| Wartawan Forwami dan Saptono Dirkomersil IPC |
WARTAINDONESIA/Jakarta-Dalam rangka
merealisasikan pertumbuhan ekonomi secara nasional dan menjaga disparitas harga
barang kebutuhan masyarakat,keberadaan Pelabuhan sebagai lalu lintas arus
barang sangat perlu perhatian terhadap
percepatan arus distribusi ke tempat
tujuan terutama pada pulau terluar dengan konsep pemerintah dalam mewujudkan
tol laut..
Dimana konsep Tol Laut merupakan salah satu kunci pemeratan ekonomi
nasional. Pihak Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan, telah memfungsikan
kepada Otoritas Pelabuhan (regulator) untuk mengatur dan telah siap melaksanakan
perwujudan konsep tersebut, hal ini disampaikan pihak Otoritas Pelabuhan (OP)
Tanjung Priok melalui Kasie Lala,Irianti saat acara Pekan Orientasi Forum
Wartawan Maritim Indonesia (Forwami), di Cisarua Bogor pekan kemarin.
Untuk mewujudkan pelabuhan sebagai sarana prasarana percepatan
pendistribusian barang baik antar pulau maupun luar negeri, tentu pelabuhan
segera harus dibenahi atau dibangun infrastrukturnya dan fasilitas di perbaiki
secara modren dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan yang prima terhadap
pengguna jasa kepelabuhanan. Demikian dikatakan Direktur Komersial dan
Pengembangan Usaha IPC/Pelindo II Saptono RI dalam sambutannya saat membuka Pekan Orientasi
Forwami.
Saptono RI mengatakan Pelabuhan Tanjung Priok misalnya,sebagai Pelabuhan
terbesar di Indonesia perlu pembenahan.Penataan Pelabuhan Tanjung Priok setiap
tahun harus ditata agar mampu bersaing dengan pelabuhan Internasional lainnya,
baik Asia dan Eropa.Keterbatasan lahan tidak membuat IPC menyerah mengembangkan
kapasitas di pelabuhan Tanjung Priok. Karena kemajuan suatu negara itu yang
menjadi salah satu tolak ukur adalah tergantung pada fasilitas kemaritimannya.
“Saat ini telah banyak kita melakukan pembenahan fasilitas pelabuhan antara
lain penambahan lapangan petikemas dengan betonisasi dan lapangan penumpukan barang,mengatur
manajemen lalu lintas didalam pelabuhan agar terjadi kemacetan dan tidak
semraut,bahkan pendalaman kolam dan alur agar kapal-kapal besar dapat masuk “
ujarnya.
Optimalisasi lahan yang sempit harus diprioritaskan agar dapat dimanfaatkan
untuk produktifitas. Salah satunya adalah pembangunan New Priok Conatiner
Terminal 1 atau NPCT 1 Kalibaru
Dimana NPCT 1 memiliki luas mencapai
500 hektar, dan pembangunnya dilakukan dua tahap. Tahap pertama tersedia
terminal petikemas internasional dengan didukung fasilitas alat yang berstandar
modern. NPCT1 memiliki luas lahan sekitar 32 hektar dan kapasitas sebesar 1,5 juta
TEUs per tahun dengan total panjang dermaga 850 meter dan kedalaman -14 meter
low water spring (LWs).
“IPC dan Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok mempunyai semangat yang sama untuk kemajuan pelabuhan Tanjung Priok,
Regulator sangat membantu dalam membenahi pelabuhan Tanjung Priok sebagai
simpul utama merealisasikan program Tol Laut serta upaya IPC menjadikan
pelabuhan Tanjung Priok sejajar pelabuhan Singapura, Malaysia dan Eropa,” Tegasnya.
Arief Suhartono Dirut PT Pelabuhan Tanjung Priok pada kesempatan itu kepada
wartawan mengatakan jika ditinjau dari
sisi percepatan distribusi barang dari ke Pelabuhan Tanjung Priok agar tidak
menimbulkan kemacetan. Pelindo II akan menerapkan program Truck Booking Return
Container (TBRC). Pada konsep ini, diperlakukan setiap truck yang masuk
Pelabuhan membawa satu konteiner ekspor dan saat keluar membawa konteiner
impor.
“Kalau total thrughput di Pelabuhan Tanjung Priok(semua terminal petikemas)
4 Juta boks saja per tahun, berarti sama dengan setiap hari sekitar 10 ribu
boks bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok,” kata Arif.
Menurut dia, jadi perlu ada perubahaan kondisi Pelabuhan,supaya tidak ada
kemacetan dan membuat arus barang tersendat. Tapi dengan program TBRC setiap
truk membawa dua konteiner (ekspor/impor) maka setiap hari hanya separuh atau sama
dengan 5.000 truk keluar masuk pelabuhan. Program ini telah terbahas,baik dari
sisi aplikasi IT-nya dari terminal petikemas ke angkutan truk maupun
kelengkapan lainnya. (Oddy/WI Media Jakarta).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar