Jumat, 06 Mei 2016

Kejahatan Birokrasi, Melebihi Kejahatan Korupsi



WARTA INDONESIA.COM (JAKARTA)- Birokrasi yang buruk bisa menimbulkan kejahatan yang melebihi kejahatan korupsi.
Hal itu ditegaskan Adib Achmadi, peneliti dari Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) pada acara “Roundtable Discussion” dengan tema “Menuntaskan Kejahatan Birokrasi Mewujudkan Good Governance” di Bogor, Jabar, beberapa waktu lalu.
Menurut Adib, sistem birokrasi di Indonesia saat ini masih amburadul dan hal ini dianggap suatu kejahatan. Jika dibandingkan dengan korupsi, maka kejahatan birokrasi lebih berbahaya. Akibatnya, negara dirugikan karena terjadinya pelayanan yang buruk terhadap masyarakat, sementara dari segi struktur yang bekerja terlalu gemuk sehingga tidak efisien.
Sorotan Adib ini perlu men jadi catatan bagi kita semua, terutama bagi aparatur pemerintah. Sinyalemen ini seolah menguatkan daftar panjang kritikan yang diarahkan pada birokrasi. Birokrasi yang dinilai masih gemuk, pergerakan lamban, dan capaian efisiensi yang masih perlu dipacu lagi.
Mengapa birokrasi yang buruk bisa lebih jahat dari korupsi? Alur logikanya mungkin demikian, karena pelayanan yang buruk terhadap berbagai kepentingan masyarakat, negara harus menanggung beban yang banyak. Sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan secepatnya, molor dalam waktu lama dan menguras banyak energi.
Tak hanya itu, kebijakan-kebijakan yang lebih bernuansa politis, seperti penentuan instansi yang dibentuk di suatu daerah.
Birokrasi yang buruk mengacu pada kesalahan kolektif atau sistem, sedangkan korupsi merupakan aksi personal yang membusukan sistem dari dalam. Namun, dalam perkembangan terakhir, ada juga “korupsi berjamaah”. Kasus korupsi di DPRD NTB yang sudah divonis oleh Pengadilan adalah salah satu buktinya.
Kejahatan birokrasi, adalah pintu masuk utama bagi makin suburnya praktik dan budaya korupsi.
Karena pada sistem birokasi yang sudah dicap sebagai sebuah kejahatan, celah untuk mempraktikan penyimpangan terbuka lebar. Bukankah dalam birokrasi yang masih dianggap rapi pun justru sering menghentakkan publik, karena belakangan justru jebol juga.
Adib bukan yang pertama menggaungkan peringatan itu. Hanya mengulang sinyalemen irama sendu kehidupan birokrasi. Kejahatan birokrasi, beserta gerbong implikasinya, akan mengeruhkan perjalanan bangsa dan daerah ini. Jika fenomena merusak itu ada, bersediakah Anda memotong alur perjalanan destruktifnya? (WI/Media/SumbawaNews).