Kamis, 02 Juli 2009

Pasar kiriman logistik diprediksi Rp791 triliun

JAKARTA: Pasar kiriman logistik di Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp791 triliun atau 15% dari produk domestik bruto (PDB) yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp5.275,9 triliun.Kepala Unit Bisnis Strategis Logistik PT Pos Indonesia (Posindo) Setyo Riyanto mengungkapkan komponen biaya logistik atau pengiriman suatu produk ke pasar ritel berkisar 15%-20% dari harga jual barang itu ke konsumen."Jadi, dari harga jual barang di pasaran, sebesar 15%-20% adalah biaya logistik. Oleh karena itu, potensi bisnis logistik di Indonesia mencapai Rp791 triliun mengingat PDB Rp5.275,9 triliun," ujarnya seusai acara peluncuran kembali pusat pengumpul utama logistik Posindo di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, kemarin.Dia mengatakan dengan potensi pasar yang sangat besar itu, Posindo kembali menggarap bisnis logistik, setelah sempat vakum selama 6 bulan sejak Januari 2009. BUMN perposan itu, lanjutnya, akan mengaktifkan kembali 11 pusat pengumpul utama (main hub) yang tersebar di seluruh Indonesia.Setyo menjelaskan 11 main hub itu akan dilengkapi dengan sistem elektronik manajemen pergudangan dan pelacakan barang kiriman yang lebih modern, sehingga dapat melayani pelanggan dengan lebih efisien dan efektif.Dia memaparkan revitalisasi main hub akan selesai pada akhir tahun ini. Adapun, gudang pusat pengumpul barang kiriman milik Posindo itu tersebar di Medan, Batam, Palembang, Bekasi, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Balikpapan, Makassar, dan Jayapura.Selain 11 pusat penumpul utama, tutur Setyo, Posindo juga mempunyai hub di 22 provinsi dan 10 kota/kabupaten, serta titik layanan sebanyak 207 kantor pos yang didukung 3.345 kantor pos cabang. Namun, dia mengungkapkan Posindo tidak menargetkan meraih pasar besar di bisnis logistik pada tahun ini dengan hanya mematok pendapatan sebesar Rp300 miliar atau kurang dari 1% pangsa pasar. Wakil Direktur Utama Posindo I Ketut Mardjana mengungkapkan dana yang dikeluarkan dari kas perusahaan pelat merah itu untuk membenahi 11 gudang pengumpul utama logistik mencapai Rp20 miliar. “Nilai investasi dari dana kami sendiri cukup kecil karena kami juga bermitra dengan pihak ketiga yang menyediakan sistem modern itu. Bentuk kerja samanya menggunakan pola pembagian keuntungan,” katanya.
Oleh Raydion Subiantoro
Bisnis Indonesia

Tidak ada komentar: