JAKARTA: Kerugian perusahaan pelayaran diperkirakan mencapai Rp25 triliun per tahun akibat lamanya jadwal bongkar muat muatan kapal sebagai dampak dari rendahnya produktivitas pelabuhan di Indonesia.Sekretaris Masyarakat Pemerhati Pelayaran, Pelabuhan, dan Lingkungan Maritim (Mappel) Maman Permana mengakui potensi kerugian yang ditanggung oleh perusahaan pelayaran sangat besar karena rendahnya produktivitas pelabuhan di Tanah Air."Jika badan usaha kepelabuhanan mengklaim meraih untung di pelabuhan, keuntungan itu mereka raih di atas penderitaan pelayaran. Memang kenyataannya demikian [produktivitas pelabuhan rendah]," katanya kepada Bisnis, kemarin.Berdasarkan informasi yang diperoleh dari perusahaan pelayaran, saat ini kegiatan bongkar muat kapal berkapasitas angkut 400 TEUs di pelabuhan di Indonesia memakan waktu 4 hari dari seharusnya 32 jam atau 1,5 hari. Padahal setiap terjadi keterlambatan, biaya yang dikeluarkan pelayaran semakin besar.Untuk setiap kapal berkapasitas 400 TEUs yang mengalami keterlambatan bongkar muat selama 1 hari, operator harus mengeluarkan biaya tambahan Rp150 juta, sehingga total kerugian yang ditanggung oleh pelayaran nasional bisa mencapai Rp25 triliun per tahun.Maman menegaskan untuk meningkatkan produktivitas, langkah pemerintah mengoperasikan pelabuhan di Indonesia selama 24 jam setiap hari sangat positif, tetapi harus diperkuat dengan koordinasi antardaerah."Pasalnya, sejumlah infrastruktur pendukung kegiatan kepelabuhanan, seperti jalan, sebagian besar milik pemerintah daerah, padahal sebagian besar jalan akses menuju pelabuhan rusak sehingga mengganggu aktivitas arus keluar masuk barang ke pelabuhan."Rencananya, seluruh pelabuhan kelas I, yang berjumlah 13 pelabuhan di seluruh Indonesia, dapat beroperasi 24 jam penuh setiap hari pada tahun depan guna memperlancar arus ekspor dan impor.Dirjen Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Sunaryo mengungkapkan pengoperasian seluruh pelabuhan kelas I itu akan melengkapi program 100 hari yang menargetkan layanan 24 jam di empat pelabuhan utama mulai awal 2010.Empat pelabuhan utama itu, yakni Tanjung Priok Jakarta, Makassar, Belawan Medan, dan Tanjung Perak Surabaya.
(Tularji/Bisnis.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar