Pengintegrasian berbagai moda angkutan (multimoda) tersebut akan menghubungkan simpul-simpul transportasi yang menjadi pusat kegiatan ekonomi, baik di kota besar maupun daerah tertinggal dan terpencil di seluruh Indonesia.
Program tersebut akan dilaksanakan mulai tahun ini dan ditargetkan selesai pada 2015, atau menjelang liberalisasi sektor logistik Asean pada 2019 dan liberalisasi logistik global pada 2025.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan pihaknya terus mengodok cetak biru (blue print) transportasi multimoda yang akan dijadikan acuan bagi pengembangan sistem transportasi multimoda.
"Integrasi transportasi ini diperlukan guna memperkuat sistem logistik nasional. Transportasi multimoda harus mampu menjadi payung kebijakan semua moda, termasuk jalan. Jadi, bisa lebih balance antara jalan, kereta api, laut, dan udara," katanya kepada Bisnis kemarin.
Menurut Bambang, konsep cetak biru multimoda telah memasuki tahap sinkronisasi dengan cetak biru logistik nasional. "Sudah diskusi beberapa kali dengan stakeholders. Saat ini disinkronkan dengan cetak biru logistik," ujarnya.
Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Perindustrian Edy Putra Irawady menuturkan pemerintah telah menyelesaikan konsep cetak biru logistik nasional yang akan segera disahkan melalui peraturan presiden (perpres).
Perpres tersebut akan diajukan setelah para menteri selesai melakukan rapat koordinasi terbatas. "Konsep blue print logistik sudah selesai dibahas, pengajuan perpresnya setelah rakortas [rapat koordinasi terbatas] para menteri," ujarnya.
Konsep akhir cetak biru transportasi multimoda yang diperoleh Bisnis menyebutkan enam masalah pokok infrastruktur transportasi yang menyebabkan sektor ini tidak efisien dan berkontribusi negatif bagi perekonomian nasional.
Keenam masalah pokok itu, yakni interkoneksi yang buruk antarsimpul, rendahnya kinerja simpul pelabuhan, disparitas pembangunan infrastruktur, biaya perjalanan sistem yang tinggi, biaya feeder yang tinggi dan pembagian pasar yang timpang.
Fasilitas bongkar muat yang rendah dan transshipment point tidak lengkap, waktu operasi yang terbatas, serta masih digunakannya tenaga manusia menjadi salah satu penyebab rendahnya kinerja di pelabuhan.
Pemerintah di dalam konsep akhir itu menyatakan pasar angkutan barang dan penumpang masih didominasi jalan. Bappenas mencatat moda transportasi melalui jalan melayani 84% penumpang, sedangkan kereta api baru 7,3%, udara 1,5%, laut 1,8% dan sungai hanya 5,3%.
Untuk angkutan barang, moda jalan masih mendominasi dengan menguasai 90,4%, sisanya dibagi ke moda lainnya yakni laut dan kereta api masing-masing 7% dan 0,6%, padahal moda ini memiliki potensi angkutan barang berskala besar.
Program optimalisasi
Untuk mengatasinya, pemerintah menyiapkan program optimalisasi dan pengembangan simpul untuk meningkatkan keterpaduan antarmoda dalam rangka kelancaran arus barang pada 25 pelabuhan strategis, 11 bandara, empat terminal khusus batu bara dan tiga terminal CPO.
Pemerintah juga menyusun program transportasi multimoda untuk kelancaran arus penumpang di sembilan kota metropolitan yakni Mebidangro (Medan, Binjai, Deli, Serdang dan Karo), Palembang, Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), Bandung Raya, Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang dan Purwodadi), Yogyakarta, Gerbangkertosusilo (Gresik, Bangkala, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan), Sarbagita (Denpasar, Bali, Gianyar dan Tabanan), dan Maminasata (Makasar, Sungguminasa, Takalar dan Maros).
Katua Umum Gafeksi Zulkarnain mengatakan sistem transportasi multimoda mendesak diterapkan sebab kelemahan sektor ini menyebabkan arus barang domestik dan internasional tersumbat.
Dia menjelaskan sejak 6 tahun lalu organisasinya telah mengingatkan pemerintah soal ancaman keterbatasan infrastruktur, termasuk integrasi multimoda, yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. "Sekarang Indonesia kedodoran [soal infrastruktur]," katanya.
Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Johnson W. Sutjipto mengatakan perbaikan infrastruktur pelabuhan dan mengintegrasikannya dengan moda transportasi lain akan meningkatkan kinerja pelayaran nasional. (Raydion) (tularji@bisnis.co.id)
Oleh Tularji
Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar