Kamis, 29 Januari 2009

ATTP Belawan Gugat Pelindo I

Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Tanki Timbun Pelabuhan (ATTP) di Belawan meminta menajamen PT Pelindo I agar menurunkan tarif pelayanan penggunaan pipa terpadu CPO (Crude Palm Oil) yang tertanam di sepanjang Dermaga pelabuhan Belawan.
Julius (Ketua ATTP) kepada Pers baru-baru ini menyatakan, kenaikan tarif yang ditetapkan PT Pelindo I sebesar Rp. 12.500 per ton dinilai tidak wajar dan terlalu membebani pelaku usaha. “Tarif sebelumnya hanya Rp.. 1.750 per ton, lalu kemudian dinaikkan menjadi Rp. 12.500 per ton.
Interval kenaikan ini tidak wajar, yakni kenaikan sampai 1000 persen lebih,” kata Julius.Selain itu, lanjutnya, tarif pelayanan pipa terpadu Pelindo I juga membebani pelaku usaha antara lain CPO. “Kenapa saya katakana demikian, sebab tidak imbang antara besaran kenaikan tarif dengan order pelayanan yang kami dapatkan. Dalam satu bulannya kami hanya menerima order layanan 350.000 ton per bulan.
Kalau dibagi antara modal operasional dan perawatan, maka kami tak dapat untung,” kata Julius.Untuk itu, pihaknya berharap ada pengkajian kembali untuk menurunkan tarif pelayanan penggunaan pipa terpadu di Pelindo I. “Kami minta ada kaji ulang terhadap tarif pipa terpadu Pelindo I, sehingga ada keseimbangan kepentingan antara pelaku usaha sebagai pengguna jasa Pelindo dan manajemen Pelindo I itu sendiri,” kata Julius.
Selama ini, para pelaku usaha curah cair di Pelindo I, harus mengeluarakan biaya operasinal dan perawatan terhadap flexible House yakni selang penghubung antara ujung pipa terpadu di dermaga ke kapal. Selama ini ada sedikitnya 200 flexible house yang beroperasi di Dermaga Pelindo I, dimana setiap flexible house ada biaya operasional. Untuk itu kami minta perhatian kepada manajemen Pelindo I, untuk menurunkan tariff pelayanan pipa terpadu Pelindo I yang saat ini menjadi perkara antara PT (Persero) Pelindo I dengan PT. IBP (Indoterminal Belawan Perkasa).
Bangun Pipa Terpadu
Saat ini, Pelabuhan Belawan kewalahan menangani bongkar muat CPO karena keterbatasan fasilitas (pipa saluran Bongkar Muat CPO). Atas dasar itu, manajemen Pelindo I bermaksud membangun sendiri pipa terpadu CPO di sepanjang dermaga Belawan.
Selain itu, pembangunan pipa CPO disepnajang dermaga Belawan juga sebagai jawaban berlarut-larutnya status hukum pengelolaan pipa terpadu yang dikelola secara KSO (Kerja sama Operasi) antara Pelindo I dengan PT IBP.
“Kami akan membangun pipa terpadu sendiri. Soalnya kalau menunggu status hukum KSO pipa terpadu antara Pelindo I dan PT IBP, terlalu lama, dan hal ini akan menghambat pelayanan kepada pelaku usaha CPO yang selama ini masuk Belawan. Dan kami sudah mempersiapkan dana Rp10 miliar untuk membangun pipa terpadu baru di dekat pipa terpadu curah cair yang selama ini dioperasikan IBP,” kata Harry Sutanto, Dirut PT Pelindo I.
Dijelaskan Harry, pada 1995, PT Pelindo I Medan melakukan KSO dengan PT IBP untuk membangun pipa terpadu CPO di Belawan. Pembangunan pipa terpadu tersebut dilakukan dengan sistem built operate transfer (BOT) selama 13 tahun, apabila Pelindo I menghendaki.“Kami memutuskan tidak memperpanjang KSO dengan PT IBP karena masa BOT-nya sudah berakhir yakni selama 13 tahun, hal ini dilakukan atas pertimbangan bahwa KSO tersebut tidak efisien yang pada akhirnya merugikan pengguna jasa pipa terpadu di Belawan,” kata Harry.
Sebelumnya, direksi PT IBP melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Medan terkait tidak diperpanjangnya KSO Pelindo I dengan PT IBP. Tuntutan IBP dikabulkan pengadilan untuk memperpanjang KSO menjadi ONM.
Namun PT Pelindo I sendiri sudah mengajukan banding terhadap putusan pangadilan itu.Semetara terkait pembangunan pipa CPO (baru) oleh Pelindo I, mendapat protes keras Dirut PT IBP, R. Napitupulu. Dia mengaku perusahaan yang dipimpinnya sudah mengirimkan somasi lewat penasihat hukum agar PT Pelindo I Medan menghentikan pembangunan pipa terpadu curah cair yang akan dibangun paralel dengan pipa terpadu yang dioperasikan PT IBP. "Pembangunan pipa baru itu merupakan penghamburan uang dan menimbulkan kerugian bagi IBP," tuturnya.
PT Pelindo I Medan, lanjutnya, harus menghentikan rencana pembangunan pipa terpadu baru yang akan dibuat paralel dengan pipa terpadu yang dibangun IBP... “Dalam perjanjian KSO antara Pelindo I Medan dan PT IBP disebutkan jika KSO sudah berakhir, harus dilanjutkan dengan perjanjian ONM,” katanya.Sementara menurut Julius, terkait pembangnan pipa baru untuk CPO Belawan, pihaknya pada dasarnya mendukung mana yang terbaik untuk memperlancar usaha ekspor CPO. “Kita mendukung kebijakan yang mengarah pada kelancaran ekspor CPO melalui pipa terpadu apakah kelak dikelaola Pelindo I atau IBP,” kata Julius.

Minggu, 11 Januari 2009

TPS Jamin Tingkatkan Pelayanan

Pengelola terinal petikemas Surabaya (TPS) berjanji akan meningkatkan mutu pelayanan kepada pelanggannya dengan memperbaiki berbagai sistem service yang ada maupun ketersediaan informasi pada tahun 2009.
“Tahun 2009, kami akan mencoba meningkatkan pelayanan kepada pelanggan dengan memperbaiki customer service yang ada maupun ketersediaan informasi. Misalnya upaya peningkatan kualitas dan kecepatan bongkar muat di lapangan penumpukan, antara lain dengan pembelian 4 unit RTG baru, 6 unit head truck beserta double chassis dan 1 unit Top Loader. Bahkan kami juga menyiapkan sistem komputer operasional yang lebih baik dan lebih mampu men-support kegiatan operasional dengan penyajian data secara real time,” kata M. Zaini, Direktur Utama PT TPS, baru-baru ini.
Dengan penggunaan teknologi seperti GPS dan digital image yang dihubungkan dengan sistem, ungkap Zaini, maka data akan menjadi lebih akurat, informatif dan real time. “Kehadiran teknologi memang sudah merupakan kebutuhan jika kecepatan pelayanan menjadi salah satu tujuan kami,” ujarnya.
Diungkapkan Zaini bahwa saat ini standard kecepatan pelayanan di TPS, mencapai 25 container per crane per hour, untuk kecepatan pelayanan kapal 40 container per ship per hour.
“Sedangkan kecepatan pelayanan di lapangan kurang dari 30 menit dan kecepatan pelayanan di dokumen adalah 1 petikemas per menit,” ujarnya. Sementara itu, Wara Djatmika, Corporate Public Relation PT TPS kepada Pers menyatakan, pertumbuhan arus bongkar muat petikemas melalui TPS selama tahun 2008 meningkat 3,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Tahun 2008, pencapaian throughput TPS sebesar 1.154.417 TEUs, naik dibandingkan tahun 2007 yang hanya mencatat 1.114.162 TEUs.
Meski realisasi arus bongkar muat petikemas itu belum memenuhi target pertumbuhan sebesar 5 %, ungkap Wara, namun tren positif yang terjadi di awal hingga pertengahan tahun 2008 cukup dapat meredam penurunan arus bongkar muat yang terjadi di akhir 2008.
Zaini juga memperkirakan jika pada awal tahun 2009 ini arus bongkar muat petikemas melalui TPS akan mengalami penurunan pada kisaran 20 %.
“Para agen pelayaran menyampaikan kepada kami bahwa kapal-kapal mereka berkurang muatannya, sehingga tentunya kami juga harus melakukan langkah-langkah antisipasi,” katanya.
Menurut mantan direktur utama PT Portex tersebut, prediksi turunnya arus bongkar muat itu, berpotensi untuk menurunkan pendapatan bagi perusahaan.
“Untuk itu kami telah menyiapkan beberapa langkah efisiensi untuk mengurangi dampak dari kondisi global ini. Meski demikian kami menjamin bahwa hal tersebut tidak akan mengurangi kualitas pelayanan kami,”ujarnya.

Pelindo III Bangun Fasilitas

Realisasi pendapatan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III untuk tahun 2008 naik 6 % dibanding tahun sebelumnya (2007). Demikian dikemukakan Iwan Sabatini, Humas Pelindo III, ketika dikonfirmasi Pers, pekan lalu.Angka pastinya adalah sebesar Rp.2,25 triliun.“Realisasi pendapatan itu, memang tidak melampaui target pendapatan 2008, namun realisasi itu melampaui target pendapatan Pelindo III untuk tahun 2007,” katanya.
Ditanya tentang planning Pelindo III kedepan, Iwan menegaskan, sesuai dengan yang tertuang dalam RJPP (Rencana Jangka Panjang Perusahaan) 2009-2013 yang berisi perencanaan strategis mencakup perumusan strategi dan sasaran akan dicapai dalam kurun waktu 5 tahun mendatang.
”Perumusan RPJP ini, adalah untuk memenuhi Keputusan Menteri BUMN KEP-102/M-BUMN/2002 tentang Penyusunan Rencana Jangka Panjang Badan Usaha Milik Negara. Karenanya RJPP ini diharap mempunyai makna strategis menghadapi kompetisi global, dan ditengah upaya penerapan Good Corporate Governance (GCG),” kata mantan public relation PT TPS tersebut.
Dijelaskan Iwan, salah satu catatan dalam RJPP adalah strategi dan kebijakan manajeman, berdasarkan hasil corporate mapping. Strategi utama (grand strategy) adalah pemanfaatan kekuatan yang dimiliki untuk meraih peluang. Diantaranya adalah Pengembangan Lapangan Penumpukan Petikemas (di Tanjung Perak, Tanjung Emas, Banjarmasin, dan Tenau Kupang), Terminal Curah Kering ( Tanjung Perak, Gresik, Tanjung Emas, Tanjung Intan, dan Basirih).Selain itu, PT Pelindo III juga akan membangun Terminal Curah Kering (Tanjung Perak, Gresik, Tanjung Emas, Stagen Kotabaru, Mekar Putih Batulicin, Benoa), Terminal Multipurpose (Tanjung Perak, Bumiharjo di Kumai, Bagendang di Sampit), Pembentukan Strategic Business Unit (SBU) di bidang peralatan, trucking, Informasi Teknologi (IT), Bunkering BBM dan usaha lain pada beberapa cabang Pelabuhan.
”Disamping itu, juga dilakukan rekonfigurasi dan redisain organisasi pada beberapa pelabuhan cabang Pelindo III, kemudian meminimalkan kelemahan untuk meraih peluang (Weakness-Opportunity) dengan penambahan dan penggantian peralatan dalam rangka memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan operasional,” ujarnya.Daya Saing
Lebih jauh, Iwan mengatakan RJPP Pelindo III juga merumuskan strategi fungsional yang focus kepada Costumer Service Management, yaitu pengembangan Key Performance Indocator (KPI), kerjasama antar Connecting Port (domestic maupun luar negeri), standarisasi teknis dan konstruksi dalam pengadaan dan pembangunan fasilitas Pelabuhan secara tepat waktu, berhasil dan berdaya guna yang didasarkan atas kelayakan usaha baik dari aspek financial maupun ekonomi, membangun dan menciptakan daya saing perusahaan yang kuat dengan diferensiasi pelayanan dan cost leadership.
Sedangkan untuk bisnis dan IT, yaitu pengembangan sistem aplikasi program komputer di semua unit organisasi perusahaan untuk memperkuat kegiatan bisnis perusahaan dan berorientasi pada process based (IT sebagai Weapon), menerapkan satu system pelayanan terpadu, menerapkan standar produktifitas bongkar muat dan pelayanan kapal dengan pola pelayanan berstandar International (ISO), pengadaan Fasilitas pelabuhan yang mengikuti perkembangan teknologi kepelabuhan dengan produktivitas tinggi, Mengintegrasikan semua infrastruktur dan semua peralatan penunjang (supporting tools).
Untuk kebijakan bisnis Pelindo III, meliputi penyediaan fasilitas infrastruktur yang berorientasi dapat mengantisipasi kebutuhan 20 tahun kedepan, perusahaan focus kepada penyedia jasa infrastruktur agar mampu menyediakan fasilitas kelas dunia (dalam arti kualitas).Selain itu pelaksanaan jasa pelayanan (services) diarahkan untuk dikelola oleh Strategic Business Unit (SBU) atau anak perusahaan yang professional sehingga diharapkan lebih mampu dan fleksible untuk mencapai mutu pelayanan yang prima, usaha-usaha jasa penunjang kepelabuhanan (Port Related Services) diarahkan untuk dilakukan oleh perusahaan patungan/kepemilikan saham, melakukan pemasaran pelabuhan dengan melalui pembentukan port community (Lembaga Komunitas Pelabuhan) yang peranan dan kegiatan konkrit meliputi aspek yang mendasar di pelabuhan, termasuk upaya promosi Pelindo III.

Throughput JICT & Koja 2008 Meningkat

Pencapaian produksi bongkar muat untuk Jakarta International Container Terminal (JICT) dan TPK Koja tahun 2008 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. JICT naik antara 5-10 persen dari 1.800.000 TEUs menjadi 1.995.781 TEUs.
Sementara TPK Koja maningakt satu persen. Tahun 2008 tercapai 705.665 TEUs dari sebelumnya 700.087 TEUs.
Sumber di kedua terminal petikemas tersebut menyebutkan bahwa dalam dua bulan terakhir (November-Desember 2008) kegiatan sedikit menurun. ”Meski throughput tahun 2008 tidak mencapai 2 juta TEUs, namum throughput naik antara 5 hingga 10 persen bila dibandingkan 2007 yang hanya mencapai sekitar 1.800.000 TEUs,” kata Sumber di JICT.
Kata sumber tadi, arus kunjungan kapal yang masuk melalui JICT selama kurun waktu 2008 sama dengan jumlah kapal tahun 2007. “Yang turun bukan jumlah kapalnya tetapi jumlah kontenernya,” ujarnya.
Sebelumnya Wisnu Pranoto, Direktur Operasi PT JICT, menyatakan bahwa akhir tahun 2008 lalu, perseroan telah menambah empat unit crane container yang kesemuanya teralisasi antara bulan November-Desember 2008.
Selain penambahan peralatan itu, sekarang ini pihak JICT juga tengah membangun tempat bahandel (tempat pemeriksaan kontener) sebagaimana yang diharapkan pemerintah dalam hal ini bea cukai.
“Pembangunan Bahandle itu, sebagai bagian dari rencana investasi jangka pajang hingga 2011,” ungkapnya.
Untuk tahun ini (2009), JICT akan membangun lapangan penumpukan seluas 14 hektare, disamping juga memperbaiki sarana lapangan penumpukan yang sudah ada seluas 5 hektare.“Dalam program investasi jangka panjang, JICT akan menambah fasilitas gate (pintu masuk dan keluar) sebanyak 18 gate, yang pembangunannya sudah dimulai secara bertahap,” ujarnya.
Dengan demikian, nantinya gate di JICT akan menjadi 26. “Gate JICT yang ada saat ini hanya 8, sehingga dipandang belum memadai untuk mendukung kelancaran arus barang dari dan ke JICT.Koja Lampaui Target
Sementara itu, throughput TPK Koja per 2008 melampaui target yang ditetapkan sekitar 1 % lebih. “Pencapaian throughput TPK Koja 2008 sebesar 705.665 TEUS. Naik sekitar 1 % dari yang ditargetkan yakni sebesar 700087 TEUS,” kata Slamet, staf humas TPK Koja kepada Pers.
Dari sisi kunjungan kapal, kata Slamet, arus kapal yang masuk ke TPK Koja sebanyak 531 unit. ‘Sedangkan dari sisi tonase kapal yang melakukan bongkar muat di Koja antara 6 hingga 9 juta ton,” ujarnya.
Para pengguna jasa di kedua terminal petikemas terbesar di Tanjung Priok itu mengharapkan agar pelayanan terus ditingkatkan. ”Kita minta pengelola terminal petikemas (JICT dan Koja) tetap menjaga mutu service, meskipun situasi dan kondisi perekonomian masih belum kondusif akibat krisis ekonomi global,” kata Yahya Zubir, Ketua Indonesia National Ship Owner Association (INSA) Jakarta.
Menurut dia selama ini pelayanan di kedua terminal itu memang sudah membaik dibandingkan beberapa tahun lalu, namun tetap saja ada yang perlu diperbaiki, mengingat masih terdapat sejumlah titik yang sering krodit.

UTPK Belawan Berencana Menambah Empat CC

Unit Terminal Peti Kemas (UTPK) Belawan merencanakan menambah panjang dermaga, menambah container crane dan memperluas lapangan penumpukan. “Rencana penambahan sejumlah fasilitas itu saat ini tengah dalam kajian pihak IDB (Islamic Development Bank).
Sebelumnya manajemen Pelindo I Cabang Belawan bersama IDB telah sepakat untuk melakukan kerja sama investasi menambah sejumlah fasilitas di Pelabuhan Belawan, “kata Suranto, Humas UTPK Belawan menjawab pertanyaan Pers pekan lalu.
Menurut Suranto, panjang dermaga akan ditambah 800 meter ke arah laut. “Kita akan lakukan reklamasi ke arah laut untuk menambah panjang dermaga. Kita juga akan membangun lapangan penumpukan peti kemas,” katanya.
Selain itu, UTPK Belawan juga akan menambah fasilitas container crane (CC). “Kedepan (2009) kita juga akan menambah CC sebanyak 4 unit, untuk lebih mempercepat kinerja arus bongkar muat di Belawan. Dengan demikian kedepan diharapkan tidak akan terjadi lagi ada keluhan soal lambannya arus bongkar muat peti kemas dari dan ke kapal, di Belawan,” ujarnya.
Berdasarkan data di publik dinyatakan menyebutkan bahwa arus ekspor impor melalui UTPK Gabion Belawan ini terus naik. Tahun 2002 mencatat 233.354 TEUs, menjadi 235.801 TEUs (2003), meningkat lagi menjadi 274.931 TEUs (2004), lalu naik menjadi 281.106 TEUs (2005). Setahun kemudian meningkat signifikan yakni 304.002 TEUs, lalu mencatat 320.515 (2007), dan tahun 2008 hingga November mencapai 327.395 TEUs dari target 329.730 TEUs.
Untuk arus kontainer domestik tercatat 215.713 TEUs (sampai November) dari yang ditargetkan 272.492 TEUs. ”Untuk domestik paling akan terpenuhi 95 % dari yang ditargetkan, karena keterbatasan dermaga sehingga banyak kapal yang dialihkan di dermaga pelabuhan konvensional Belawan,” kata Suranto.
Desember 2008 lalu, Menteri Pedagangan Mari Pangestu bersama Lambok Natahan (Ketua Tim Keppres 54 tentang Percepatan Arus Barang di Pelabuhan) melakukan Inspeksi Mendadak ke UTPK Belawan terkait dengan pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) no. 44/2008.
Mari Pangestu sempat mengeluhkan minimnya fasilitas sarana dan prasarana di pelabuhan Belawan yang menjadi salah satu pintu masuk impor lima produk tertentu.Ditanya soal keluhan Menteri Perdagangan, Suranto mengatakan, sebetulnya secara konsep, fasilitas Belawan sudah memadai.
“Dalam arti fasilitas yang ada saat ini sudah bisa menghandle kegiatan bongkar muat di Belawan baik untuk impor maupun kegiatan ekspor. Hanya saja saat Menteri Perdagangan kesini, UTPK Belawan baru saja menyelesaikan pembongkaran gudang yang saat ini menjadi tempat pemeriksaan barang atau behandle, dengan luas sekitar 15, 2 Hektar,” ungkapnya.
Mengingat baru selesai (Bulan November 2008), sehingga behandle yang terdiri dari dua blok itu, belum maksimal pengelolaan dan operasionalnya. “Misalnya terkait dengan atap behandle belum kami pasang, kita menunggu koordinasi dari pihak Bea cukai,” kata Suranto.Dia menambahkan, dalam pembangunan behandle Pelabuhan Belawan tidak melakukan sendiri, tetapi menunggu koordinasi dari pihak Bea Cukai.
“PT Pelindo Belawan tidak ingin disalahkan, kalau membangun tempat behandel yang ternyata tidak sesuai dengan syarat dan kreteria membangun behandale dari pihak Bea Cukai,” tegasnya.
Berkenaan dengan besarnya nilai investasi penambahan fasilitas itu, Suranto mengaku belum tahu pasti berapa angkanya, karena saat ini masih dalam tahap survey dari pihak IDB. “Nilai investasi kita belum tahu, namun yang pasti semua investasi penambahan fasilitas itu akan dilakukan oleh IDB, awal tahun 2009,” katanya.