PADANG: Gubernur Sumatra Barat mengusulkan manajemen PT Pelindo II cabang Pelabuhan Teluk Bayur diganti, jika mereka tidak segera memperbaiki tiga crane yang rusak pekan lalu sehingga merugikan para pelaku usaha.Ancaman orang nomor satu di Sumbar itu tidak main-main karena dari laporan Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Sumbar setidaknya 100 ton karet gagal diekspor.Bahkan, manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Teluk Bayur mengakui sedikitnya 300 TEUs peti kemas ekspor tertahan tidak bisa dikapalkan dari Padang. Peti kemas ekspor itu akan transshipment ke Pelabuhan Tanjung Priok berisi komoditas karet dan hasil perkebunan yang ditinggal karena sudah tidak bisa terhubung dengan jadwal pengapalan di Singapura pekan lalu."Saya mengerti kekesalan pelaku usaha atas kelalaian itu. Untuk itu saya bisa lapor ke pusat agar Pelindo memperbaiki pelayanannya. Kalau perlu diganti manajemen sehingga pelaku usaha tidak dirugikan," ungkap Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi dihubungi Bisnis kemarin.Dia sedang berada di Jakarta mengikuti acara evaluasi pemilu legislatif dan persiapan pemilu presiden bersama 31 gubernur lainnya.Gubernur Sumbar mengatakan kerusakan crane itu bisa saja menjadi langkah awal untuk mengambil alih pengelolaan dari Pelindo ke pemerintah daerah. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan secepatnya.Dia mengatakan dengan adanya UU No. 17/2008 memang memberi peluang bagi pemda untuk mengelola pelabuhan, tetapi peraturan pemerintah yang akan menjabarkan pelaksanaannya belum terbit.Asnawi Bahar, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin), mengaku heran dengan kualitas infrastruktur di Pelabuhan Teluk Bayur sejak terjadinya kerusakan tiga crane secara serentak di pelabuhan itu.Dikelola pemdaDia menegaskan PT Pelindo II lalai dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengelola Pelabuhan Teluk Bayur. Oleh karena itu, Kadin mendesak agar Teluk Bayur dikelola oleh pemda.Hal senada disampaikan Sekretaris Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) cabang Padang Djaswir Loewis. Pada saat kerusakan crane itu, ungkapnya, terdapat lebih dari 100 ton karet yang tertunda pengirimannya.Sementara itu, Humas Pelindo II Cabang Teluk Bayur Andi Agus Yahya mengakui perusahaan agak lamban dalam perbaikan crane itu. Dia menjelaskan masih ada satu crane jenis top loader yang dibeli pada 2002 yang bisa difungsikan. Adapun dua lagi jenis reach stacker yang dibeli pada 2005 masih dalam perbaikan."Kemungkinan perbaikan akan masih dilakukan dalam 1 pekan ke depan," ungkapnya ketika dikonfirmasi Bisnis pekan lalu, tanpa menjelaskan waktu pasti perbaikan itu akan selesai.Namun, dia menolak jika dinilai selama ini Pelindo tidak memberikan kontribusi apa pun kepada daerah.General Manager PT Pelindo II cabang Teluk Bayur Kusbiyantoro ketika dikonfirmasikan hal itu membenarkan alat bongkar muat peti kemas di pelabuhan itu mengalami kerusakan yakni dua unit reach stacker yang rusak sejak 16 April ."Tapi bongkar muat peti kemas terhenti hanya 3 hari karena satu unit alat sudah beroperasi normal," katanya.
(k6/Aidikar M. Saidi/Bambang Supriyanto)
(redaksi@bisnis. co.id)
Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar