Kamis, 23 Juni 2016

Koordinatoriat Wartawan Jakarta Utara Buka Puasa Bersama Pejabat Walikota


WARTA INDONESIA RAYA.COM (Jakarta Utara)- Segenap Wartawan yang tergabung dalam KWJU (Koordinatoriat Wartawan Jakarta Utara) sore ini (Magrib), melaksanakan buka puasa bersama dengan  pejabat Walikota Jakarta Utara bertempat di Masjid Babussalam.
Hadir dalam acara tersebut Billy Alkadia Kasubag TU & Kasi TI yang mewakili Kasudin Kominfo yang di beri mandat untuk hadir dari Walikota Jakarta Utara Wahyu Haryadi yang tidak bisa hadir karena ada acara peresmian RPTRA dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama, di daerah Penjagalan.
“Saya berharap agar para wartawan dan kominfomas dapat bersinergi lebih baik lagi, sekaligus saya menyampaikan permintaan maaf karena seluruh pimpinan yang saat ini sedang banyak acara dan mendampingi bapak Gubernur DKI Jakarta,” Ujar Billy
Dalam kesempatan yang sama Pahala Simanjuntak, Ketua kordinatoriat Wartawan Jakarta Utara (KWJU) menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak dari Walikota Jakarta Utara yang berkenan hadir dalam acara buka bersama ini.
“Dengan semangat ramadhan ini, saya juga berharap agar sinergi antara media dengan para pejabat dapat berjalan lebih baik lagi dalam rangka kepentingan pelayanan public dan pembangunan di kota administrasi Jakarta Utara,” ujar Pahala Simanjuntak.
Sekretaris Jenderal KWJU, Saiful Anam, yang turut hadir dalam acara Buka Puasa Bersama itu menambahkan dengan semangat kebersamaan antara pihak wartawan sebagai bagian dari agen perubahan pembangunan dan pihak pemerintah sebagai pelaksana amanah itu sendiri maka semua program layanan dan pembangunan di kota Jakarta Utara akan tercapai sebagaimana yang dihartapkan.
“Intinya adalah sinergi yang baik antara semua p[ihak maka hasilnya pun untuk kepentingan seluruh Kota Jakarta Utara, “ pungkasnya. (Aditya).

Selasa, 21 Juni 2016

Tunjangan Kerja Dinas Lurah Rp. 23 Juta Per Bulan

WARTA INDONESIA RAYA.COM (Jakarta Utara)- Mungkin tak banyak tahu, bahwa selama ini dalam menjalankan tugasnya seorang Lurah di wilayah DKI Jakarta termasuk Jakarta Utara mendapat yang namanya TKD yang merupakan sngkatan dari Tunjangan Kinerja Dinas.
Dari permbincangan Reporter Warta Indonesia dengan Mantan Wartawan Kompas, H. Chairul Syah Hasibuan diketahui bahwa TKD untuk jabatan seorang Lurah di lingkup Pemerintah DKI Jakarta sebesar Rp 23 Juta per bulan.
"Kalau ditambah dengan gaji lurah yang sebesar Rp, 7 Juta per bulan, maka yang didapat para lurah di DKI, dan Jakarta khususnya sebesar Rp.30 Juta per bulan." ujar Chaerul.
Kemudian untuk gaji dan TKD jabatan Camat bisa dua kali lipat dari Lurah. "TKD Camat bisa Rp.50 Juta ditambah gaji sekitar Rp.14 jutaan setiap bulan," tuturnya.
Untuk jabatan Walikota, kata Chaerul, TKD sebesar Rp. 125 Juta ditambah Gaji sebesar Rp. 70 Juta. "Dan jabatan Gubernur, TKD bisa mencapai Rp. 300 Jutaan per bulan dan gaji sekitar Rp.200 Juta perbulan," imbuhnya. (Saiful Anam).

Selasa, 14 Juni 2016

Opini : WARTAWAN atau PERS Pilar Demokrasi Yang Ke-4 (Tulisan 2)

WARTAWAN sebagai Pilar Demokrasi yang ke-4  mestinya kedudukannya atau nasibnya (ekonomi) juga sejajar dengan Eksekutif , Legislatif  dan Yudikatif.
Dengan kata lain, kehidupa wartawan yang benar-benar wartawan juga mendapat fasilitas dari negara. Wartawan yang terdaftar di salah satu Asosiasi mulai dari PWI, AJI, IJTI, IPJI,  PWRI dan KWRI, idealnya juga mendapat gaji dari negara alias dibiayai APBN. Atau setidaknya mendaopat tunjangan profesi atau apalah namanya yang pasti wajar untuk membantu kesejahteraan wartawam.
Soal besarannya tentu tergantung lamanya seseorang wartawan menjadi wartawan, misalnya dia sudah melakukan aktifitas selama 10 tahun. Kemudian soal tunjangan itupun tergantung posisi kewartawanannya apakah sebagai wartawan muda, madya atau wartawan utama. Silahkan diatur sedemikian rupa.
Pertanyaanya kenapa Wartawan layak dan pantas mendapat tunjangan profesi ? Pertama Wartawan cukup atau sangat berperan bagi pembangunan suatu negara. Tanpa Wartawan maka kebijakan pemerintah dalam membangun negeri ini akan sangat terhambat untuk sampai kepada masyarakat luas , seluruh rakyat Indonesia se tanah air.
kedua,  Wartawan selama ini tahu betul bagaimana staf staf PNS mendapat yang namanya Tukin (Tunjangan Kinerja) terus Tunjangan Dinas Operasionalndan seterunya. Ketiga, untuk menjadi Pilar keempat Demokrasi maka pilar bernama wartawan ini harus diperkuat, sehingga kokoh dalam mengawal pembangunan di republik ini. Kalau wartawan tidak diperkuart,. dikhawatirkan wartawan tidak murni dalam menjalankan tugas dan profesinya. (WI/Media /email:kantor warta indonesia @gmail.com 

Jumat, 03 Juni 2016

Opini : WARTAWAN atau PERS Pilar Demokrasi Yang Ke-4 (Tulisan 1)

DISADARI atau tidak, nampaknya tak sedikit orang yang sudah lupa atau menang tidak tahu sama sekali bahwa Wartawan atau Pekerjaan Wartawan merupakan sebuah Profesi terhormat. Karena, kalau kata lagu Qosidah yang pernah hits pada era tahun 80 -an  Wartawan itu identik dengan istilah Ratu Dunia.
Dikatakan demikian karena apa yang ditulisan Wartawan melalui medianya baik cetak ataupun online, baik harian, mingguan atau bulanan, maka itu akan menjadi fakta kebenaran bagi seluruh umat dunia yang membacanya.
Dengan kata lain kalau Wartawan menulis apa adanya secara fakta, maka itu menjadi kebenaran bagi yang membacanya. Bahkan sebaliknya, kalaupun Wartawan menyembunyikan fakta yang sebenarnya maka dunia yang membacanya juga akan menganggapnya sebagai suatu kebenaran.
Pembaca dunia tidak peduli apakah berita yang ditulis Wartawan itu benar atau tidak ? Sebab toh Pembaca juga tidak mungkin bisa meliput datang ketempat kejadian, apalagi sampai menulis seperti keahlian sebuah Profesi Wartawan.
Begitu penting Profesi Wartawan bagi kemaslahatan ummat, sehingga dalam keseharian tak sedikit para pembaca, yang memuji-muji Profesi Wartawan. Sampai -sampai Profesi Wartawan menduduki strata sosial  yang sejajar dengan para Pejabat Negara. Simplenya penilaian terhadap Profesi Wartawan, bahwa Wartawan dianggap Pekerjaan yang enak, punyak banyak duit, banyak harta, banyak relasi, disegani orang, dan sehingga hidupnya tidak susah. 
Lebih hebat lagi ternyata dengan kiprah Profesi Wartawan di Negeri ini,  yang menganut Paham Demokrasi , mendudukan Warttawan sebagai Pilar ke-4 Demokrasi, sejajar dengan Eksekutif (Pemerintah), Legislatif (DPR/MPR) dan Yudikatif (Hakim/Penegak Hukum dan Keadilan).
Namun demikian di lapangan selama ini, ternyata tidak selamanya Profesi Wartawan dihargai sebagaimana mestinya sebagai Pilar 4 Demokrasi. Wartawan Yang Kaya, Ya Kaya, Yang Miskin Juga Tak sedikit. Tidak sedikit Wartawan  di negeri ini yang sengsara, tidak dihargai, dilecehkan keberadaannya. Walaupun situasi itu karena Ulah Oknum Wartawan itu sendiri, yang terlalu berlebihan. Misalnya ada seseorang yang mengaku Wartawan tapi dia juga merangkap yang lainnya.
Ada juga yang mencampuradukkan pekerjaan Wartawan dengan LSM, untuk mempermudah pergerakan LSM itu dalam 'menekan' hingga menakut-nakuti pemerintah agar mau berbagi proyek di lingkungan pemerintahannya itu.
Dari fenomena itu, sungguh kasihan Wartawan yang memang benar-benar Wartawan, yang menjalankan peran sebagai bagian dari pembangunan negeri ini (agen perubahan) menjadi lebih baik.Meski terkadang bekerja tanpa gaji bulanan, karena situasi tidak memungkinkan, asal ada media yang menaungi, ada media tempat untuk menulis (berkarya) dia jalani dengan tekun, walaupun perusahaan tempatnya bekerja tidak memberikan gaji sebagaimana mestinya.
Wartawan Tekun dan Sabar itu melaksanakan pekerjaannya meski terkadang harus terpaksa seakan-akan 'berperan' sebagai pengemis menunggu Amplop atau Transport, semua dilakukan karena keterpaksaan.
Ironisnya pada saat event-event tertentu seperti Musim Puasa dan Lebaran Wartawan Tekun dan Sabar itu berharap bantuan dari para pihak yang dinilai sebagai sahabat dekat (narasumber). Setengah menghiba agar dapat sumbangsih untuk sekedar membahagiakan keluarga, anak-anak dan isterinya, seperti banyak kita lihat di sudut-sudut kota atau sebuah sisi di kota-kota dan desa di seantero negeri ini.
Pertanyaan kemudian bagaimana dengan istilah Wartawan atau PERS Sebagai Pilar 4 Demokrasi ? Sebab pada kenyataannya tidak sedikit Wartawan yang sebenarnya berjuang di dua sisi, turut membangun dan mengawasi pembangunan negeri ini, namuan di sisi lain tak sedikit Wartawan tadi harus mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. 
Terkadang suasana bathin sang Wartawan tadi berkecamuk, karena rasa malu karena terpaksa seperti orang meminta-minta  kepada para nara sumber, kepada para pejabat, kepada para pengusaha yang dermawan, bahkan terkadang cemoohan sebagai Wartawan Bodrex, sebagai Wartawan Amplop menerpa dirinya.
Tapi wahai sahabatku di seluruh dunia yang peduli terhadap sesama, Rasa Malu dalam diri Sang Wartawan Tekun dan Sabar tadi tidak ada artinya ketika dihadapkan pada bagaimana tanggung jawab mencari nafkah bagi anak-anak dan isterinya.  Meski berat dan Malu tiada tara, Sang Wartawan Tekun dan Sabar tadi harus menjalani, melakoni cerita kehidupan ini !!!! , meski kenyataannya Sang Wartawan Tekun dan Sabar tadi juga terus bertanya-tanya, Apa Makna Wartawan atau PERS sebagai Pilar 4 Demokrasi ????   (*).