WARTA
INDONESIA.COM (JAKARTA)- Birokrasi yang buruk bisa menimbulkan kejahatan yang melebihi kejahatan
korupsi.
Hal itu ditegaskan
Adib Achmadi, peneliti dari Masyarakat Transparansi Indonesia
(MTI) pada acara “Roundtable Discussion”
dengan tema “Menuntaskan Kejahatan Birokrasi Mewujudkan Good Governance” di Bogor, Jabar, beberapa waktu lalu.
Menurut
Adib, sistem birokrasi di Indonesia saat ini masih amburadul dan hal ini
dianggap suatu kejahatan. Jika dibandingkan dengan korupsi, maka kejahatan
birokrasi lebih berbahaya. Akibatnya, negara dirugikan karena terjadinya
pelayanan yang buruk terhadap masyarakat, sementara dari segi struktur yang bekerja
terlalu gemuk sehingga tidak efisien.
Sorotan
Adib ini perlu men jadi catatan bagi kita semua, terutama bagi aparatur
pemerintah. Sinyalemen ini seolah menguatkan daftar panjang kritikan yang
diarahkan pada birokrasi. Birokrasi yang dinilai masih gemuk, pergerakan
lamban, dan capaian efisiensi yang masih perlu dipacu lagi.
Mengapa
birokrasi yang buruk bisa lebih jahat dari korupsi? Alur logikanya mungkin demikian, karena
pelayanan yang buruk terhadap berbagai kepentingan masyarakat, negara harus
menanggung beban yang banyak. Sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan
secepatnya, molor dalam waktu lama dan menguras banyak energi.
Tak
hanya itu, kebijakan-kebijakan yang lebih bernuansa politis, seperti penentuan
instansi yang dibentuk di suatu daerah.
Birokrasi
yang buruk mengacu pada kesalahan kolektif atau sistem, sedangkan korupsi
merupakan aksi personal yang membusukan sistem dari dalam. Namun, dalam
perkembangan terakhir, ada juga “korupsi berjamaah”. Kasus korupsi di DPRD NTB
yang sudah divonis oleh Pengadilan adalah salah satu buktinya.
Kejahatan
birokrasi, adalah pintu masuk utama bagi makin suburnya praktik dan budaya
korupsi.
Karena
pada sistem birokasi yang sudah dicap sebagai sebuah kejahatan, celah untuk
mempraktikan penyimpangan terbuka lebar. Bukankah dalam birokrasi yang masih
dianggap rapi pun justru sering menghentakkan publik, karena belakangan justru
jebol juga.
Adib
bukan yang pertama menggaungkan peringatan itu. Hanya mengulang sinyalemen
irama sendu kehidupan birokrasi. Kejahatan birokrasi, beserta gerbong
implikasinya, akan mengeruhkan perjalanan bangsa dan daerah ini. Jika fenomena
merusak itu ada, bersediakah Anda memotong alur perjalanan destruktifnya? (WI/Media/SumbawaNews).
