Jumat, 05 Februari 2010

Melacak jejak politik kerbau

Jumat, 05/02/2010 11:08:58 WIB
Karier politik Karebet dari anak desa hingga menjadi Sultan Pajang tidak bisa dilepaskan dari cerita tentang kerbau. Beberapa kerabat dekat­­­nya juga menggunakan nama kebo yang artinya adalah kerbau.
Karebet adalah anak dari Kebo Kenanga dan keponakan dari Kebo Kanigara. Kebo Kenanga yang dikenal pula dengan sebutan Handa­yaningrat terbunuh dalam konflik melawan kelompok Sunan Kudus di Demak. Adapun Kebo Kanigara te­tap mempertahankan agama le­lu­hur­nya dan menyepi di pegunungan.
Sepeninggal ayahnya, Karebet di­asuh oleh kerabatnya, seorang wanita kaya dari Desa Tingkir, se­hingga anak Kebo Kenanga itu ke­tika remaja dikenal pula dengan sebutan Jaka Tingkir.
Jaka Tingkir mulai masuk ling­kar­an istana setelah Sultan Treng­gana dari Demak terkesan oleh kehebatan anak muda itu.
Namun, karier Karebet yang hebat itu tidak berjalan mulus. Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa Karebet dipersalahkan karena membunuh Dadung­awuk ketika pria itu men­jalani tes sebagai calon prajurit.
Dadungawuk di­bunuh dengan tusuk kondhe, sebuah peralatan rias yang secara nalar tidak mungkin digunakan untuk membunuh. Para ahli sejarah menafsirkan tusuk kondhe sebagai kiasan bahwa Kare­bet diusir dari istana Demak karena bermain api dengan putri Sultan. Nah, setelah diusir dari istana itulah muncul cerita tentang kerbau.
H. J. De Graaf dalam bukunya Awal Kebangkitan Mataram menyebutkan Karebet pergi menemui Ki Buyut Banyubiru. Di sana dia mendapat siasat agar diterima kembali ke dalam lingkungan istana Demak.
Cerita bertutur menyatakan Karebet membawa segumpal tanah yang telah diberi mantera dari Banyu­­biru. Sampai di Demak, dia memasukkan tanah itu ke mulut seekor kerbau yang segera mengamuk di sekitar istana.
Para prajurit kewalahan mena­nga­ni kerbau perkasa yang terus mengamuk hingga 3 hari itu. Lalu muncullah Karebet mendekati si kerbau yang disebut sebagai kebo danu. Dia menjinakkannya kemudian memukul kepala kerbau itu hingga hancur.
Karebet berhasil menarik simpati Sultan Trenggana sehingga diterima kembali ke istana, bahkan kemudian diangkat menjadi menantu Sul­tan. Di kemudian hari, Karebet men­jadi pewaris kekuasaan Demak namun memimpin dari Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.
Sebagaimana cerita tentang membunuh calon prajurit dengan tusuk kondhe, cerita tentang membunuh kerbau yang mengamuk ini pun kadang dianggap sebagai kiasan belaka.
Cerita silat yang sangat terkenal di Jawa, Nagasasra & Sabukinten, dalam hemat saya adalah upaya pengarangnya, Singgih Hadi Min­tar­dja, untuk menafsirkan cerita tentang kerbau itu.
Dalam versi Nagasasra & Sabuk­inten, kerbau yang mengamuk di­maknai sebagai upaya Banyubiru memberontak terhadap Demak. Makanya dalam salah satu adegan cerita itu, pemimpin Banyubiru berteriak, "Akulah kebo danu dari Banyubiru!"
Jadi, Karebet sengaja meman­cing kesalahpahaman antara Demak dan Banyubiru sehingga pemimpin Banyu­biru menyerang Sultan Treng­gana. Lalu datanglah Karebet yang memberi jalan tengah sehingga dia diterima kembali masuk istana.
Cerita bertutur dan cerita rakyat Jawa umumnya percaya bahwa kerbau Banyubiru yang disebut dalam Babad Tanah Jawi adalah kerbau betulan, bukan kerbau kiasan.
Kambing hitam
Cerita lain tentang raja Jawa yang juga memanfaatkan 'kebo' untuk men­daki puncak kekuasaan bisa kita simak dari Ken Arok. Ken Arok adalah pendiri dinasti Singasari, kerajaan terbesar di Jawa pada abad XIII.
Ken Arok awalnya adalah seorang penjahat yang diterima masuk sebagai pengawal Raja Tumapel, Tung­gul Ametung. Di dalam istana ada orang sombong dan suka pamer yang bernama Kebo Ijo.
Ken Arok meminjamkan sebuah keris sakti bernama Kiai Gandring kepada Kebo Ijo. Dasar tukang pamer, keris hebat itu dibawa-bawa dan ditunjukkan oleh Kebo Ijo kepada teman-temannya.
Tak lama kemudian Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan meninggalkan keris sakti itu di tempat kejadian. Karena semua orang tahu keris itu milik Kebo Ijo maka dialah yang menjadi kambing hitam, dituduh dan dihukum atas pembunuhan itu.
Adapun Ken Arok justru naik tah­ta menggantikan Tunggul Ame­tung, lalu mendirikan kerajaan Singasari pada tahun 1222. Maka, barangkali, terjemahan tepat untuk 'kambing hitam' dalam Bahasa Jawa adalah kebo ijo yang arti harfiahnya adalah kerbau berwarna hijau.
Cerita ekspan­si Majapahit di bawah kepemimpinan Gajah Mada juga diwarnai cerita tentang kerbau. Pa­sukan Majapahit yang ingin me­wujudkan Sumpah Palapa me­nya­tu­kan Nusantara ternyata gagal dalam adu kerbau di Sumatra. Lagi-lagi, kerbau menjadi alat politik.
Nah, sepekan belakangan ini soal kerbau hangat dibicarakan dalam konteks politik. Pemicunya adalah demonstran yang membawa-bawa hewan ternak itu dalam demons­trasi. Ada bermacam penafsiran baik terhadap makna kerbau itu sendiri maupun terhadap tata tertib demonstrasi sebagai elemen demo­krasi.
Cerita berlatar belakang abad XIII, XIV dan XVI, baik melalui Kebo Ijo, adu kerbau, maupun kerbau Banyubiru menunjukkan bah­wa kebo memang bisa menjadi ken­daraan politik di Jawa. Tinggal pilih mana, meraih simpati seperti Kare­bet atau gagal total seperti pa­sukan Majapahit. (Oleh: Setyardi Widodo/bisnis.com)

Tidak ada komentar: