JAKARTA: Pengusaha transportasi mendesak Bank Indonesia kembali memangkas suku bunga acuan atau BI Rate hingga ke level terendah dan mendorong perbankan menurunkan bunga pinjaman, guna meningkatkan daya saing sektor usaha itu.Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Organisasi Angkutan Darat (Organda) Murphy Hutagalung mengatakan selama ini pelaku usaha transportasi darat belum menikmati bunga rendah dari perbankan."Bunga kredit yang dikenakan perbankan cukup tinggi, yakni 15% hingga 18%. Bunga setinggi itu menyebabkan daya saing sektor transportasi darat kian rendah," katanya kemarin.Dia menegaskan BI perlu memaksa perbankan memangkas bunga kredit dengan cara menurunkan suku bunga acuan sehingga sektor transportasi bisa memperoleh fasilitas kredit dengan bunga yang kompetitif.Ketua Dewan Pengurus Pusat Indonesia National Shipowners' Association (INSA) Johnson W. Sutjipto menambahkan pengusaha transportasi bingung bunga kredit tetap tinggi meski bank sentral telah memangkas BI Rate."Kami sekarang justru bingung karena selama ini BI telah memangkas suku bunga acuan, tetapi bank umum tidak mau mengikutinya dengan menurunkan bunga kredit," tutur Johnson.Selama ini, ungkapnya, pengusaha pelayaran harus membayar bunga kredit yang cukup tinggi, berbeda dengan kebijakan beberapa negara yang memberikan bunga rendah bagi sektor maritim.Data BI menyebutkan penyerapan kredit perkapalan dan pelayaran sejauh ini masih sangat kecil dibandingkan dengan potensi pasar di sektor itu yang diperkirakan mencapai US$10 miliar per tahun.Kredit perkapalan dan pelayaran per Februari 2009 baru 2% dari total pinjaman Rp1.334 triliun, meski nilai kreditnya mencapai Rp19,7 triliun atau tumbuh 80% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu.Sulit bergerakSekjen Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai (Iperindo) Wing Wirjawan menegaskan tingginya bunga bank yang diberikan kepada sektor maritim menyebabkan industri itu sulit bergerak.Menurut dia, perbankan memberikan bunga ke sektor maritim berkisar 15%-17%, padahal di negara-negara lain bisa di bawah 10%. "Kalau bank domestik dapat memberikan 11% saja, industri galangan menyambut positif," kata Wing.Sebelumnya, pengusaha angkutan sungai, danau, dan penyeberangan juga meminta bank sentral menjaga momentum penurunan BI Rate agar sektor transportasi dapat menikmati bunga pembiayaan yang rendah.Wakil Ketua Indonesia Ferry Companies Association (IFA) Bambang Harjo mengatakan penurunan bunga bank bisa menjadi stimulus bagi sektor angkutan penyeberangan yang saat ini tengah menahan rencana ekspansi.Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Luthfi Syarief mengatakan bunga bank domestik untuk pembangunan kapal baru berkisar 16%-18% per tahun.Menurut dia, tingginya bunga bank domestik menyebabkan sektor transportasi laut kurang berani membangun kapal baru di dalam negeri. "Kalau menggunakan pembiayaan dari luar negeri, kami masih mendapatkan bunga 3%," ungkap Luthfi.Gapasdap mengharapkan momentum penurunan BI Rate yang saat ini sudah bertahan di level 7,5% terus berlanjut sehingga bunga perbankan dapat turun ke level yang lebih ekonomis bagi industri pelayaran.Ketua Iperindo Harsusanto menambahkan ketergantungan Indonesia terhadap asing dalam hal penyediaan komponen kapal masih sangat tinggi.Menurut dia, 90% komponen kapal saat ini harus diimpor karena industri komponen kapal di Indonesia belum berkembang. "Oleh karena itu, Iperindo meminta pemerintah mendorong berkembangnya industri komponen kapal," katanya.
(Hendra Wibawa) (tularji@bisnis.co.id)
Oleh TularjiBisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar