Minggu, 12 April 2009

Penumpang Pelni stabil

JAKARTA: Penurunan tarif angkutan laut jarak jauh kelas ekonomi yang dilayani oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) dinilai tidak efektif untuk mendongkrak volume penumpang, karena harga jual tiket pesawat yang semakin terjangkau.Kepala Bagian Humas PT Pelni Edi Haryadi mengatakan relevansi antara penurunan tarif dengan rendahnya tingkat isian penumpang memang ada, tetapi saat ini dampaknya tidak terlalu signifikan."Kalau tarif diturunkan untuk meningkatkan jumlah penumpang, saya rasa tidak akan berdampak besar. Sejak berlaku bulan lalu, kenaikannya masih di bawah 5%," ujarnya. (Bisnis/22)
Bisnis Indonesia

DINAMIKAEkspor lesu karena permintaan

JAKARTA: Penambahan fasilitas pembiayaan perdagangan dinilai tidak akan efektif memulihkan aktivitas perdagangan internasional, mengingat permasalahan yang timbul saat ini bukan disebabkan oleh faktor pembiayaan, melainkan pengerutan pasar.Dradjad Hari Wibowo, anggota Komisi XI DPR, menilai tidak tepat jika trade financing dijadikan solusi atas merosotnya aktivitas perdagangan dunia. Jika fasilitas ini dipaksakan justru akan menjebak para eksportir/ importir ke dalam masalah pembiayaan."Seharusnya pemerintah justru lebih fokus pada penguatan pasar dalam negeri dan menjaga stabilitas perdagangan internasional," ujarnya kemarin. (Bisnis/16)
bisnis.com

Infrastruktur hambat investasi

SINGKAWANG: Kepala Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Kalimantan Barat M. Zeet Hamdy Assovie mengatakan masalah infrastruktur, listrik, dan air bersih menjadi penghambat utama investasi di provinsi itu."Padahal, untuk kemudahan perizinan, Kalbar masuk lima besar nasional hasil survei KPPOD," ujarnya kemarin.Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), lanjut M Zeet, mencalonkan Kalbar untuk mendapat Investment Award.Namun karena keterbatasan infrastruktur, air bersih dan listrik, penghargaan itu akhirnya diberikan ke provinsi lain.Untuk membenahi infrastruktur di Kalbar dibutuhkan dana sekitar Rp5 triliun. (Antara)

Pemilik barang keluhkan tarif lini 2 PriokDephub segera panggil perwakilan asosiasi

JAKARTA: Depalindo mendesak Departemen Perhubungan mengkaji ulang pengaturan tarif lini 2 di Pelabuhan Tanjung Priok, karena tarif yang dikenakan untuk pelayanan jasa forwarding dan pergudangan terhadap barang dan peti kemas impor di pelabuhan itu dinilai tidak wajar.Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro mengatakan Dephub perlu segera turun tangan agar tarif pelayanan jasa kepelabuhanan di lini 2 Tanjung Priok tidak terus melambung tanpa ada patokan yang jelas."Kami meminta agar tarif lini 2 di Pelabuhan Priok yang berlaku sekarang ditinjau ulang karena besaran dan komponen tarifnya tidak wajar. Untuk mengeluarkan kargo sebanyak 0,3 m3 saja bisa mencapai Rp6 juta, belum lagi pemilik barang juga harus membayar sejumlah pungutan yang mencapai US$100 per m3," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.Menurut dia, penetapan tarif lini 2 juga tidak pernah disosialisasikan kepada pengguna jasa dan tidak memiliki landasan hukum yang kuat. "Untuk itu, kami akan mengadukan masalah itu melalui jalur hukum," tegasnya.Toto menambahkan Depalindo telah menyiapkan laporan tertulis mengenai keberatan pemilik barang atas tarif lini 2 di Pelabuhan Priok dan segera disampaikan kepada Menteri Perhubungan, Menteri Perdagangan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri Depdag, dan Tim Keppres 54 tentang kelancaran arus barang di pelabuhan.Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Seluruh Indonesia (Gafeksi) juga pernah mendesak Dephub segera menetapkan komponen tarif lini 2 di Pelabuhan Priok yang terkatung-katung lebih dari 2 tahun."Dephub harus secepatnya menetapkan komponen tarif lini 2 tersebut, karena hal itu sudah ditunggu oleh pelaku usaha di Pelabuhan Tanjung Priok," ujar Ketua Bidang Kepabeanan Gafeksi DKI Jakarta Widijanto, beberapa waktu lalu.Sementara itu, Sekretaris Ditjen Perhubungan Laut Dephub Bobby R. Mamahit mengatakan pihaknya sudah mendapatkan instruksi dari Dirjen Perhubungan Laut untuk menangani persoalan yang dikeluhkan oleh pelaku usaha di Pelabuhan Priok terkait dengan tarif lini 2.Panggil asosiasiKendati begitu, Bobby belum bisa menargetkan kepastian waktu untuk menyelesaikan kemelut tarif lini 2 itu karena hingga kini belum ada titik temu mengenai jenis dan komponen tarif antarasosiasi penyedia dan pengguna jasa di Pelabuhan Priok."Kami akan mendorong Adpel [administrator pelabuhan] Tanjung Priok untuk secepatnya menyelesaikan masalah ini dan segera memanggil seluruh asosiasi terkait untuk mencari titik temu," tegasnya.Komponen dan jenis tarif lini 2 Pelabuhan Priok sebelumnya telah disepakati oleh sejumlah asosiasi di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu pada 28 Mei 2007. Asosiasi itu yakni Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), Indonesian National Shipowner's Association (INSA) DKI Jakarta, Aptesindo, Gafeksi DKI, dan Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI). (k1) (redaksi@bisnis.co.id)
Sumber Bisnis Indonesia