JAKARTA (bisnis.com): Realisasi nilai ekspor Indonesia pada Maret masih turun 28,87% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, realisasi ekspor mengalami kenaikan US$8,54 miliar atau naik 20,64%.Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan peningkatan ekspor Maret 2009 disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar 20% yaitu dari US$6 juta menjadi US$7 juta."Ekspor migas juga mengalami peningkatan sebesar 23,93% dari US$1,02 juta menjadi US$1,2 juta," katanya kepada pers di kantornya hari ini.Rusman menuturkan kenaikan ekspor pada Maret sebagian besar ditopang oleh resource base yaitu pertanian dan pertambangan masing-masing 0,87% dan 10,74%."Pertambangan khususnya batu bara yang pada Maret volume ekspornya sangat tinggi. Jadi ekspor bulan Maret bukan ditopang industri melainkan pertanian dan pertambangan," tuturnya. (tw)
Impor naik 9,94% jadi US$6,53 miliar
JAKARTA (bisnis.com): Nilai impor Indonesia pada Maret mencapai US$6,53 miliar atau naik 9,94% dibandingkan Februari sebesar US$5,9 miliar.Selama Januari-Maret, nilai impor mencapai US$19 miliar atau turun 35,85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan kenaikan nilai impor pada Maret disebabkan peningkatan impor nonmigas sebesar US$637,3 juta atau naik 12,81%. "Walaupun impor migas menurun US$47 juta atau turun 4,87%," katanya kepada pers di Jakarta hari ini. Menurut dia, penurunan impor migas disebabkan berkurangnya impor hasil minyak sebesar 7,17% menjadi US$539 juta dan impor gas turun sebesar 38,76% menjadi US$43,3 juta. "Sementara itu, impor minyak mentah meningkat sebesar 7,8% menjadi US$334 juta," tuturnya.Rusman menambahkan negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh China dengan nilai US$2,85 miliar dengan pangsa 17,89%, diikuti Jepang US$2,13 miliar, dan Singapura US$1,89 miliar. "Sementara impor nonmigas dari Asean mencapai 22,37% dan Uni Eropa sebesar 11,80%". (tw)
JAKARTA (bisnis.com): Nilai impor Indonesia pada Maret mencapai US$6,53 miliar atau naik 9,94% dibandingkan Februari sebesar US$5,9 miliar.Selama Januari-Maret, nilai impor mencapai US$19 miliar atau turun 35,85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan kenaikan nilai impor pada Maret disebabkan peningkatan impor nonmigas sebesar US$637,3 juta atau naik 12,81%. "Walaupun impor migas menurun US$47 juta atau turun 4,87%," katanya kepada pers di Jakarta hari ini. Menurut dia, penurunan impor migas disebabkan berkurangnya impor hasil minyak sebesar 7,17% menjadi US$539 juta dan impor gas turun sebesar 38,76% menjadi US$43,3 juta. "Sementara itu, impor minyak mentah meningkat sebesar 7,8% menjadi US$334 juta," tuturnya.Rusman menambahkan negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh China dengan nilai US$2,85 miliar dengan pangsa 17,89%, diikuti Jepang US$2,13 miliar, dan Singapura US$1,89 miliar. "Sementara impor nonmigas dari Asean mencapai 22,37% dan Uni Eropa sebesar 11,80%". (tw)
Deflasi April tercatat 0,31%
JAKARTA (bisnis.com): BPS mencatat terjadi deflasi pada April sebesar 0,31% setelah mengalami inflasi dua bulan berturut-turut sejak Februari.Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok bahan makanan 1,33% dan kelompok sandang 1,70%."Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, listrik dan kontrakan," katanya kepada pers di kantornya hari ini.Dia menuturkan dari 66 kota yang dipantau BPS, sebanyak 50 kota mengalami deflasi, 16 kota inflasi. Deflasi tertinggi di Manado 1,32%, deflasi terendah di Surakarta 0,02%. Inflasi tertinggi terjadi di Palopo 0,99%, terendah di Palangkaraya 0,06%."Laju inflasi tahun kalender [Januari-April] 2009 sebesar 0,05%, sedangkan laju inflasi yoy sebesar 7,31%," jelasnya.Menurut Rusman, dampak penyelenggaraan pemilu legislatif sudah tidak lagi berpengaruh terhadap inflasi. "Kalau dikaitkan dengan belanja pemilu sudah tidak ada lagi sebab pemilu di awal bulan tapi sudah ada masa tenang dan tidak ada belanja sandang karena yang naik adalah pakaian pribadi," tambahnya. (tw)
JAKARTA (bisnis.com): BPS mencatat terjadi deflasi pada April sebesar 0,31% setelah mengalami inflasi dua bulan berturut-turut sejak Februari.Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok bahan makanan 1,33% dan kelompok sandang 1,70%."Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, listrik dan kontrakan," katanya kepada pers di kantornya hari ini.Dia menuturkan dari 66 kota yang dipantau BPS, sebanyak 50 kota mengalami deflasi, 16 kota inflasi. Deflasi tertinggi di Manado 1,32%, deflasi terendah di Surakarta 0,02%. Inflasi tertinggi terjadi di Palopo 0,99%, terendah di Palangkaraya 0,06%."Laju inflasi tahun kalender [Januari-April] 2009 sebesar 0,05%, sedangkan laju inflasi yoy sebesar 7,31%," jelasnya.Menurut Rusman, dampak penyelenggaraan pemilu legislatif sudah tidak lagi berpengaruh terhadap inflasi. "Kalau dikaitkan dengan belanja pemilu sudah tidak ada lagi sebab pemilu di awal bulan tapi sudah ada masa tenang dan tidak ada belanja sandang karena yang naik adalah pakaian pribadi," tambahnya. (tw)
oleh : Achmad Aris / Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar