JAKARTA: Pengguna jasa kepelabuhanan mendukung penggabungan pengelolaan dua terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, yakni Jakarta International Container Terminal (JICT) dan Terminal Peti Kemas Koja, guna mendorong terwujudnya pelabuhan pengumpul utama (hub port) di Indonesia.Ketua Bidang Angkutan Kontainer DPP Indonesian Nastional Shipowners' Association (INSA) Asmari Hery mengatakan untuk mewujudkan hub port di Tanjung Priok tidak cukup dengan menggabungkan pengelolaan kedua terminal peti kemas itu, tetapi juga harus didukung dengan standar kecepatan pelayanan bongkar muat sebagaimana dilakukan pelabuhan di Singapura, Malaysia, dan China."Di samping itu, yang menyangkut tarif bongkar muat harus lebih kompetitif dan tidak kaku seperti saat ini supaya bisa merangsang operator kapal ukuran besar untuk singgah," ujarnya kepada Bisnis kemarin.Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro mengatakan sejak 4 tahun lalu pemilik barang menginginkan penggabungan pengelolaan JICT dan TPK Koja supaya mempercepat terwujudnya hub port di Priok.Penggabungan kedua terminal itu akan mengurangi pelarian devisa akibat pengiriman ekspor impor harus transshipment (pindah kapal) di Pelabuhan Singapura ataupun Malaysia.Toto mengatakan akibat pengapalan ekspor impor harus ganti kapal di pelabuhan Singapura dan Malaysia, devisa yang hilang mencapai US$137 juta per tahun dengan asumsi peti kemas 3 juta TEUs."Saat ini memang dermaga keduanya sudah tersambung tetapi masih ada pagar pembatas di antaranya. Ini tinggal menunggu komitmen bisnis antara para pemilik di kedua terminal itu, yakni Hutchison Port Holding dan PT Pelabuhan Indonesia II," ujarnya.John Meredith, Direktur Pelaksana HPH, sebelumnya menyatakan JICT dan Koja harus disatukan agar Indonesia bisa menyaingi pelabuhan di Singapura.Perusahaan yang berbasis di Hong Kong itu saat ini menguasai 51% saham di JICT, sisanya 48,9% dimiliki Pelindo II dan Koperasi Pegawai Maritim 0,1%. Adapun, pembagian keuntungan di TPK Koja adalah 47,88% untuk HPH dan sisanya Pelindo II.Peran BUMNMenteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengatakan pihaknya mempertimbangkan usulan HPH untuk menggabungkan pengelolaan JICT dan TPK Koja. Namun, pihaknya juga memperhatikan usulan agar operator hub port diserahkan kepada BUMN, dalam hal ini Pelindo II."Alhamdulillah kalau JICT dan Koja disinergikan karena kami selalu merekomendasikan supaya Tanjung Priok menjadi lebih baik, tetapi ada juga yang mengatakan Pelindo bisa bekerja sendiri. Itu yang kami lihat ya," ujarnya.Sofyan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menilai realisasi pembangunan hub port bisa ditunda 2-3 tahun mendatang mengingat volume ekspor masih rendah."Peran hub port sangat penting untuk menurunkan biaya ekspor, tetapi saya rasa realisasinya belum mendesak, karena pertumbuhan pengiriman ke luar negeri belum begitu menggembirakan." (k1/22/23) (redaksi@bisnis.co.id)Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar