Selasa, 05 Januari 2010

Investor China siap garap pelabuhan,Proyek pembenahan Tanjung Priok segera ditender

JAKARTA: Beberapa investor asal China berencana membangun pelabuhan di sejumlah daerah guna mengantisipasi peningkatan pengiriman barang dari negeri itu, menyusul penerapan Asean-China Free Trade agreement (ACFTA) mulai 1 Januari 2010.

Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Sunaryo mengatakan daerah yang dibidik investor China itu, adalah Tangerang (Banten), Bekasi (Jawa Barat), Samarinda (Kalimantan Timur), dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan).

"Selain dari China, investor Jepang juga ada yang tertarik. Proposal sudah masuk cukup banyak. Ini mungkin saja terkait dengan penerapan ACFTA," katanya saat pemaparan evaluasi kinerja 2009 Ditjen Perhubungan Laut, pekan lalu.

Namun, Sunaryo menegaskan proposal itu belum tentu disetujui karena proses pembangunan pelabuhan harus melalui sejumlah tahapan, di antaranya studi kelayakan, rekomendasi pemerintah daerah, dan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

"Seluruh rekomendasi itu akan diserahkan kepada Ditjen Perhubungan Laut. Kalau memenuhi persyaratan, ya silakan dibangun. Soal nilai investasi bergantung pada ukuran pelabuhan itu. Yang jelas, membangun pelabuhan itu tidak mudah," jelasnya.

Sunaryo menambahkan Dinas Pekerjaan Umum diharapkan dapat bekerja sama untuk membangun jalan menuju ke pelabuhan yang akan dibangun tersebut. "Kami akan minta disinkronkan juga antara jalan penghubung dan pelabuhan."

Dia mengatakan pada 2010 instansinya akan fokus pada pembenahan kegiatan di pelabuhan sehingga eksportir dan importir merasa lebih nyaman. Pembenahan perlu dilakukan karena akan berefek berantai terhadap daya saing produk domestik, terutama jika ongkos pengiriman produk domestik lebih mahal dibandingkan dengan impor dari China.

"Mengenai tarif tinggi di pelabuhan, orang bilang itu karena Ditjen Perhubungan Laut. Padahal, kegiatan seperti itu ada di lapangan yang melibatkan badan usaha lain. Kalau siap ACFTA, harus bersaing dengan menurunkan tarif di pelabuhan. Harus ada komitmen untuk menurunkan biaya operasional," tuturnya.

Sunaryo menambahkan instansinya juga berperan menurunkan biaya tinggi, dengan mengajak penyedia dan pengguna jasa berkomitmen memajukan perekonomian nasional.

Menurut dia, salah satu upaya menurunkan biaya tinggi adalah dengan menertibkan proses sandar di dermaga pelabuhan sehingga tidak didominasi oleh operator kapal tertentu.

"Yang terjadi sekarang, perusahaan pelayaran mengaveling dermaga-dermaga sehingga hanya khusus diperuntukkan bagi kapal mereka. Kalau ada kapal lain datang tidak boleh masuk dermaga. Itu tidak boleh karena bisa menimbulkan biaya tinggi akibat barang tertahan," ungkapnya.

Pembenahan Priok

Direktur Pelabuhan dan Pengerukan Kemenhub Suwandi Saputro mengungkapkan tender pembenahan Pelabuhan Tanjung Priok akan dibuka akhir bulan ini.

Tender itu terdiri dari dua paket proyek dengan nilai investasi mencapai 12 miliar yen. Paket I terdiri dari pengerjaan relokasi pemecah gelombang (breakwater) dan perluasan pintu masuk kapal. Adapun Paket II terdiri dari perbaikan jalan darat di dalam Pelabuhan Priok. Pengerjaan dua paket itu juga didukung dana dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

Suwandi memaparkan tender paket I akan ditawarkan secara internasional, sehingga pengerjaan diharapkan akan dilakukan oleh perusahaan asing. Adapun paket II akan ditawarkan kepada pengusaha lokal.

"Perbaikan prasarana di Pelabuhan Priok diharapkan bisa meningkatkan kinerja. Nantinya kapal 25.000 DWT [dead weight ton] hingga 50.000 DWT bisa masuk ke Priok. Sekarang kan baru kapal 20.000 DWT yang bisa masuk," jelasnya kemarin.

Dia memaparkan hingga saat ini cukup banyak perusahaan asing yang tertarik mengerjakan tender paket I. "Nanti dipilih perusahaan yang benar-benar kompeten dan memenuhi persyaratan."

Setelah pengerjaan paket I selesai, pelabuhan tersibuk di Indonesia itu akan memiliki pintu masuk selebar 300 m dari sebelumnya hanya 150 m. Adapun kedalaman alur mencapai 14 m dari sebelumnya 10 m-12 m.

Sebelumnya, Kemenhub menetapkan Nippon Koei Co Ltd (Jepang) yang bermitra dengan PT Wiratman Associates (Jakarta) dan PT Raya Consult (Bandung) sebagai pemenang konsultan proyek paket I tersebut, dengan menyingkirkan Pacific Consultant International yang juga dari Jepang.

Suwandi memaparkan dengan masuknya kapal-kapal besar, arus keluar masuk barang dari Pelabuhan Priok akan menjadi lebih lancar. (Raydion Subiantoro/Bisnis Indonesia).

Tidak ada komentar: