DISADARI atau tidak, nampaknya tak sedikit orang yang sudah lupa atau menang tidak tahu sama sekali bahwa Wartawan atau Pekerjaan Wartawan merupakan sebuah Profesi terhormat. Karena, kalau kata lagu Qosidah yang pernah hits pada era tahun 80 -an Wartawan itu identik dengan istilah Ratu Dunia.
Dikatakan demikian karena apa yang ditulisan Wartawan melalui medianya baik cetak ataupun online, baik harian, mingguan atau bulanan, maka itu akan menjadi fakta kebenaran bagi seluruh umat dunia yang membacanya.
Dengan kata lain kalau Wartawan menulis apa adanya secara fakta, maka itu menjadi kebenaran bagi yang membacanya. Bahkan sebaliknya, kalaupun Wartawan menyembunyikan fakta yang sebenarnya maka dunia yang membacanya juga akan menganggapnya sebagai suatu kebenaran.
Pembaca dunia tidak peduli apakah berita yang ditulis Wartawan itu benar atau tidak ? Sebab toh Pembaca juga tidak mungkin bisa meliput datang ketempat kejadian, apalagi sampai menulis seperti keahlian sebuah Profesi Wartawan.
Begitu penting Profesi Wartawan bagi kemaslahatan ummat, sehingga dalam keseharian tak sedikit para pembaca, yang memuji-muji Profesi Wartawan. Sampai -sampai Profesi Wartawan menduduki strata sosial yang sejajar dengan para Pejabat Negara. Simplenya penilaian terhadap Profesi Wartawan, bahwa Wartawan dianggap Pekerjaan yang enak, punyak banyak duit, banyak harta, banyak relasi, disegani orang, dan sehingga hidupnya tidak susah.
Lebih hebat lagi ternyata dengan kiprah Profesi Wartawan di Negeri ini, yang menganut Paham Demokrasi , mendudukan Warttawan sebagai Pilar ke-4 Demokrasi, sejajar dengan Eksekutif (Pemerintah), Legislatif (DPR/MPR) dan Yudikatif (Hakim/Penegak Hukum dan Keadilan).
Namun demikian di lapangan selama ini, ternyata tidak selamanya Profesi Wartawan dihargai sebagaimana mestinya sebagai Pilar 4 Demokrasi. Wartawan Yang Kaya, Ya Kaya, Yang Miskin Juga Tak sedikit. Tidak sedikit Wartawan di negeri ini yang sengsara, tidak dihargai, dilecehkan keberadaannya. Walaupun situasi itu karena Ulah Oknum Wartawan itu sendiri, yang terlalu berlebihan. Misalnya ada seseorang yang mengaku Wartawan tapi dia juga merangkap yang lainnya.
Ada juga yang mencampuradukkan pekerjaan Wartawan dengan LSM, untuk mempermudah pergerakan LSM itu dalam 'menekan' hingga menakut-nakuti pemerintah agar mau berbagi proyek di lingkungan pemerintahannya itu.
Dari fenomena itu, sungguh kasihan Wartawan yang memang benar-benar Wartawan, yang menjalankan peran sebagai bagian dari pembangunan negeri ini (agen perubahan) menjadi lebih baik.Meski terkadang bekerja tanpa gaji bulanan, karena situasi tidak memungkinkan, asal ada media yang menaungi, ada media tempat untuk menulis (berkarya) dia jalani dengan tekun, walaupun perusahaan tempatnya bekerja tidak memberikan gaji sebagaimana mestinya.
Wartawan Tekun dan Sabar itu melaksanakan pekerjaannya meski terkadang harus terpaksa seakan-akan 'berperan' sebagai pengemis menunggu Amplop atau Transport, semua dilakukan karena keterpaksaan.
Ironisnya pada saat event-event tertentu seperti Musim Puasa dan Lebaran Wartawan Tekun dan Sabar itu berharap bantuan dari para pihak yang dinilai sebagai sahabat dekat (narasumber). Setengah menghiba agar dapat sumbangsih untuk sekedar membahagiakan keluarga, anak-anak dan isterinya, seperti banyak kita lihat di sudut-sudut kota atau sebuah sisi di kota-kota dan desa di seantero negeri ini.
Pertanyaan kemudian bagaimana dengan istilah Wartawan atau PERS Sebagai Pilar 4 Demokrasi ? Sebab pada kenyataannya tidak sedikit Wartawan yang sebenarnya berjuang di dua sisi, turut membangun dan mengawasi pembangunan negeri ini, namuan di sisi lain tak sedikit Wartawan tadi harus mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Terkadang suasana bathin sang Wartawan tadi berkecamuk, karena rasa malu karena terpaksa seperti orang meminta-minta kepada para nara sumber, kepada para pejabat, kepada para pengusaha yang dermawan, bahkan terkadang cemoohan sebagai Wartawan Bodrex, sebagai Wartawan Amplop menerpa dirinya.
Tapi wahai sahabatku di seluruh dunia yang peduli terhadap sesama, Rasa Malu dalam diri Sang Wartawan Tekun dan Sabar tadi tidak ada artinya ketika dihadapkan pada bagaimana tanggung jawab mencari nafkah bagi anak-anak dan isterinya. Meski berat dan Malu tiada tara, Sang Wartawan Tekun dan Sabar tadi harus menjalani, melakoni cerita kehidupan ini !!!! , meski kenyataannya Sang Wartawan Tekun dan Sabar tadi juga terus bertanya-tanya, Apa Makna Wartawan atau PERS sebagai Pilar 4 Demokrasi ???? (*).