"Dilihat dari kinerja ekspor saat ini, di mana sudah mulai terlihat ada kenaikan, saya kira ekspor sampai akhir tahun akan mengalami koreksi seperti target kita sebelumnya yakni hanya 10%-15%. Saya rasa ini cukup baik untuk kita," kata Mari melalui sambungan telepon dari Jenewa, Swiss, Rabu.
Seperti diketahui, data yang dirilis BPS menyebutkan ekspor nonmigas Oktober 2009 mencapai US$10,16 miliar, naik 25,54% dibandingkan dengan September 2009. Apabila dibandingkan dengan Oktober 2008, nilai ekspor meningkat 14,10%. Secara kumulatif, nilai ekspor nonmigas Januari-Oktober 2009 mencapai US$78,24 miliar atau menurun 15,13% dari periode sama tahun lalu.
Secara terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Perdagangan Muchtar mengatakan membaiknya kinerja ekspor dari bulan ke bulan juga mengikuti situasi pasar ekspor di negara tujuan ekspor utama Indonesia.
Dia mengatakan hampir semua negara tujuan ekspor Indonesia mencatat peningkatan nilai. Di kelompok Asean, misalnya, ekspor ke Thailand mencatat peningkatan tertinggi 35% dibandingkan ke negara anggota Asean lainnya.
Di antara negara Uni Eropa, ekspor ke Prancis mencatat peningkatan 41% sementara Jepang dan Korea Selatan memimpin peningkatan ekspor sebesar 57% di antara negara utama tujuan ekspor lainnya.
"Semuanya positif, bahkan di tiga negara seperti AS, Jepang, dan Uni Eropa yang sebelumnya menyumbang penurunan ekspor bagi kita," kata Muchtar. Amerika sendiri menyumbang kenaikan nilai ekspor 17% sementara Eropa sebesar 17%.
Dampak Dubai
Mukhtar menambahkan kinerja ekspor tujuan Timur Tengah khususnya ke Dubai, Uni Emirat, Arab, hingga saat ini belum terganggu terkait dengan krisis Dubai World.
Dia mengatakan kalau yang terkait dengan perdagangan ekspor-impor tidak terlalu banyak berdampak terhadap kinerja ekspor Indonesia.
"Pasti ada [dampak Dubai World], tetapi tidak terlalu banyak, karena itu hanya terjadi di Dubai, bukan di keseluruhan negara-negara di wilayah Timur Tengah," ujarnya kepada Bisnis, kemarin. (Sepudin Zuhri)
Oleh Maria Y. BenyaminJAKARTA: Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu optimistis kinerja ekspor nonmigas akan sejalan dengan target yang telah ditetapkan pemerintah sebelumnya, yakni hanya mengalami koreksi 10%-15% pada 2009 dan tumbuh 5% pada tahun depan.
"Dilihat dari kinerja ekspor saat ini, di mana sudah mulai terlihat ada kenaikan, saya kira ekspor sampai akhir tahun akan mengalami koreksi seperti target kita sebelumnya yakni hanya 10%-15%. Saya rasa ini cukup baik untuk kita," kata Mari melalui sambungan telepon dari Jenewa, Swiss, Rabu.
Seperti diketahui, data yang dirilis BPS menyebutkan ekspor nonmigas Oktober 2009 mencapai US$10,16 miliar, naik 25,54% dibandingkan dengan September 2009. Apabila dibandingkan dengan Oktober 2008, nilai ekspor meningkat 14,10%. Secara kumulatif, nilai ekspor nonmigas Januari-Oktober 2009 mencapai US$78,24 miliar atau menurun 15,13% dari periode sama tahun lalu.
Secara terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Perdagangan Muchtar mengatakan membaiknya kinerja ekspor dari bulan ke bulan juga mengikuti situasi pasar ekspor di negara tujuan ekspor utama Indonesia.
Dia mengatakan hampir semua negara tujuan ekspor Indonesia mencatat peningkatan nilai. Di kelompok Asean, misalnya, ekspor ke Thailand mencatat peningkatan tertinggi 35% dibandingkan ke negara anggota Asean lainnya.
Di antara negara Uni Eropa, ekspor ke Prancis mencatat peningkatan 41% sementara Jepang dan Korea Selatan memimpin peningkatan ekspor sebesar 57% di antara negara utama tujuan ekspor lainnya.
"Semuanya positif, bahkan di tiga negara seperti AS, Jepang, dan Uni Eropa yang sebelumnya menyumbang penurunan ekspor bagi kita," kata Muchtar. Amerika sendiri menyumbang kenaikan nilai ekspor 17% sementara Eropa sebesar 17%.
Dampak Dubai
Mukhtar menambahkan kinerja ekspor tujuan Timur Tengah khususnya ke Dubai, Uni Emirat, Arab, hingga saat ini belum terganggu terkait dengan krisis Dubai World.
Dia mengatakan kalau yang terkait dengan perdagangan ekspor-impor tidak terlalu banyak berdampak terhadap kinerja ekspor Indonesia.
"Pasti ada [dampak Dubai World], tetapi tidak terlalu banyak, karena itu hanya terjadi di Dubai, bukan di keseluruhan negara-negara di wilayah Timur Tengah," ujarnya kepada Bisnis, kemarin. (Sepudin Zuhri/Maria Y. Benyamin/Bisnis Indonesia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar