Kamis, 30 Oktober 2008

Freihgt Luar Negeri Anjlok

Anjloknya harga minyak mentah dunia kembali menuai dampak, salah satunya pada sektor pelayaran, saat ini freight (tariff angkut) luar negeri, turun hingga 50 persen.
----------
Hal itu dikemukakan, Capt. Asmari Herry, ketua bidang angkutan kontainer DPP (Dewan Pengurus Pusat) INSA (Indonesia National Shipowner Association). Menurutnya, penurunan freight bukan hanya terjadi pada angkuitan domestic yang turun antara 10 hingga 20 %. “Freight luar negeri juga ikut turun bahkan cukup signifikan turunnya hingga 50 %,” kata Asmari.
Dikatakan, freight ke Eropa misalnya yang awalnya US $ 1000,- per container ukuran 20 feet, saat ini hanya US $ 500,-. “Demikian juga untuk freight ke Amerika juga sama dengan freight ke Eropa,” kata Asmari.
Penurunan freight itu, menurut Asmari, disebabkan semata-mata disebabkan karena mekanisme pasar. “Kalau marketnya turun maka freight ikut turun, sebaliknya kalau marketnya naik maka freight ikut naik juga,” kata Asmari.
Saat ini, seiring denga melemahnya harga minyak mentah dunia yang mencapai US $70 per barrel berpengaruh pada semua sektor. “Jumlah barang turun, angkutan turun, harga bahan bakar turun, maka freight juga turun,” kata Asmari.
Situasi ini (anjloknya freight) kata Asmari bisa berlangsung lama. “Bisa sampai tahun depan, dan saya tidak bisa memprediksi pastinya sampai kapan, sebab ini betul-betul tergantung pada mekaisme pasar global,: kata Asmari.
Apa ada satu solusi terhadap situasi ini? Menurut Asmari, solusinya tidak lain adalah langkah efisiensi. “Mungkin jumlah kapal dikurangi, bahan bakar dihemat, biaya-biaya yang tidak perlu dihindari, tapi di Indonesia ada paradoks, yakni adanya biaya-biaya yang mestinya tidak terjadi, seperti adanya tally di Priok,” kata Asmari.

INSA Menolak
Terkait dengan Tally Independent, menurut Asmari, INSA menolak. “Alasannya, pertama, keberadaan tally independent manfaatnya diragukan, apa manfaatnya saya tidak tahu, karena selama ini kita (pelayaran) sudah punya tally,” kata Asmari.
Kedua, lanjutnya, tidak ada sosialisasi untuk apa tally independent dan apa manfaatnya. “Sehingga kami (kalangan pelayaran) merasa keberatan dengan keberadaan tally independent,”kata Asmari.
Asmari menambahkan, pihak INSA telah menyampaikan penolakan atas Tally Independent kepada pemerintah dalam hal ini Ditjen Hubla (Perhubungan Laut). “Setelah sebelumnya kami DPP INSA telah melakukan Rapat Pleno membicarakan tentang Tally Independent,” kata Asmari. (SA).



Tidak ada komentar: