Senin, 12 Oktober 2009

Biaya peti kemas ke Asia terpuruk Tarif pengiriman ke Eropa mulai membaik

JAKARTA: Tarif pengiriman peti kemas dari Pelabuhan Tanjung Priok ke sejumlah negara di Asia diperkirakan masih terpuruk dalam 2 tahun mendatang, menyusul perekonomian di kawasan itu yang belum sepenuhnya pulih.


Ketua Bidang Kontainer Dewan Pengurus Pusat Indonesia National Shipowners' Association (INSA) Hery Asmari mengatakan saat ini operator pelayaran yang melayani pengiriman ke Asia cukup banyak, tetapi volume pengiriman menurun signifikan dibandingkan dengan kondisi tahun lalu.

Dia mengungkapkan saat ini tarif pengiriman dari Pelabuhan Priok ke pelabuhan di Singapura, Hong Kong, dan Thailand, untuk peti kemas ukuran 20 kaki sekitar US$100 dan peti kemas 40 kaki sebesar US$150.

Menurut dia, tarif itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi tahun lalu saat perekonomian masih bergairah, yakni sekitar US$300-US$400 untuk peti kemas 20 kaki.

"Sekarang tarif US$100 untuk peti kemas 20 kaki itu sudah all in [total biaya]. Itu pun operator pelayaran dipaksa menyubsidi karena untuk biaya di Pelabuhan Tanjung Priok saja sudah habis sekitar US$90," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Dengan kondisi itu, paparnya, operator pelayaran jarang mendapat keuntungan dari pengiriman peti kemas ke negara-negara di Asia. "Jangankan memikirkan untung, operator pelayaran justru harus menombok kalau ke Asia," tutur Hery.

Ketua Umum Dewan Pengguna Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro mengakui tarif pengiriman ke negara-negara di Asia memang masih rendah, dipicu oleh volume peti kemas yang menurun.

"Memang belum ada perbaikan untuk pengiriman ke Asia, mungkin karena perekonomian global yang juga belum membaik. Selain itu, banyaknya operator pelayaran menjadi pemicu anjloknya tarif," tutur Toto.

Kondisi pasar pengiriman dari Pelabuhan Priok ke negara-negara di Asia kini berbanding terbalik dengan pengiriman dari pelabuhan tersibuk di Indonesia itu ke sejumlah negara di kawasan Eropa.

Tarif ke Eropa


Menurut Hery, tarif pengiriman ke Eropa sudah mulai membaik karena saat ini jumlah armada yang melayani pengiriman sudah semakin sedikit seiring dengan langkah pemilik mengandangkan kapalnya.

"Kalau ke Eropa sudah mulai membaik karena kapal-kapal juga sudah ada yang tidak beroperasi. Selain itu, momen Natal dan tahun baru juga menyebabkan pengiriman meningkat," katanya.

Dia mengungkapkan tarif pengiriman ke sejumlah negara di Eropa untuk peti kemas 20 kaki kini berkisar US$900-US$1.200 atau naik dibandingkan dengan kondisi pada awal tahun 2009 yang hanya sekitar US$600, tetapi masih lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu sebelum krisis, yakni lebih dari US$1.500.

Toto mengakui tarif pengiriman ke Eropa naik signifikan, khusunya setelah Lebaran.

"Saya belum mengetahui alasan yang pasti tarif naik drastis karena volume ekspor sebetulnya juga masih rendah," paparnya.

Sementara itu, untuk pengiriman ke Amerika Serikat, tren tarif peti kemas juga belum menunjukkan perbaikan. Saat ini, ungkap Hery, tarif peti kemas 20 kaki berkisar antara US$1.000 dan US$1.200.

"Perekonomian di AS memang belum begitu membaik. Volume pengiriman ke sana juga masih sedikit, sehingga biaya pengiriman belum menunjukkan perbaikan," katanya.

Adapun, untuk pengiriman domestik antarpulau, tarif sudah mulai kembali turun setelah Lebaran berlalu karena volume pengiriman yang juga turun.

Hery mengungkapkan untuk pengiriman jalur Pelabuhan Tanjung Priok-Medan, tarif peti kemas 20 kaki sebesar Rp3,5 juta-Rp4 juta atau turun dibandingkan dengan saat masa angkutan Lebaran, yakni di atas Rp4,5 juta.

"Untuk Tanjung Priok-Makassar turun cukup banyak, bahkan kembali ke kondisi normal setelah Lebaran, yakni dari Rp4 juta menjadi Rp2,5 juta-Rp3 juta," tutur Hery (Raydion Subiantoro/Bisnis Indonesia/s).

Tidak ada komentar: