Selasa, 11/05/2010
JAKARTA (Bisnis.com): Pemerintah diminta segera membangun hub port untuk kepentingan jaringan logistik domestik dan konektivitas antarpelabuhan di Indonesia guna memperkuat ekonomi perdagangan nasional.
Dosen Pelayaran Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Saut Gurning mengatakan penetapan hub-port untuk kepentingan jaringan domestik dan konektivitas barang-barang nasional perlu dipertimbangkan guna memperkuat manfaat ekonomi perdagangan nasional.
Dia menjelaskan melihat pertumbuhan perdagangan baik dalam negeri maupun ekspor dan impor, sudah saatnya Indonesia memiliki satu pelabuhan pengkonsolidasi (hub) yang diperuntukkan untuk memperkuat pengembangan perdagangan nasional.
Apalagi, katanya, saat ini 73% dari pelabuhan nasional masih berfungsi minimal.
“Hub port akan menjadi pintu gerbang bagi pelabuhan lainnya sehingga memberi nilai tambah perdagangan dan ekonomi nasional,” katanya kepada Bisnis.com, hari ini.
Dia menambahkan kehadiran hub port akan memacu kinerja pelabuhan lainnya mengingat pelabuhan yang kini belum berfungsi optimal sebenarnya telah menghidupi pelabuhan utama Indonesia.
“Jadi perbincangan hub-port di Indonesia perlu juga diseimbangkan dengan kondisi masih dominannya pelabuhan-pelabuhan Indonesia yang berfungsi minimal dengan peran nilai tambah perdagangan yang masih sangat relatif kecil,” katanya.
Sebelumnya, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II segera membangun megaproyek pelabuhan pengumpul (hub port) baru di Kerawang Jawa Barat berkapasitas 10 juta TEUs sebagai pengganti Pelabuhan Tanjung Priok lima tahun mendatang.
Pada tahap awal, perseroan BUMN itu diketahui menyiapkan dana sebesar Rp6 triliun guna membangun sampai mengoperasikan pelabuhan tersebut dalam lima tahun sampai 10 tahun mendatang.
Pelaku usaha pelayaran juga menilai pemerintah perlu mempercepat penyiapan pelabuhan pengganti Tanjung Priok dalam rangka mengantisipasi perkembangan arus barang domestik dan keluar negeri.
Sebab, pelabuhan Tanjung Priok diperkirakan akan mampu menampung arus barang hingga 2015 dengan asumsi pertumbuhan angkutan dalam negeri yang mencapai 16% dan ekspor dan impor sekitar 5%-6%. (wiw)
Dosen Pelayaran Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Saut Gurning mengatakan penetapan hub-port untuk kepentingan jaringan domestik dan konektivitas barang-barang nasional perlu dipertimbangkan guna memperkuat manfaat ekonomi perdagangan nasional.
Dia menjelaskan melihat pertumbuhan perdagangan baik dalam negeri maupun ekspor dan impor, sudah saatnya Indonesia memiliki satu pelabuhan pengkonsolidasi (hub) yang diperuntukkan untuk memperkuat pengembangan perdagangan nasional.
Apalagi, katanya, saat ini 73% dari pelabuhan nasional masih berfungsi minimal.
“Hub port akan menjadi pintu gerbang bagi pelabuhan lainnya sehingga memberi nilai tambah perdagangan dan ekonomi nasional,” katanya kepada Bisnis.com, hari ini.
Dia menambahkan kehadiran hub port akan memacu kinerja pelabuhan lainnya mengingat pelabuhan yang kini belum berfungsi optimal sebenarnya telah menghidupi pelabuhan utama Indonesia.
“Jadi perbincangan hub-port di Indonesia perlu juga diseimbangkan dengan kondisi masih dominannya pelabuhan-pelabuhan Indonesia yang berfungsi minimal dengan peran nilai tambah perdagangan yang masih sangat relatif kecil,” katanya.
Sebelumnya, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II segera membangun megaproyek pelabuhan pengumpul (hub port) baru di Kerawang Jawa Barat berkapasitas 10 juta TEUs sebagai pengganti Pelabuhan Tanjung Priok lima tahun mendatang.
Pada tahap awal, perseroan BUMN itu diketahui menyiapkan dana sebesar Rp6 triliun guna membangun sampai mengoperasikan pelabuhan tersebut dalam lima tahun sampai 10 tahun mendatang.
Pelaku usaha pelayaran juga menilai pemerintah perlu mempercepat penyiapan pelabuhan pengganti Tanjung Priok dalam rangka mengantisipasi perkembangan arus barang domestik dan keluar negeri.
Sebab, pelabuhan Tanjung Priok diperkirakan akan mampu menampung arus barang hingga 2015 dengan asumsi pertumbuhan angkutan dalam negeri yang mencapai 16% dan ekspor dan impor sekitar 5%-6%. (wiw)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar