Kamis, 04 Juni 2009

Asas cabotage dorong investasi kapalImpor armada angkutan laut diprediksi catat rekor baru

JAKARTA: Investasi perusahaan pelayaran dalam negeri untuk pengadaan kapal impor selama triwulan I/ 2009 melonjak 110,86% di tengah krisis muatan angkutan laut, guna mengantisipasi penerapan asas cabotage.Ketua Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Johnson W. Sucipto mengatakan meroketnya nilai impor kapal itu menunjukkan tingginya investasi pengadaan kapal oleh perusahaan pelayaran domestik.Menurut dia, pertumbuhan itu dipicu oleh pengadaan kapal pengangkut batu bara karena penerapan asas cabotage (komoditas domestik wajib diangkut oleh kapal berbendera Indonesia) untuk komoditas itu mulai berlaku pada 1 Januari 2010."Pemicu utama lonjakan [impor kapal] ini berasal dari pembelian armada jenis tongkang dan tugboat untuk angkutan batu bara domestik mengingat roadmap asas cabotage angkutan komoditas itu segera berakhir," katanya kepada Bisnis, kemarin.Namun, dia mengakui kontribusi angkutan minyak dan gas (migas) sejauh ini masih minim akibat belum adanya kepastian dari pemilik domestik, terutama PT Pertamina untuk menerapkan aturan asas cabotage.Berdasarkan data Departemen Perdagangan, nilai investasi pengadaan kapal impor oleh perusahaan pelayaran dalam negeri selama Januari-Maret 2009 naik 110,86% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama 2008, padahal volume angkutan barang selama 3 bulan pertama tahun ini anjlok 32,39%.Nilai impor kapal pada triwulan I/ 2009 tercatat US$352,9 juta atau sekitar Rp3,64 triliun, bertambah US$186 juta jika dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$167 juta.Khusus Maret 2009, nilai impor kapal dari sektor pelayaran tercatat US$152 juta atau meroket 168,62% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$56 juta.Sementara itu, volume muatan barang di dalam negeri yang diangkut dengan menggunakan moda transportasi laut merosot menjadi 28,63 juta ton, padahal pada 3 bulan pertama tahun lalu sebanyak 42,35 juta ton.Menurut Johnson, selain dipicu oleh penerapan asas cabotage, lonjakan investasi pengadaan kapal impor di tengah krisis muatan juga dipengaruhi oleh penurunan harga kapal di pasar global hingga 50%.Ganti benderaDirektur Lalu Lintas Angkutan Laut Departemen Perhubungan Leon Muhammad mengaku terkejut dengan nilai impor kapal yang melonjak tajam di tengah krisis muatan angkutan laut itu.Namun, dia mengungkapkan jumlah kapal asing yang beralih menggunakan bendera Indonesia dari 2005 hingga 2009 memang cukup banyak."Dari sekitar 8.300 kapal yang beroperasi di perairan Indonesia saat ini, 38,8% di antaranya merupakan kapal asing yang digantikan oleh armada nasional berbendera Indonesia sesuai dengan roadmap asas cabotage," katanya.Pelaku usaha pelayaran optimistis nilai investasi pengadaan kapal impor pada tahun ini bisa melampaui rekor tertinggi yang terjadi pada 2006 karena kontribusi angkutan migas selama ini belum optimal.Johnson mengungkapkan sedikitnya 50 kapal angkutan migas berbendera asing yang disewa oleh PT Pertamina harus diganti sebelum 1 Januari 2010.Wakil Ketua DPP INSA Paulis A. Djohan memperkirakan kebutuhan kapal di dalam negeri akan terus meningkat, menyusul diterapkannya asas cabotage dan meningkatnya kebutuhan angkutan komoditas pertambangan dan perkebunan.Menurut dia, permintaan pengiriman barang, khususnya komoditas tambang dan perkebunan akan mendorong laju impor kapal baik baru maupun bekas."Dalam hal ini, sektor perkebunan dan tambang memerlukan dukungan armada yang lebih banyak." (tularji@bisnis.co.id)Oleh TularjiBisnis Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar