JAKARTA: PT Pelabuhan Indonesia II akan memisahkan secara tegas kegiatan pelayanan kapal peti kemas internasional dan domestik di Pelabuhan Tanjung Priok mulai tahun depan.
Direktur Utama PT Pelindo II Richard Jose Lino mengatakan pemisahan itu sejalan dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 61/2009 tentang Kepelabuhanan yang merupakan aturan turunan dari UU No.17/2008 tentang Pelayaran yang mengamanatkan Pelindo sebagai operator.
Pemisahan itu, paparnya, di antaranya mengalihfungsikan pengoperasian terminal 2 Jakarta International Container Terminal (JICT) dan Multi Terminal Indonesia (MTI) sebagai pelayanan peti kemas domestik, sedangkan pelayanan peti kemas internasional hanya dapat dilakukan di terminal 1 JICT dan TPK Koja.
"Dengan pemisahan itu diharapkan produksi peti kemas domestik di terminal JICT 2 dan MTI bisa mencapai 2 juta TEUs dan peti kemas internasional di JICT 1 dan TPK Koja sebanyak 4 juta TEUs," katanya, pekan lalu.
Lino memaparkan sampai saat ini pengelolaan terminal operator oleh pihak swasta di Pelabuhan Priok masih dilakukan upaya konsolidasi dan pengkajian internal. "Kami belum bisa memastikan apakah sistem TO [terminal operator] di Priok itu dilanjutkan atau tidak," ujarnya.
Dia mengungkapkan BUMN itu kini membutuhkan dana yang cukup besar seiring dengan rencana mewujudkan fasilitas pelabuhan pengumpul (hub) regional di Pelabuhan Priok.
Selain itu, lanjut Lino, Pelindo II akan melakukan pengembangan lahan pelabuhan, investasi sejumlah peralatan bongkar muat jenis crane di beberapa pelabuhan cabang, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang seluruhnya mengarah pada peningkatan produktivitas pelayanan.
Dia menuturkan untuk mendukung program pengembangan pelabuhan dalam jangka panjang Pelindo II berencana menerbitkan obligasi yang ditawarkan kepada publik untuk memperkuat finansial perseroan.
Menurut dia, penerbitan obligasi akan direalisasikan pada pertengahan 2010 setelah persiapan teknis internal selesai dan memperoleh izin dari Menteri Keuangan. "Pada tahap awal kami akan kucurkan obligasi dengan nilai lebih dari Rp1 triliun. Namun, hal itu masih perlu kami persiapkan secara teknis. Kira-kira butuh waktu sekitar 6 bulan lagi," katanya.
Lino mengungkapkan selain mencanangkan hub di Pelabuhan Priok pada 2014 dengan kebutuhan investasi Rp6 trilun, Pelindo II juga telah memprogramkan investasi US$100 juta untuk pengadaan crane darat yang akan dioperasikan sebagai pendukung bongkar muat di fasilitas dermaga Pelabuhan Priok, Panjang, Palembang, Pontianak, Bengkulu, dan Teluk Bayur.
"Salah satu cara memperoleh dana untuk investasi itu adalah melalui obligasi ataupun pinjaman bank. Namun, sebelumnya kami akan bicarakan lebih intensif dengan pemerintah." (k1)
Bisnis Indonesia
Senin, 16 November 2009
Pelayanan kapal peti kemas di Priok segera dipisah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar