Senin, 26 Oktober 2009
Izin kapal asing masih terbitINSA tolak lakukan klarifikasi
(Tularji/Bisnis Indonesia/rs)
Pengusaha angkutan barang minta izin impor truk bekas
Mustika Alam layani 23.419 TEUs peti kemas
Laporan produksi Mustika Alam Lestari menyebutkan dari 23.419 TEUs peti kemas yang dilayani pada September 2009, sebanyak 9.936 TEUs di antaranya merupakan barang impor (bongkar) dan 13.483 TEUs peti kemas ekspor (muat). Seluruh peti kemas itu diangkut dengan menggunakan 16 kapal.
Pada September 2008, dari 24.558 TEUs yang dilayani oleh Mustika Alam, 10.616 TEUs di antaranya barang impor dan 13.942 TEUs peti kemas ekspor. Seluruh peti kemas itu diangkut dengan menggunakan 12 kapal. (Bisnis/k1/rs)
Niaga Sapta peroleh kontrak angkutan batu bara
Premi asuransi fasilitas pelabuhan feri capai Rp15 miliar
(Tularji/Bisnis Indonesia/rs)
Pengurusan dokumen kargo dinilai lambanBea dan Cukai perketat pengawasan dokumen impor
Jumat, 23 Oktober 2009
Dephub diminta awasi pengembangan Jababeka
Wakil Ketua bidang Perdagangan dan Kepabeanan DPW Gabungan Forwarder, Logistik, dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) DKI Jakarta Widijanto mengatakan Dephub perlu lebih aktif melakukan koordinasi dengan Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan, dan Departemen Perindustrian serta memberikan masukan untuk melindungi kelangsungan usaha jasa transportasi di dalam negeri.
"Kami berharap Menhub yang baru [Freddy Numberi] mampu memberikan jalan keluar sehingga tidak ada lagi keresahan pelaku usaha sektor transportasi yang selama ini melakukan kegiatan di Pelabuhan Priok," ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Pada akhir Desember 2009, Ditjen Bea dan Cukai berencana mengimplementasikan KPPT di Jababeka, yakni kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu yang secara terpadu di dalamnya terdapat tempat penimbunan sementara, tempat konsolidasi barang ekspor, tempat penimbunan berikat, dan tempat usaha lainnya dalam rangka menunjang kegiatan kepabeanan dan cukai.
Menurut Widijanto, jika KPPT mengarah pada single operator (operator tunggal) dalam pengurusan dokumen yang hanya bisa dilakukan oleh perusahaan di kawasan Jababeka, usaha jasa transportasi di Pelabuhan Priok akan gulung tikar.
"Jika hal itu [operator tunggal] yang terjadi sama halnya dengan melakukan praktik monopoli dan memicu terjadinya persaingan usaha tidak sehat," tegasnya.
Dia memaparkan sebagai sentra logistik, KPPT Jababeka pasti dilengkapi dengan pergudangan dan tempat pemeriksaan barang (behandle) sehingga tidak diperlukan lagi tempat penimbunan sementara di Pelabuhan Priok.
"Begitu pula dengan perusahaan forwarder konsolidator dan keagenan kargo di Pelabuhan Priok tidak diperlukan karena konsolidasi barang ekspor impor dari dan ke pelabuhan itu bisa langsung dilakukan melalui KPPT Jababeka."
Adapun, proses pengiriman barang dari dan ke KPPT Jababeka akan menggunakan armada truk standar sesuai dengan KM No. 74/1990 dan dilengkapi dengan global positioning system (GPS) serta radio frequency identification (RFID). (k1/bisnis.com/rs)
Senin, 12 Oktober 2009
Arus penumpang laut turun 18,99%
Penurunan jumlah penumpang angkutan laut terjadi di Pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Makassar masing-masing turun 67,39%, 35,02%, 29,30%, dan 15,72%.
“Sebaliknya, jumlah penumpang di Pelabuhan Balikpapan naik 15,74%,” kata Rusman Heriawan, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), belum lama ini.
Khusus selama Januari-Agustus 2009, volume penumpang kapal laut mencapai 3,7 juta orang atau turun 5,54% dibanding periode yang sama tahun lalu. (Bisnis/hwi./s)
Pelindo layani jasa pandu di Selat Malaka
Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I Sutanto mengatakan BUMN kepelabuhanan itu sudah memiliki kelengkapan yang memadai untuk melayani jasa pandu di perairan tersebut.
"Mulai hari ini [kemarin] jasa pandu Pelindo I di Selat Malaka sudah bisa dioperasikan," ujarnya seusai soft launching jasa pandu itu, kemarin.
Pada acara soft launching yang digelar di perairan Pulau Iyu Kecil itu, Pelindo I juga memberikan pemanduan perdana kepada Kapal Tanker Camar Mas. Selain itu, kegiatan pemanduan dilakukan terhadap kapal Quito Jaya dan sebuah tanker VLCC berbobot 160 GT bernama Sahba Nassau yang sedang membawa minyak mentah ke India.
Di Via Gaspare, Kapten MT Sahba Nassau, mengatakan kapal minyak dengan panjang lebih dari 300 meter itu selama ini menerima jasa pandu dari salah satu perusahaan swasta asal Singapura.
"Kapal ini [Sabha Nassau] masih baru, tetapi kami sudah mendapat jasa pandu dari mereka [Singapura] sebanyak tujuh kali," ujar Gaspare.
Dia terlihat antusias saat Kapten Agustiyan, pilot kapten pandu, menjelaskan sudah beroperasinya jasa pandu resmi di Selat Malaka oleh Pemerintah Indonesia melalui Pelindo I.
Kepastian hukum
Menurut Gaspare, jasa pandu ini akan lebih menguntungkan perusahaan dan pemilik kapal berbendera Bahama itu karena memiliki kepastian hukum terutama bila mengalami masalah-masalah di Selat Malaka.
Perusahaan asuransi yang melindungi kapal itu, katanya, juga akan lebih merasa keamanan kapal tersebut bertambah, khususnya saat melintasi Selat Malaka yang memiliki lebar jalur yang sangat sempit, yakni hanya sekitar 500 meter.
Harry menjelaskan sejak awal 2009 Pelindo I berencana menyediakan layanan jasa pandu bagi kapal yang melintas di Selat Malaka karena diyakini sangat potensial memberikan keuntungan bagi perusahaan karena lalu lintas kapal di perairan itu padat.
Menurut dia, Selat Malaka merupakan jalur pelayaran internasional tersibuk kedua di dunia dengan panjang alur 900 km yang dilintasi oleh sekitar 200 kapal setiap hari dan 10% di antaranya adalah kapal jenis very large cruide carrier (VLCC) yang mengangkut minyak 11 juta barel per hari.
"Selat itu juga merupakan 50% perlintasan minyak dunia yang 80% di antaranya untuk pasokan ke Korea, Jepang, dan China. Pada tahap awal, Pelindo I akan melayani jasa pandu dari Pulau Iyu [perairan Karimun] hingga Nongsa [perairan Batam] berjarak 48 mil."
Dia memaparkan untuk sementara waktu kapal yang dipandu oleh Pelindo belum dikenakan biaya apa pun.
"Saat ini, kami masih mengkaji tarifnya dan belum ada pengenaan biaya. Pemanduan sudah kami operasikan untuk menyosialisasikan jasa pandu kepada kapal-kapal yang melintas di sana [Selat Malaka]."
Namun, dia memastikan tarif jasa pandu yang akan dikenakan oleh BUMN itu tidak akan lebih mahal daripada yang diterapkan oleh Singapura dan Malaysia.
"Kendati demikian, kualitas pilot pandu dan kinerja pemanduan tetap dilakukan secara profesional dan mampu menyamai pelayanan pemanduan yang selama ini dilakukan oleh kedua negara tetangga itu." (k40/ Bisnis Indonesia/s).
Biaya peti kemas ke Asia terpuruk Tarif pengiriman ke Eropa mulai membaik
Ketua Bidang Kontainer Dewan Pengurus Pusat Indonesia National Shipowners' Association (INSA) Hery Asmari mengatakan saat ini operator pelayaran yang melayani pengiriman ke Asia cukup banyak, tetapi volume pengiriman menurun signifikan dibandingkan dengan kondisi tahun lalu.
Dia mengungkapkan saat ini tarif pengiriman dari Pelabuhan Priok ke pelabuhan di Singapura, Hong Kong, dan Thailand, untuk peti kemas ukuran 20 kaki sekitar US$100 dan peti kemas 40 kaki sebesar US$150.
Menurut dia, tarif itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi tahun lalu saat perekonomian masih bergairah, yakni sekitar US$300-US$400 untuk peti kemas 20 kaki.
"Sekarang tarif US$100 untuk peti kemas 20 kaki itu sudah all in [total biaya]. Itu pun operator pelayaran dipaksa menyubsidi karena untuk biaya di Pelabuhan Tanjung Priok saja sudah habis sekitar US$90," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Dengan kondisi itu, paparnya, operator pelayaran jarang mendapat keuntungan dari pengiriman peti kemas ke negara-negara di Asia. "Jangankan memikirkan untung, operator pelayaran justru harus menombok kalau ke Asia," tutur Hery.
Ketua Umum Dewan Pengguna Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro mengakui tarif pengiriman ke negara-negara di Asia memang masih rendah, dipicu oleh volume peti kemas yang menurun.
"Memang belum ada perbaikan untuk pengiriman ke Asia, mungkin karena perekonomian global yang juga belum membaik. Selain itu, banyaknya operator pelayaran menjadi pemicu anjloknya tarif," tutur Toto.
Kondisi pasar pengiriman dari Pelabuhan Priok ke negara-negara di Asia kini berbanding terbalik dengan pengiriman dari pelabuhan tersibuk di Indonesia itu ke sejumlah negara di kawasan Eropa.
Tarif ke Eropa
Menurut Hery, tarif pengiriman ke Eropa sudah mulai membaik karena saat ini jumlah armada yang melayani pengiriman sudah semakin sedikit seiring dengan langkah pemilik mengandangkan kapalnya.
"Kalau ke Eropa sudah mulai membaik karena kapal-kapal juga sudah ada yang tidak beroperasi. Selain itu, momen Natal dan tahun baru juga menyebabkan pengiriman meningkat," katanya.
Dia mengungkapkan tarif pengiriman ke sejumlah negara di Eropa untuk peti kemas 20 kaki kini berkisar US$900-US$1.200 atau naik dibandingkan dengan kondisi pada awal tahun 2009 yang hanya sekitar US$600, tetapi masih lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu sebelum krisis, yakni lebih dari US$1.500.
Toto mengakui tarif pengiriman ke Eropa naik signifikan, khusunya setelah Lebaran.
"Saya belum mengetahui alasan yang pasti tarif naik drastis karena volume ekspor sebetulnya juga masih rendah," paparnya.
Sementara itu, untuk pengiriman ke Amerika Serikat, tren tarif peti kemas juga belum menunjukkan perbaikan. Saat ini, ungkap Hery, tarif peti kemas 20 kaki berkisar antara US$1.000 dan US$1.200.
"Perekonomian di AS memang belum begitu membaik. Volume pengiriman ke sana juga masih sedikit, sehingga biaya pengiriman belum menunjukkan perbaikan," katanya.
Adapun, untuk pengiriman domestik antarpulau, tarif sudah mulai kembali turun setelah Lebaran berlalu karena volume pengiriman yang juga turun.
Hery mengungkapkan untuk pengiriman jalur Pelabuhan Tanjung Priok-Medan, tarif peti kemas 20 kaki sebesar Rp3,5 juta-Rp4 juta atau turun dibandingkan dengan saat masa angkutan Lebaran, yakni di atas Rp4,5 juta.
"Untuk Tanjung Priok-Makassar turun cukup banyak, bahkan kembali ke kondisi normal setelah Lebaran, yakni dari Rp4 juta menjadi Rp2,5 juta-Rp3 juta," tutur Hery (Raydion Subiantoro/Bisnis Indonesia/s).
Pelindo III Diminta Setop Izin Kontainer Batu Bara
"Saya telah meminta Pelindo untuk tidak mengelurkan izin bagi kontainer yang mengangkut batu bara karungan. Apabila petugas di lapangan masih menemukan adanya kontainer yang berisi batu bara karungan, Pemprov Kalsel akan melakukan tuntutan," tegasnya di Banjarmasin kemarin.
Pernyataan gubernur itu menanggapi maraknya batu bara karungan yang diangkut oleh beberapa kontainer yang berhasil ditangkap oleh petugas Dinas Perhubungan Kalsel. (Antara/s)