Selasa, 05 Mei 2009

Emiten batu bara paling tahan bantingTotal laba 15 perusahaan tembus Rp9 triliun

JAKARTA: Perusahaan di sektor batu bara pada kuartal I/2009 mendominasi daftar emiten yang mencetak pertumbuhan laba bersih (tahan banting) di tengah hantaman krisis finansial.Berdasarkan data 15 emiten nonkeuangan berkapitalisasi pasar terbesar yang mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2009, enam di antaranya bergerak di sektor usaha yang terkait erat dengan batu bara.Perusahaan tersebut adalah PT Adaro Energy Tbk, PT United Tractors Tbk, PT Bumi Resources Tbk, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, PT Indika Energy Tbk, dan PT Bayan Resources Tbk.Keenam perusahaan itu, yang menyumbang bobot 10,44% terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia, meraup laba bersih Rp4,75 triliun atau tumbuh 103,6% dibandingkan dengan akumulasi laba bersih pada periode sama 2008 senilai Rp2,33 triliun.Sebanyak 15 emiten unggulan (blue chip) yang terbukti tahan banting itu meraup laba bersih akumulatif Rp9,26 triliun, melonjak 80% dari laba bersih triwulan I/2008 senilai Rp5,14 triliun. Perusahaan terbuka itu, yang memberi bobot 26% terhadap IHSG, bergerak di sektor usaha pertambangan, semen, konsumsi, infrastruktur, properti, dan farmasi.Analis PT Reliance Securities Tbk Gina Novrina Nasution mengatakan kinerja emiten batu bara yang kuat itu karena ditopang oleh harga komoditas yang tahun ini terus naik dan masih lebih tinggi dari biaya produksi mereka."Koreksi harga batu bara tidak melewati posisi harga sebelum booming, tetapi lebih tinggi dari biaya produksi. Di sisi lain, saham sektor konsumsi tumbuh mengikuti pertumbuhan ekonomi yang positif berkat konsumsi masyarakat," tuturnya kepada Bisnis kemarin.Harga batu bara pada triwulan I/2009 berada di posisi US$67-US$69 per ton, melemah secara triwulanan dibandingkan dengan posisi triwulan IV/2008 di level US$75 per barel.Namun, posisi harga batu bara itu tercatat masih lebih tinggi dibandingkan dengan rerata harga komoditas tersebut pada triwulan I/2008 yang berkisar US$54-US$58 per ton.Lonjakan laba bersih Indika pada kuartal I/2009 karena disumbang oleh laba dari anak perusahaan yang bergerak di sektor batu bara PT Kideco Jaya Agung. Mayoritas kinerja positif United Tractors, perusahaan distributor alat berat merek Komatsu, justru disumbang oleh PT Pamapersada Nusantara, anak perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara.Industri konsumsiSelain emiten batu bara, lima emiten utama lainnya bergerak di bidang yang terkait erat dengan konsumsi masyarakat. Tiga di antaranya adalah perusahaan barang konsumsi yakni PT Unilever Indonesia Tbk, PT Gudang Garam Tbk, dan PT Matahari Putra Prima Tbk, sedangkan dua lainnya perusahaan semen yakni PT Semen Gresik Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.Kepala riset PT Mandiri Sekuritas Ari Pitoyo menilai krisis finansial membuat sektor perkebunan dan logam tertekan paling parah. Sebaliknya, sektor industri konsumsi dan semen tumbuh karena keunikan bisnisnya. "Sektor konsumsi menarik karena perusahaan sektor ini seperti Unilever mampu mengelola biaya dan mengoptimalkan margin keuntungan dari produknya," ujarnya.Di sisi lain, tuturnya, perusahaan semen memiliki keunggulan dari sisi harga. Meski Asosiasi Semen Indonesia mencatat penurunan konsumsi semen sebesar 12,5% menjadi hanya 12,5 juta ton, harga jual semen di pasar justru menguat.Utilisasi kapasitas perusahaan semen yang cukup tinggi membuat permintaan pasar mendekati kapasitas produksi semen.
(Wisnu Wijaya/arif.gunawan@bisnis.co.id) Oleh Arif Gunawan S.: Bisnis Indonesia

Tidak ada komentar: