Meski terjadi krisis global dalam 2 bulan terakhir namun target ekspor nasional untuk tahun 2008 masih tetap optimis lampau target di atas 12,5 persen. Demikian dinyatakan Tri Mardjoko, direktur pusat pelayanan informasi ekspor, Departemen Perdagangan, saat ditemui Pers, pekan lalu.
Menurutnya, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari – Agustus 2008 mencapai US $ 95,4 miliar atau meningkat 29,9 persen disbanding periode yang sama tahun 2007, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US $ 73,5 miliar atau meningkat 22,4 persen.Dikatakan, Mardjoko, angka pertumbuhan itu melebihi dari yang ditargetkan sebesar 12,5 persen untuk tahun 2008. Pertumbuhan itu di picu kepercayaan buyer.
“Misalnya, ada sejumlah buyer di India, yang melakukan kontrak pembelian dengan eksportir kita, sehingga pertumbuhan ekspor tujuan India naik dari 3,4 persen menjadi 6,5 persen per Agustus 2008,” ujarnya.Namun begitu, pertumbuhan ekspor menurun drastis terkena dampak krisis ekonomi global. “Pada 2 (dua) bulan terakhir, pertumbuhan ekspor menurun. Dan saya belum bisa memastikan angka terakhir dari penurunan itu,“ kata Mardjoko.
Dijelaskan, pangsa ekspor ke Eropa cenderung menurun dari 17,1 persen pada 2003 menjadi 13,9 persen pada pertengahan tahun 2008. “Demikian juga, ke Amerika Serikat dari 14,7 persen menjadi 11,6 persen. ke Jepang tercatat dari 14,4 persen menjadi 12,5 persen, Ke RRT dari 5,9 persen menjadi 7,6 persen, dan ekspor ke Singapure turun dari 10,1 persen menjadi 9.8 persen,” kata Mardjoko.Meski demikian, lanjutnya, pihaknya optimis, target pertumbuhan ekspor pada Desember 2008 mendatang tercapai.
“Bahkan kami yakin, angka pertumbuhan ekspor nasional di atas 12,5 persen, sekalipun perekonomian AS melemah. Sebab apa, kinerja ekspor kita diperkuat dengan intra-industry trade di Asia Timur yang sudah intens,” kata Mardjoko.
2 Strategi
Terkait dengan pertanyaannya yang kerap muncul dimasyarakat, yakni bagaimana kinerja BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional), untuk meningkatkan kineja ekspor nasional? Menurut Mardjoko, ada 2 (dua) strategi yang dilakukan BPEN, strategi pertama BPEN menggarap pasar non tradisional di luar negeri. Sedangkan strategi kedua, kata Mardjoko, BPEN mengawal pasar dalam negeri, jangan sampai eksportir luar negeri mencari pasar di Indonesia. “Upaya menggarap pasar non tradisional di luar negeri adalah melalui pendirian atau pembukaan kantor ITPC (Indonesia trade promotion center) disejumlah Negara tujuan ekspor,” kata Mardjoko.
Dijelaskan, ITPC pada intinya merupakan kantor di luar negeri untuk mempromosikan produk ekspor Indonesia di luar negeri atau Negara-negara tujuan ekspor dari Indonesia. “Dan di tahun ini kita baru saja membangun 11 unit ITPC, sehingga secara keseluruhan kita telah memiliki 20 unit yang tersebar di sejumlah Negara tujuan pasar ekspor Indonesia, seperti di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Jepang dan lainnya,” kata Mardjoko.
Sedangkan, upaya pengawalan pasar dalam negeri, kata Madjoko, adalah melalui pembentukan P3ED atau pusat promosi dan pelatihan ekspor daerah. “Saat ini kita telah memiliki 5 P3ED yang berada di 5 Kota besar di seluruh Indonesia, yakni di Medan, Banjarmasin, Makasar, Malang dan Surabaya,” kata Mardjoko.
Dijelaskan, dari P3ED itu, oleh BPEN dihubungkan kepada ITPC yang menjadi tujuan pasar ekspornya. “Misalnya, P3ED Surabaya ingin mencari pasar di Eropa, maka BPEN menghubungkan P3ED kepada ITPC Eropa. Bahkan melalui mekanisme tersebut antara eksportir dan buyer bisa kami pertemukan langsung melalui teleconference,” kata Mardjoko.
Planning 2009
Lebih jauh, Mardjoko menjelaskan, untuk tahun 2009, BPEN diperkirakan masih akan menetapkan target pertumbuhan ekspor sebesar 12,5 persen. “Sam,pai saat inui belum ada target pertumbuhan ekspor secara resmi, namun prediksi saya, target itu masih 12,5. Hal ini dilakukan atas pertimbangan belum menentunya pasar global,” kata Mardjoko.Meski demikian, BPEN akan terus memacu pertumbuhan ekspor Indonesia dengan lebih mengintensifkan berbagai strategi. “Sejak September lalu, kita sebenarnya telah melaunching dua strategi baru untuk memacu kinerja ekspor nasional, yakni buyer reception desk (BRD) dan sistem inquiry otomatis (SIO),” kata Mardjoko.Dijelaskan, untuk BRD, BPEN menyediakan penerimaan langsung terhadap buyer yang datang ke Indonesia. “BPEN menempatkan orang di Bandara untuk menjemput buyer luar negeri yang kemudian diantar ke pasar ekspor dalam negeri. Setelah bertemu eksportir, buyer tadi kembali diantar oleh petugas BPEN ke Bandara. Dengan strategi ini, maka keamanan buyer akan lebih terjamin, sehingga buyer yang akan dating ke Indonesia tidak perlu ragu, karena takut dengan calo yang ada di Bandara,” kata Mardjoko.Kemudian, lanjutnya, untuk tahun 2009 BPEN juga mengintensifkan strategi SIO. “Yakni BPEN mempertemukan secara langsung antara eksportir dengan buyer di luar negeri, tanpa melalui ITPC atau P3ED,” kata Mardjoko.
Dukung NSW
Meski begitu, pengawalan pasar dalam negeri dan peningkatan kinerja ekspor nasional tergantung kepada dukungan kegiatan pabean di pelabuhan. “Apabila pabean di pelabuhan lemah atau maka bisa terjadi manipulasi angka impor bahan baku atau terhadap angka ekspor produk Indonesia. Hal itu selama ini kerap terjadi,” kata Mardjoko.
Dikemukakan dengan pemberlakukan NSW (National Single Window) pada akhi tahun 2008 menjadi solusi bagi keakuratan nilai ekspor nasional. “Dengan NSW, mekanisme ekspor dan impor lebih banyak dilakukan secara online. Sehingga hampir sama sekali tidak terjadi kontak person antara eksportir atai importer dengan petugas Bea dan Cukai. Semua terjadi secara online atau mesin computer yang menjawab,” Kata Mardjoko.Untuk itu, pihaknya (BPEN-red) berharap agar NSW bisa dilaksanakan dengan baik di seluruh pelabuhan utama di Indonesia. “Kita berharap NSW dapat berjalan dengan baik di Pelabuhan Belawan, Tg. Priok, Tanjung Perak dan Makasar. Sebab NSW telah menjadi keputusan nasional untuk dilaksanakan di seluruh wilayah pabean di Indonesia. Maka tak ada alasan untuk tidak menjalakan NSW sekitar Januri 2009,”ujar Mardjoko. (SA).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar