Senin, 09 November 2009

Pelayaran minta stimulus tarif bongkar muat

JAKARTA: Pengusaha pelayaran nasional meminta pemerintah memberikan stimulus tarif bongkar muat di pelabuhan di tengah kondisi pasar angkutan laut yang belum normal.

Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Johnson W. Sutjipto mengatakan stimulus dapat berupa penerapan tarif bongkar muat tunggal bagi kapal yang akan berlayar ke luar negeri, tetapi harus singgah terlebih dahulu di pelabuhan domestik.

"Misalnya, bagi kapal dari Palembang yang mau ke Singapura tetapi harus singgah dulu di Jakarta, itu sebaiknya tarif bongkar muat yang dikenakan hanya sekali, yaitu tarif bongkar muat internasional," katanya, akhir pekan lalu.

Menurut Johnson, selama ini kapal dari kota-kota lain yang singgah dulu di Jakarta sebelum melakukan perjalanan ke luar negeri dikenakan dua kali tarif bongkar muat internasional.

"Sebagai gambaran kapal rute Palembang-Jakarta-Singapura, dari Palembang ke Jakarta dikenakan tarif bongkar muat internasional. Selanjutnya, dari Jakarta ke Singapura juga dikenakan tarif bongkar muat internasional," ungkapnya.

Dia menambahkan PT Pelabuhan Indonesia minimal hanya mengenakan tarif bongkar muat domestik untuk rute pelabuhan dalam negeri. Setelah itu, lanjutnya, Pelindo mengenakan tarif bongkar muat internasional untuk rute pelabuhan dalam negeri ke luar negeri.

"Namun, kami mengharapkan agar ada stimulus, yakni satu kali pengenaan tarif bongkar muat internasional bagi kapal yang singgah terlebih dahulu di pelabuhan domestik, baru melanjutkan perjalanan ke luar negeri," ujarnya.

Dia menegaskan stimulus itu juga dapat membantu rencana Pelindo II untuk menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan pengumpul atau hub port.

Pasalnya, menurut Johnson, sebetulnya bisa saja kapal berlayar dari Palembang langsung ke Singapura, tetapi kalau ada stimulus, barang bisa singgah dulu di Jakarta.

"Dengan kata lain, pemilik barang juga mau terlebih dahulu singgah ke Jakarta sebelum ke Singapura karena tarif bongkar muat hanya sekali yang internasional. Tarif bongkar muat itu dampaknya cukup signifikan terhadap tarif angkut."

Johnson menuturkan stimulus dari pemerintah diharapkan dapat merangsang pasar angkutan domestik dan internasional karena tarif angkut yang semakin rendah.

Dia mengungkapkan akibat kelangkaan barang muatan, secara global jumlah kapal yang dikandangkan atau tidak dioperasikan hingga 28 September 2009 sebanyak 548 unit dengan total kapasitas angkut 1,29 juta TEUs.

"Jumlah yang dikandangkan itu sama dengan 10% dari total armada kapal yang dioperasikan di seluruh dunia. Khusus di Indonesia, kami belum mendata berapa jumlah kapal yang dikandangkan."

Oleh Raydion Subiantoro
Bisnis Indonesia

Tidak ada komentar: