjakan volume petikemas di Surabaya.

“Data INSA mencatat penggunaan kapal pada triwulan I/2010 mengalami peningkatan sekitar 30%, ini berefek pada peningkatan call [kedatangan] kapal yang masuk ke Tanjung Perak mengingat pelabuhan itu merupakan hub port untuk kawasan Indonesia Timur,” kata Steven kepada Bisnis.cpom hari ini.(fh/bisnis.com)

Pembiayaan pengadaan kapal masih menjanjikan

Minggu, 11/04/2010
JAKARTA : Pembiayaan pengadaan kapal jenis handymax belum terpengaruh oleh kecenderungan kenaikan harga kapal di pasar global setelah China menaikkan permintaan pengiriman komoditas bijih besi dan batu bara.

Dirut PT PANN Multifinance (Persero) Ibnu Wibowo mengatakan persero masih tetap fokus pada pembiayaan kapal jenis ini karena permintaan pengiriman batu bara di pasar internasional maupun dalam negeri terus tumbuh.

Selain kapal handymax, pembiayaan di sektor pengadaan kapal minyak dan gas serta pendukung lepas pantai (off shore) juga digenjot.

“Kami ingin memperbesar portpolio pembiayaan kapal curah,” katanya kepada Bisnis.com, pekan lalu.

Akhir Maret lalu, PANN telah mengucurkan pembiayaan untuk pengadaan dua unit kapal curah berbendera Merah Putih sebesar US$35 juta. Selain itu, sejumlah proposal permintaan pembiayaan pengadaan kapal handymax sedang dipelajari.

Dua kapal curah milik PT Meranti tersebut nantinya akan difokuskan untuk menggarap pangsa muatan ke luar negeri (ocean going) menyusul minimnya kapal-kapal nasional yang bergerak di sektor angkutan ekspor komoditas tambang.

Dia menjelaskan dua unit kapal itu akan dikerahkan pemiliknya untuk merebut pangsa muatan ke luar negeri, terutama batu bara, karena saat ini 95% dari total potensi ekspor batu bara nasional sekitar 220 juta ton dinikmati oleh pelayaran asing.

Ibnu menilai proses pembiayaan di sektor pengadaan kapal curah sangat menjanjikan, terutama untuk mendukung kegiatan ekspor batu bara yang kini mulai dilirik pemerintah dalam rangka memangkas arus devisa keluar.

Saat ini, jumlah kapal curah nasional mencapai 34 unit. Khusus kapal handymax tercatat 13 unit dengan kapasitas angkut rata-rata di atas 40.000 ton, sedangkan panamax sebanyak 15 unit rata-rata 80.000 ton dan sisanya kapal jenis handysize.(fh/bisnis.com)

Tarif feri RI masih lebih rendah dari Filipina

Minggu, 11/04/2010
JAKARTA : Tarif kapal penyeberangan di lintasan komersial di Indonesia dinilia masih lebih rendah hingga 50% dibandingkan dengan tarif kelas ekonomi yang diberlakukan pemerintah Filipina terhadap sejumlah lintasan komersial di negara itu.

Wakil Ketua Indonesian Ferrycompanies Association (IFA) Bambang Harjo mengatakan evaluasi terhadap tarif kapal penyeberangan perlu dilakukan sehingga bisa mendapatkan tarif yang proporsional di Indonesia.

"Tarif kapal penyeberangan di Filipina sudah di atas Indonesia. Tarif untuk kelas ekonomi ke bawah sudah diatas 7 Peso per mil atau setara dengan Rp1.400 per mil," ujarnya kepada Bisnis.com pekan lalu.

Di Indonesia, katanya, seperti di lintasan terbesar di Indonesia yakni Merak—Bakauheni, tarifnya hanya Rp491 per mil. “Tarif kapal penyeberangan di lintasan komersial di Indonesia terlalu rendah.”

Untuk itu, dia mengusulkan kewajaran tarif angkutan kapal penyeberangan di Indonesia secara BEP (break even point) dan ada keuntungan wajar bagi operator kapal sekitar 10% adalah sebesar Rp1.000 per mil.

Menurut dia, menaikkan tarif kapal penyeberangan di Indonesia sudah mendesak supaya sektor angkutan yang satu ini bisa berperan lebih signifikan terhadap upaya memperlancar arus barang domestik.

Kini, katanya, biaya perawatan, komponen alat keselamatan dan biaya operasional naik 60% dibandingkan kondisi ketika tarif ditetapkan awal 2009.

”Tarif kapal penyeberangan seharusnya naik 60% hingga 80%,” ujarnya.

Sebelumnya operator kapal feri mendesak pemerintah menaikkan tarif kapal penyeberangan 82,84% di lintasan antarprovinsi menyusul antara lain membengkaknya biaya perawatan dan harga kapal dibandingkan dengan asumsi pemerintah.

Berdasarkan perhitungan Tim Tarif Gapasdap, tarif penyeberangan di lintasan Merak—Bakauheni diusulkan naik 72,00%, Ketapang—Gilimanuk 51,67%, Bajoe—Kolaka 82,36%, Padangbai—Lembar 42,48% dan Palembang—Muntok 2,84%. (fh/bisnis.com)